Homili 27 Desember 2013

St. Yohanes, Rasul dan Penginjil

1Yoh 1:1-4

Mzm 97:1-2.5-6.11-12

Yoh 20:2-8

 

Melihat dan Percaya

 

 

Fr. JohnHari ini seluruh Gereja merayakan Pesta St. Yohanes Rasul dan Penginjil. Yohanes adalah Putera Zebedeus dan Salome. Saudaranya bernama Yakobus. Kedua saudara ini dikenal dengan sebutan khas “Boanerges” (Mrk 3:17) atau “anak-anak guruh”. Profesi mereka sebelum mengikuti Yesus adalah sebagai nelayan dan murid Yohanes Pembaptis. Hingga pada suatu kesempatan ia dipanggil bersama Andreas dan Petrus oleh Yesus. Yohanes merupakan salah satu rasul inti bersama Petrus dan Yakobus yang selalu hadir pada peristiwa-peristiwa penting dalam hidup Yesus: Ketika Yesus membangkitkan puteri Yairus (Mrk 5:37); Yesus menampakan kemuliaanNya (Mat 17:1); Peristiwa Getzemani (Mat 26:37). Bersama Petrus diutus Yesus untuk mendahului mereka menyiapkan perjamuan malam terakhir (Luk 22:8).  Pada malam itu, Ia meletakkan kepalanya di dada Yesus dan bertanya perihal siapakah pengkhianat itu. Yohanes dikenal sebagai rasul cinta kasih. Ia bersaksi bahwa Allah adalah kasih (1Yoh 4:8.16). Segalanya adalah kasih!

Sambil merayakan pestanya kita pertama-tama diarahkan oleh Gereja untuk mengerti bahwa mengenang dan merayakan Natal itu identik dengan mengenang Kalvary. Peristiwa Bethlehem identik dengan Peristiwa Kalvari. Ada sukacita dalam dukacita. Kemarin tanggal 26 Desember kita memperingati St. Stefanus martir pertama. Ia mencintai Yesus dengan cara menumpahkan darahnya. Hari ini kita memperingati kemartiran Yohanes yang hidup sebagai orang yang murni hatinya di hadapan Tuhan. Kemurnian adalah kemartiran cinta kasih. Besok 28 Desember kita memperingati para kanak-kanak suci yang dibunuh Herodes. Mereka memuliakan Tuhan bukan dengan suara tetapi dengan menumpahkan darah untuk Tuhan Yesus.

Bacaan-bacaan suci hari ini menggambarkan kehidupan Yohanes sebagai pilihan Tuhan untuk menjadi rasul inti dan “Murid yang dikasihi Yesus”. Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar bagaimana Maria Magdalena memberi kesaksian tentang Makam Kosong. Dua orang disebut di sini: Petrus dan Murid yang dikasihi Yesus yang tidak lain adalah Yohanes. Diceritakan bahwa setelah mendengar bahwa Yesus bangkit, kedua rasul ini berlari menuju ke kubur Yesus. Murid yang dikasihi berlari dengan cepat dan sampai di kubur ia hanya menengok ke dalam kubur tetapi tidak masuk. Petrus yang datang kemudian masuk dan melihat tanda-tanda kebangkitan Yesus. Murid yang datang duluan, masuk ke dalam kubur dan percaya.

Tentu saja kisah Injil ini tidak berbicara tentang siapa yang muda dan tua dari segi cepat lambatnya. Penginjil Yohanes sedang menjelaskan tentang kharisma dan kuasa leadership di dalam Gereja katolik. Yohanes adalah toko kharismatik dalam komunitasnya. Kharisma biasanya bergerak lebih cepat karena merupakan karya Roh. Saya sendiri yakin bahwa  Yohanes sudah tahu Yesus bangkit! Ini soal kedekatan hati antara Yesus dan Yohanes. Maka ketika ada berita kebangkitan Yesus, Yohanes lebih cepat sampai ke kubur Yesus. Tentu bukan secara fisik tapi dalam pikirannya. Petrus adalah pemimpin komunitas, wadas bagi Gereja. Sebagai hirarki dia masuk dan melihat setelah itu Yohanes toko kharismatis ini mewakili gereja,masuk, melihat dan percaya.

Apa artinya ini? Banyak kejadian di dalam Gereja kadang dialami oleh orang tertentu tetapi sulit diakui oleh pihak hirarki. Pihak Hirarki meneliti, mempelajari secara mendalam lalu mengambil keputusan dalam kebenaran Injil. Jadi hirarki tidak sembarangan memutuskan perkara iman atau kejadian tertentu yang berhubungan dengan iman untuk mencegah  hal-hal yang tidak diinginkan di dalam Gereja, misalnya ajaran sesat. Kadang orang tertentu memaksa diri dengan mengaku punya penglihatan dan bisa juga menggiring banyak orang ke jalan yang sesat. Orang-orang seperti ini bisa jatuh dalam kesombongan rohani. Mereka berpikir lebih dari Tuhan. Mereka-mereka ini akan menjelek-jelekkan para pastor dan uskupnya bahwa mereka tidak beriman sehingga tidak mengakui kharisma yang mereka miliki.

Yohanes menunjukkan kerendahan hati. Ia memiliki kharisma khusus tetapi mempercayakannya pada Petrus sebagai pemimpinnya untuk masuk ke dalam kubur, ia masuk kemudian dan percaya. Yohanes tidak menyesal, dia justru kuat karena kehadiran Petrus sebagai pimpinan komunitas Gereja perdana.

Dalam bacaan pertama, Yohanes sebagai saksi mata terkenal memberi kesaksian imannya. Ia menulis, “Saudara-saudara, apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar dan kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan telah kami raba dengan tangan kami yakni Firman Hidup, itulah yang kami tuliskan kepadamu”. Iman para rasul diwariskan kepada kita dan kita doakan dalam doa Aku Percaya. Kita percaya Yesus karena para rasul adalah saksi mata: yang mereka lihat, dengar dan menyentuh itu sungguh-sungguh hidup. Kesaksian hidup menjadi semakin kuat dari rasul Yohanes ketika ia mengatakan tentang hidup kekal dan bahwa sebagai rasul ia ada bersama dengan Tuhan.

Pengakuan iman rasuli seperti ini amatlah penting. Para rasul mewariskan secara turun temurun iman mereka hingga saat ini. Kita patut bersyukur kepada Tuhan atas iman rasuli ini. Pertanyaan bagi kita adalah apakah kita menghormati para pemimpin gereja kita? Para imam, Uskup dan Paus adalah pemimpin dan pilihan Tuhan untuk melayani Gereja sebagai umat Allah. Maka hargailah para pemimpin gerejamu yang mewariskan tradisi suci para rasul. Apakah anda mengasihi Tuhan seperti diteladani Yohanes Penginjil? Ingatlah bahwa Kharisma itu sangat kuat karena berasal dari Roh Allah!

Doa: Tuhan, semoga kami juga menjadi murid yang Engkau kasihi. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply