Renungan 15 Februari 2013

Hari Jumat, Sesudah Rabu Abu

Yes 58:1-9a

Mzm 51:3-6a.18-19

Mat 9:14-15

Seperti Apakah Puasa Orang Katolik?


Beberapa hari terakhir ini saya selalu ditanya oleh umat seperti apakah puasa dan pantang orang katolik? Mengapa kelihatan puasanya orang katolik ringan dibandingkan puasanya saudara-saudara tetangga? Ada juga yang bertanya apakah puasa itu berarti makan kenyang satu kali sehari dan selebihnya tidak makan? Apakah masih bisa minum teh manis, soft drink dan lain-lainnya? Wah pusing dan bingung mau menjawab pertanyaan yang mana duluan. Saya sempat berpikir bahwa satu kelemahan di kalangan umat katolik adalah masih lemahnya katekese. Mungkin saja persiapan untuk menjadi orang katolik belum serius atau hanya sekedar formalitas saja sehingga ajaran-ajaran iman dan hal-hal praktis seperti ini tidak sempat disentuh oleh para pembina katekumen. Memang ada juga masa mistagogi tetapi mungkin sudah tidak menarik lagi karena orangnya sudah punya surat baptis. Ada juga yang berharap agar para pastor bisa menjelaskannya karena pastor itu seperti “ensiklopedi berjalan”.


Berpuasa itu berarti makan kenyang satu kali sehari bagi umat katolik yang berusia 18 tahun sampai awal usia 60 tahun. Jadi kalau orang yang terbiasa makan satu hari tiga kali maka salah satunya makan kenyang dan dua yang lainnya boleh makan dengan porsi yang lebih kecil atau dengan kehendak bebas tidak makan. Pantang itu lebih berhubungan dengan hal-hal yang menyukakan hati kita. Pantang dilakukan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat dalam masa prapaskah sampai dengan hari Jumat. Apa saja yang menjadi pantang bagi orang katolik? Pantang daging, gula, garam, rokok, BBM, SMS, Facebook, Film. Pokoknya hal-hal yang sangat mengikat seseorang sehingga dia bisa lalai dalam hidup. Orang katolik berusia  14 tahun ke atas dianjurkan untuk berpantang. Kita bisa belajar pantang minum teh manis dan diganti dengan aqua. Pantang cemilan-cemilan dan goreng-gorengan. tentu saja faktor usia dan kesehatan juga perlu dipertimbangkan. Gereja katolik sangat fleksibel untuk orang yang sakit.


Nah perhatikanlah kalau misalnya dalam sehari anda biasanya makan dan satu porsinya Rp.25.000. Selama masa puasa dan pantang anda hanya mengeluarkan Rp. 15.000 untuk biaya makan. Maka anda sudah menyisihkan Rp.10.000 yang bisa dijadikan derma. Maka selama masa prapaskah anda bisa berbelarasa dengan saudara-saudara yang miskin dengan berderma sehari Rp.10.000 maka total selama 40 hari menjadi Rp.400.000. Luar biasa kolekte yang bernilai, sebagai bagian dari sikap anda berbagi atau beramal kasih dengan sesama.


Tapi apakah puasa dan pantangnya orang katolik hanya sebatas makan dan minum saja? Nah, banyak orang berpikir seperti ini. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama hari ini, membantu kita untuk memahami makna puasa yang benar. Berpuasa yang dikehendaki Tuhan adalah membangun keadilan dan cinta kasih. Tuhan berfirman, berpuasa yang Kukehendaki adalah: “Engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuku, membagi-bagikan rotimu bagi orang-orang yang lapar dan membawa ke rumah orang-orang yang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.”


Puasa yang benar bagi orang katolik adalah melakukan perbuatan-perbuatan kasih terutama kepada kaum miskin. Siapakah mereka yang miskin? Mereka yang lapar, haus, telanjang, di penjara, sebagai orang asing adalah orang-orang miskin yang harus kita layani (Mat 25: 36-38). Mengapa? Karena segala sesuatu yang kita lakukan terhadap orang-orang-orang yang hina atau kecil kita melakukannya untuk Tuhan Yesus sendiri (Mat 25:40). Maka tepat sekali untuk mengatakan puasa dan pantang bagi kita adalah hidup di hadirat Tuhan hari demi hari selalu berbuat baik, melakukan perbuatan kasih tiada habis-habisnya kepada sesama. Maka kalau kita berpuasa, kita sisihkan beberapa rupiah untuk saudara-saudara yang miskin dari apa yang seharusnya menjadi kebutuhan kita setiap hari. Kita juga dipanggil untuk membebaskan orang-orang yang tertindas. Mereka yang diperlakukan tidak adil itulah yang kita bantu supaya mereka hidup sebagai manusia yang bermartabat. Nah, makna semakin beriman, semakin bersaudara dan semakin berbelarasa ada di sini.


Dalam bacaan Injil Yesus mengajarkan satu makan puasa. Puasa adalah bersukacita, memiliki hati yang riang karena Yesus ada bersama kita. Dia adalah mempelai yang benar yang sedang ada bersama kita dan kita menjadi sahabat-sahabatNya. Dia sendiri berkata: “Kamu adalah sahabatku” (Yoh 15:14). Selagi Yesus bersama dengan kita maka selayaknya kita juga selalu bersukacita. Kita berduka ketika Yesus menderita, sengsara dan wafat bagi kita. Saat itulah kita berpuasa, kita menyesal karena telah berdosa sehingga Yesus menjadi korbannya.


Sabda Tuhan hari ini sangat menguatkan kita. Mari kita memahami makna rohani berpuasa. Kita tidak harus menjadi orang munafik atau suka membandingkan diri dengan saudara tetangga. Puasa bagi kita adalah gerakan hati untuk menyerupai hati Tuhan. Jadi mengikuti Yoel, Puasa adalah “Koyakan hatimu dan jangan pakaianmu”.


Saya akhiri  renungan hai ini dengan mengutip perkataan St. Leo Agung: “Berpuasa tidak hanya berarti mengurangi makan, melainkan memberantas semua kebiasaan jahat kita”. Apakah kita bisa memiliki komitmen seperti ini?


Doa: Tuhan, bantulah saya untuk memberantas kebiasaan jahat di dalah hidup ini. Amen


PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply