Homili Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga – 2013

Hari Raya Assumption Bunda Maria

Why 11:19a; 12:1-6a.10ab

Mzm 45:10bc.11.12ab.16

1Kor 15:20-26

Luk 1:39-56

Per Mariam Ad Iesum

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus. Pada Hari ini kita memasuki Hari Minggu Biasa ke XIX tahun C. Gereja Katolik di Indonesia merayakannya sebagai Hari Raya Bunda Maria diangkat ke Surga. Hari Raya ini sebenarnya dirayakan pada tanggal 15 Agustus mendatang tetapi bersama seluruh Gereja lokal, kita mengantisipasinya supaya dapat membantu pertumbuhan iman umat. Kita semua tahu bahwa Gereja Katolik memiliki devosi yang besar kepada Bunda Maria. Maria disapa sebagai Bunda yang rasanya sangat akrab. Dari semua orang kudus, Marialah yang paling akrab dan bersahabat dengan umat Katolik, dan berlaku untuk semua usia. Itu sebabnya sejak dahulu sudah ada ajaran dari para Bapa Gereja bahwa

Bunda Maria itu diangkat ke Surga. Sebagai contoh, pada tahun 300, Pseudo-Melito sudah menulis tentang Bunda Maria diangkat ke Surga seperti ini: “Yesus Putera Allah telah mengatasi maut, telah bangkit dengan mulia maka Engkau Yesus seharusnya mengangkat tubuh bundaMu dengan sukacita ke surga. Yesus menjawab: Terjadilah menurut perkataanmu”. Pada tahun 400 Yohanes Sang Teolog menulis: “Tuhan berkata kepada IbuNya: “Biarlah hatimu bersuka dan bergembira. Sebab setiap rahmat dan karunia telah diberikan kepadamu dari BapaKu di Surga dan dariKu dan dari Roh Kudus. Setiap jiwa yang memanggil namamu tidak akan dipermalukan, tetapi akan menemukan belaskasihan dan ketenangan, sekarang dan selamanya di Surga. Dari saat itu semua mengetahui bahwa tubuh yang tak bercacat dan berharga telah dipindahkan ke Surga”.

Pada tanggal 8 Desember 1854 Dogma Bunda Maria dikandung tanpa noda disahkan oleh Paus Pius IX. Paus Pius IX dalam Ineffabilis Deus mengatakan: “Perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa dan oleh pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala dosa asal”. Para Bapa Gereja yang memberi sumbangan pemikiran tentang Bunda Maria Immaculata adalah St. Ambrosius (wafat 397), St. Efrem (wafat 373), St. Andreas dari Crete (wafat 740), St. Yohanes Damaskus (wafat 749). Mereka semua merenungkan Maria sebagai Bunda, disposisinya yang penuh rahmat dan tanpa noda dosa. Dogma Maria dikandung tanpa noda dosa ini menjadi dasar pemikiran lebih lanjut bahwa tidak mungkin tubuh Bunda Maria hancur. Kehancuran tubuh secara fisik itu akibat dosa. Maka kiranya ada kaitan antara Dogma Bunda Maria diangkat ke Surga.

Dogma tentang Bunda Maria diangkat ke Surga yang ditetapkan oleh Paus Pius XII pada tanggal 1 November 1950. Munculnya Dogma ini tentu mendapat tantangan yang besar dari dalam dan luar Gereja Katolik. Kita semua tahu bahwa ajaran iman katolik memang tidak semata-mata berasal dari Kitab Suci, tetapi juga berdasarkan tradisi yang diwariskan secara turun temurun di dalam Gereja. Misalnya melalui tulisan para Bapa Gereja yang kebanyakan mengakui kekudusan Bunda Maria dan mengakui bahwa Yesus Kristus pasti memberikan tempat istimewa bagi Bunda Maria. Paus Pius XII dalam Munificentissimus Deus mengatakan bahwa Bunda Maria memiliki andil yang besar dalam sejarah keselamatan. St.Paulus sendiri menggarisbawahi peran Maria dengan menulis, “Setelah genap waktunya” (Gal 4:4). Artinya Allah menyempurnakan waktu dan memilih Bunda Maria sebagai Ibu bagi sang Penyelamat dalam peristiwa Inkarnasi. Bunda Maria sudah disucikan oleh Allah sendiri untuk melahirkan Yesus Kristus puteranya. Dia dikandung tanpa noda dosa maka tentu Tuhan Allah juga tidak akan menghancurkan tubuh Maria dan terurai menjadi debu.

Bunyi dogma Munificentissimus Deus tentang Bunda Maria diangkat ke Surga adalah: “Dengan kuasa Tuhan Yesus Kristus, dan yang terberkati Rasul Petrus dan Paulus, dan kuasa kami sendiri, kami mengumumkan, menyatakan dan mendefinisikan sebagai sebuah dogma yang diwahyukan Allah: Bahwa Bunda Tuhan yang tak bernoda, Perawan Maria yang tetap perawan, setelah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, diangkat tubuh dan jiwanya ke dalam kemulaan surgawi” (MD,44). Ini adalah Magisterium dari Bapa Suci dan harus diterima oleh seluruh Gereja Katolik. Selanjutnya Dogma ini dirayakan dalam liturgi sebagai sebuah Hari Raya yang setara dengan hari Minggu seperti hari ini.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengarahkan kita semua kepada figur Bunda Maria yang suci dan tak bernoda. Tuhan memilihnya untuk menjadi ibu Yesus Penebus kita dengan mengutus Malaikat Gabriel. Maria terkejut tetapi Tuhan tetap meyakinkannya sehingga ia juga mentaati kehendak Tuhan melalui Malaikat Gabriel dengan mengatakan, “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanMu.” Perkataan Bunda Maria ini menjadi tanda kesanggupan dan ketaatan Bunda Maria kepada Tuhan. Untuk mewujudkan kehendak Allah maka Maria bersedia untuk melayani. Ia membawa Yesus dalam kandungannya untuk bertemu dengan Elizabeth saudaranya yang saat itu juga sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Perjumpaan Maria dan Elizabeth, Yesus dan Yohanes Pembaptis membawa sukacita yang besar dalam Roh Kudus.

Maria yang penuh dengan Roh Kudus itu bersukacita dan memuliakan Allah karena segala karya agung yang dilakukan di dalam dirinya. Sukacita Maria ini terungkap dalam Magnificat. Allah sungguh memperhatikan kerendahan dirinya sebagai seorang abdi. Dengan demikian semua generasi akan menyebutnya berbahagia karena karya agung Allah di dalam dirinya. Maria juga menyebut identitas Anak yang ada di dalam rahimnya. Dia akan disebut Kudus, selalu menganugerahkan rahmatNya bagi orang yang takut kepadaNya. Ia juga mengangkat orang yang hina dina dan memisahkan orang yang hatinya congkak dan sombong. Bunda Maria memuliakan Tuhan dengan jiwanya, dengan hatinya yang tak bernoda.

Penulis Kitab Wahyu yakni Yohanes dalam bacaan pertama memiliki satu penglihatan yang indah. Ada tanda dari langit di mana seorang perempuan berselubungkan Matahari dan bulan di bawah kakinya. Ada juga sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Perempuan itu sedang siap untuk melahirkan tetapi pada saat yang sama ia berhadapan dengan naga merah padam, berkepala tujuh, bertanduk sepuluh dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota yang juga siap untuk menelan anak yang akan dilahirkan. Perempuan yang berselubungkan matahari itu akhirnya melahirkan  seorang anak laki-laki yang nantinya menjadi gembala bagi segala bangsa dengan gada besi. Ada juga suara nyaring dari langit: “Sekarang telah tiba keselamatan, kuasa dan pemerintahan Allah kita! Sekarang telah tiba kekuasaan Dia yang diurapi Allah!”

Santu Paulus di dalam bacaan kedua mengatakan bahwa Kristus yang dilahirkan oleh Bunda Maria adalah buah sulung. Dia telah lahir ke dunia dari rahim Bunda Maria, menderita, sengsara dan wafat, tetapi Dia juga dibangkitkan dari antara orang mati sebagai yang sulung dari orang-orang yang sudah meninggal. Ketika Adam jatuh dalam dosa, semua orang mati dalam persekutuan dengannya, tetapi dengan kebangkitan Kristus, semua orang juga ikut dibangkitkan atau dihidupkan  dalam persekutuan dengan Kristus. Maut adalah musuh terakhir yang ditaklukan oleh Kristus.

Sabda Tuhan pada hari Minggu ini menghadirkan figur Bunda Maria. Mengimani Yesus Kristus tidak terlepas dari figur Maria sebagai Ibu. Yesus adalah Penebus kita. Maria yang dikandung tanpa noda adalah Co-Redemptrix (Pendamping Penebus dosa). Kita mengenal sebuah kalimat “Ad Iesum per Mariam”. Maksudnya adalah kita dapat akrab, bersahabat, mengimani dan bersatu dengan Yesus melalui Bunda Maria. Yohanes Paulus II, ketika terpilih menjadi Paus, ia memilih moto kepausannya: “Totus tuus Maria” dengan sumber inspirasinya dari St. Luis de Monfort. Bunda Maria selalu menjadi inspirasi kekudusan bagi kita semua. Bagaimana devosimu kepada Bunda Maria.

Doa: Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu, terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amen.
PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply