Renungan 6 Februari 2013

Hari Rabu, Pekan Biasa IV
Ibr 12: 4-7.11-15
Mzm 103:1-2.13-14.17-18
Markus 6:1-6

Kecewa dan menolak Yesus

imagePada suatu kesempatan, saya didatangi seorang pemuda yang sedang krisis iman. Kebetulan saya yang membaptisnya maka ia mendatangi saya. Ia mengatakan kepadaku bahwa ia tidak mau menjadi pengikut Kristus lagi. Ia mengembalikan salinan surat baptisnya, dan meminta supaya surat baptisnya dicabut saja dari pencatatannya di Buku Induk Paroki. Dia mau hidup bebas tanpa embel agama apa pun. Saya kaget karena sebelumnya dia adalah seorang aktivis orang muda katolik di Paroki tetapi kenapa ia berubah total dan menolak Tuhan di dalam hidupnya. Saya bertanya kepadanya alasan mengapa ia mau meninggalkan Gereja dan Tuhan Yesus. Ia mengatakan, “Saya sudah berjalan dari gereja ke gereja tetapi tidak menemukan Tuhan. Saya merasa hanya gereja saja tanpa Yesus. Karena itu lebih baik hidup tanpa Tuhan Yesus”. Ia meninggalkan gereja selamanya.

Saya kaget dengan pernyataan anak muda ini. Dia merasa selama menjadi pengikut Kristus, dia hanya di dalam Gereja dan mau mencari Gereja yang  benar. Saya teringat sebuah kisah “ikan kecil” dalam buku Antonny de Mello, SJ dalam bukunya “burung berkicau”. Kisahnya seperti ini: Ada seekor ikan kecil yang sambil berenang menemui seekor ikan yang lebih dewasa. “Anda lebih tua dan lebih berpengalaman daripada saya. Dimanakah saya dapat menemukan laut? Saya sudah mencarinya di mana-mana tetapi sia-sia saja!” “Laut,” kata ikan yang lebih dewasa, “adalah tempat engkau berenang sekarang ini”. “Ha? Ini hanya air saja! Yang kucari adalah laut,” sangka ikan yang muda. Dengan perasaan sangat kecewa ia pergi mencarinya di tempat yang lain.”

Penginjil Markus hari ini mengisahkan Yesus kembali ke Nazareth, di tempat asalnya bersama para muridNya. Sebagai seorang Yahudi dewasa Ia masuk ke dalam rumah ibadat pada hari Sabat dan mengajar. Ia mengajar dengan kuasa dan wibawa membuat jemaat yang besar takjub kepadaNya. Orang-orang yang mengenal Yesus memang takjub tetapi perasaan takjub kepada Yesus hanya sebagai seorang pemuda biasa di Nazareth. Sebenarnya, Yesus sedang tampil sebagai Mesias yang mengajar tetapi orang-orang memandang Dia dari sisi manusiawi saja. Pertanyaan: “Dari mana diperolehNya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepadaNya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian, bagaimana dapat diadakan oleh tanganNya? Bukankah Ia ini tukang kayu anak Maria?” Semua sanak keluarga, saudara-saudara sepupunya mereka kenal. Maka mereka kecewa dan menolak Yesus.

Menarik untuk memahami laporan penginjil Markus ini. Orang-orang saat itu memang takjub tetapi mereka kemudian kecewa dan menolak Yesus karena melihat latar belakangNya: keluarga dan pekerjaan sebagai tukang kayu. Sekarang coba pikirkan relasi pribadi kita dengan pribadi-pribadi yang lain. Banyak kali kita tidak memiliki kemampuan untuk mengapresiasi pelayanan atau karya orang-orang di sekitar kita. Mungkin dalam pikiran kita hanya ada budaya “nerimo” saja dan lupa bersyukur, berterima kasih dan juga memberi pujian kecil kepada mereka. Kita juga melihat dan menilai orang dari latar belakang keluarga dan pekerjaannya dan kita lupa kasihnya yang lebih universal. Kita juga mungkin merasa sudah berada di zona nyaman bersama Yesus dan karena saking nyamannya sampai menolak Yesus secara terang-terangan. Kita hanya merasa seperti ikan kecil yang merasa air laut sebagai air saja. Tak ada pengaruhnya di dalam hidup. Orang-orang Nazareth tidak mengapresiasi Yesus karena sudah mengenalNya. Boleh jadi para pengikut Kristus juga demikian sehingga menolak Yesus.

Yesus berkata, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya”. Ini adalah kalimat kunci dari pembacaan kita hari ini. Perkataan Yesus membuat kita ingat kembali pengalaman nabi Yeremia yang juga ditolak oleh kaum keluarganya (Yer 11:18-23). Yesus memang berkali-kali mengalami penolakan dari keluarga dan masyarakat luas (Mrk 3:21; Yoh 7:3-5).

Pertanyaan mendasar dari perikop kita hari ini adalah tentang iman. Orang-orang Nazareth mengenal Yesus hanya sebagai Yesus sang tukang kayu sehingga mereka menolakNya. Mereka melihat Yesus tetapi tidak mengenalNya sebagai utusan Allah. Mereka juga menolak konsep Mesias yang menderita. Bagi mereka Mesias bukanlah seorang tukang kayu tetapi seorang yang mulia dan jaya. Karena hati mereka yang tertutup maka, Ia pun tidak membuat mukjizat di sana. Ia justru berjalan keliling dari desa ke desa lain sambil mengajar.

Hari ini Tuhan mengajak kita untuk lebih setia lagi kepadaNya. Tidak cukup kita menerima sakramen Pembaptisan, kita harus lebih berusaha untuk mengenalnya lebih dalam, akrab dan bersahabat dengan Dia dalam membaca Kitab Suci dan berdoa. Semoga kita jangan menyerupai ikan kecil yang merasa kog hanya air saja bukan laut. Kog, Gereja katolik hanya begini saja, liturginya hanya begini saja. Di tetangga lebih hijau dan subur sedang di sini hanya padang gurun. Mentalitas ikan kecil ini yang harus kita ubah dengan kesetiaan hidup hari demi hari kepadaNya. Kita boleh kecewa dengan Tuhan tetapi Tuhan tidak pernah mengecewakan kita. Kita oleh menolak Tuhan, tetapi Tuhan sendiri tidak pernah menolak kita.

Doa: Tuhan, semoga kami semakin setia kepadaMu. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply