Renungan 26 Januari 2013

Santo Timotius dan Titus

2Tim 1:1-8 (atau Tit 1:1-6)

Mzm 96:1-2a.2b-3.7-8a.10

Luk 10:1-9

Mintalah pekerja dari yang empunya panenan!


Hari ini kita merayakan pesta St. Timotius dan Titus. Timotius berasal dari keluarga campuran. Ayahnya kafir dan ibunya Yahudi yang bermukim di Lystra. Ia mengikuti Paulus dalam perjalanan misionernya yang pertama dan menjadi pengawal dan pembantunya yang setia. Konon ia menjadi uskup di Efesus. Paulus menulis dua surat yang ditujukan kepadanya. Titus semula adalah orang kafir. Dalam Kisah Para Rasul ia tidak disebut-sebut tetapi di dalam surat-surat Paulus berkali-kali disebut sebagai pembantu yangsetia. Ia menjadi murid Paulus dan dibawa ke Konsili di Yerusalem di mana ia diserahi tugas-tugas penting. Salah satu surat Paulus ditujukan kepadanya. Ia ditunjuk Paulus menjadi uskup di Kreta. Kedua-duanya memangku tugas sebagai gembala. Tuhan melalui Yehezkiel, berkata, “Aku akan memperhatikan domba-dombaKu, mengangkat seorang gembala sebagai pemimpin, dan Aku, Tuhan sendiri menjadi Allah mereka” (Yeh 34:11; 23-24).


Paulus berusaha menjaga relasi baik dengan para mitranya dalam mewartakan Injil. Dari penjara ia mengirim surat kepada Timotius dengan nasihat supaya jangan malu memberi kesaksian tentang Kristus dan ikut menderita karena Injil. Atau kepada Titus, Paulus meminta agar mengatur gereja yang masih muda. Titus diharapkan memilih orang-orang yang dapat diandalkan hidupnya. Ajaran-ajarannya harus dipelihara dan dilanjutkan turun-temurun.


Paulus menulis kepada Timotius dengan jiwa sebagai gembala sejati, dari seorang ayah kepada anaknya yang disayangi. Ia mulai mengucap syukur karena semua rahmat, damai dan anugerah dari Tuhan Yesus Kristus bagi Timotius. Paulus lalu mengingatkan Timotius akan iman Timotius yang tulus. Oleh karena itu ia berharap agar Timotius tetap mengobarkan karunia Allah yang ada di dalam dirinya karena penumpangan tangan atau berkat yang ia telah terima dari Paulus. Allah memberikan bukan roh ketakutan melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Karena kuasa Roh Allah maka Paulus berharap agar selalu ada keberanian untuk bersaksi tentang Tuhan. Hendaknya Timotius berani untuk menderita karena Injil. Paulus tentu berbicara bukan berdasarkan teori tetapi dia sendiri menderita di dalam penjara karena Kristus.


Tuhan Yesus di dalam bacaan injil mengatakan panenan memang banyak tetapi pekerjaNya sedikit. Untuk itu diharapkan untuk meminta dari yang empunya panenan untuk mengirim pekerja-pekerja untuk panenan itu. Kadang kita berpikir ketika mendoakan doa mohon panggilan seolah-olah kita yang membuat orang terpanggil untuk menjadi gembala. Ini sebuah kekeliruan. Tuhan Yesus sendiri mengatakan “pekerja sedikit” maka kita meminta, berdoa kepada Tuhan supaya Ia memberi atau mengutus para pekerjaNya. Tuhan yang punya pekerja dan Dia yang memberi! Bagaimana kita bersikap terhadap para pekerja yang siang malam melayaniNya di dalam Gereja?


Ketika mengutus para muridNya, Yesus juga mengingatkan mereka berbagai hal: mereka akan menderita, mereka perlu hidup sederhana, mereka membawa damai kepada keluarga-keluarga. Kehadiran mereka merupakan tanda bahwa mereka menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini. Para utusan Tuhan memang akan melakukan segala sesuatu bukan atas nama mereka sendiri tetapi atas nama Tuhan. Mereka adalah pekerja-pekerja Tuhan yang siang dan malam akan melayani Tuhan dengan cara mereka sendiri.



Sabda Tuhan pada hari ini mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur atas para gembala yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Entah apa pun mereka dan siapakah mereka bukan urusan kita karena Tuhan yang mengirimnya. Tugas kita adalah berdoa dan mendukung mereka. Gereja Kristus sangat membutuhkan para gembala untuk membawa umat Allah kepada Tuhan! Bagaimana sikap anda terhadap para gembalamu? Apakah anda mendoakan dan mendukung pelayanan mereka ataukah bersungut-sungut melawan mereka?


Doa: Tuhan, berikanlah kami para gembala-gembala yang baik an suci. Amen


PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply