Homili 29 Juli 2014

St. Marta
Ams 31: 10-13.19-20.30-31
Mzm 14: 1-3b.4ab.5
Luk 10:38-42

Wanita itu Lebih berharga dari Permata!

PejeSDBPada hari ini seluruh Gereja Katolik merayakan peringatan St. Marta. Di dalam Injil Marta dikenal sebagai saudara dari Lazarus dan Maria. Nama Marta berarti “Sang pemilik rumah”. Rumah mereka berada di Betania, 2 mill jauhnya ke kota Yerusalem. Rumah ini menjadi tempat persinggahan Yesus bersama para muridNya setelah lelah melakukan kerasulan. Marta biasanya menerima mereka dengan sukacita dan penuh pelayanan di rumahnya itu. Ia dikenal sebagai wanita yang sibuk melayani dan menyenangkan Yesus dan para murid sebagai tamunya.

Ada tiga episode kehidupan Marta yang dikisahkan di dalam Injil. Semuanya sangat inspiratif bagi kita karena menggambarkan pribadi seorang wanita yang jauh lebih berharga dari permata.

Episode pertama, ketika Yesus dan para murid melakukan perjalanan, mereka singgah di rumah Marta (Luk 10:38-42). Pada waktu itu Marta digambarkan oleh penginjil Lukas sebagai orang yang sibuk melayani. Marta memiliki saudari bernama Maria yang duduk dan mendengar setiap perkataan Yesus. Marta lalu mengatakan kepada Yesus supaya membiarkan Maria ikut melayani. Reaksi Yesus nampak dalam perkataanNya: “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang dibutuhkan. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Luk 10:41-42).

Di dalam hidup berkeluarga, banyak hal yang perlu dikerjakan. Misalnya membersihkan rumah, menyiapkan makanan, mengasuh anak-anak. Ketika seorang sudah sibuk dengan kegiatan-kegiatan ini maka mudah sekali orang itu lupa untuk mendengar orang lain. Ini boleh jadi merupakan suatu kelemahan manusiawi. Maka bisa dibayangkan, anda boleh melakukan banyak hal tetapi kalau tidak ada kesempatan untuk mendengar Tuhan di dalam hidupmu maka sia-sia juga pekerjaanmu itu. Marta adalah tipe manusia yang bekerja dengan cemas sehingga tidak memiliki waktu untuk mendengar Yesus. Yesus membawa damai ke dunia maka ketika orang tidak punya waktu untuk mendengar Yesus maka dengan sendirinya ia juga tidak merasa damai di dalam hatinya. Itu juga yang terjadi dalam hidup kita. Banyak kali kita sibuk melayani dengan penuh semangat sehingga membuat diri kita menjadi kosong di rumah dan dalam masyarakat. Yesus justru menghendaki agar kita menjumpaiNya dalam hidup yang konkret.

Kadang-kadang di dalam hidup doa kita juga diliputi dengan kegelisahan seperti Marta. Kita perlu jujur di hadirat Tuhan bahwa banyak kali kita berdoa, mengikuti misa dengan tergesa-gesa karena urusan dan tugas lain sedang menunggu. Kita menggunakan kata-kata doa yang menggambarkan kecemasan kita kepada Tuhan, padahal Tuhan jauh lebih agung daripada setiap persoalan yang mencemaskan hidup kita. Doa berarti mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan. Oleh karena itu dalam situasi apa saja kita bisa bersatu dengan Tuhan tanpa perlu hiasan berupa kecemasan hidup.

Maria menunjukkan sikap sebagai seorang murid. Ia duduk di dekat kaki Yesus dan mendengar semua pengajaran Yesus. Yesus sang Sabda sungguh menjadi manusia dan hadir juga dalam hidup manusia. Maria memilih yang terbaik bukan sekedar hadir di hadirat Yesus tetapi sungguh-sungguh menggunakan kesempatan untuk bersama Yesus. Yesus menjadi miliknya dan Maria menjadi milik Yesus. Sikap Maria inilah yang seharusnya dialami dan dirasakan oleh setiap pengikut Kristus.

Episode kedua, ketika Lazarus wafat dan dibangkitkan oleh Yesus (Yoh 11:1-44). Marta adalah pemilik rumah sehingga ia pergi dan menjumpai Yesus. Ketika melihat Yesus Marta berkata: “Seandainya Engkau ada di sini, pasti saudaraku tidak akan mati. Tetapi aku tahu bahwa apa saja yang Engkau minta kepada Allah akan diberikan kepadaMu oleh Allah.” (Yoh 11:20-22). Yesus berkata: “Saudaramu akan bangkit lagi.” (Yoh 11:23). Sebagai orang Yahudi tulen Marta percaya akan kebangkitan maka ia menjawab: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada hari kebangkitan di akhirat.” (Yoh 11:24). Melihat iman Marta, Yesus dengan tegas berkata: “Akulah kebangkitan dan hidup, barangsiapa percaya kepadaKu, sekali pun ia mati, akan hidup. Barangsiapa hidup dalam iman kepadaKu tidak pernah akan mati. Percayakah kamu akan hal ini?” (Yoh 11:25-26). Marta mengakui imannya dengan berkata: “Benar Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Putra Allah yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 11:27). Dialog antara Yesus dan Marta ini merupakan pengajaran yang tertua bagi para katekumen sebelum dibaptis sebagai pengikut Kristus dan juga dalam ibadat pemakaman jenazah karena menggambarkan harapan Krististiani.

Episode ketiga, perjamuan di Betania. Dalam perjamuan ini Maria melayani meja sedangkan Maria meminyaki kaki Yesus. Ini juga menjadi prefigurasi perjamuan malam terakhir dan Ekaristi Kudus yang hingga saat ini kita rayakan bersama di dalam Gereja (Mat 26: 6-13; Mrk 14:3-9; Yoh 12:1-8). Ketiga episode ini menggambarkan Marta sebagai wanita pekerja dan pemilik serta penjaga rumah sedangkan Maria sebagai toko kontemplatif. Aspek kerja dan doa menopang kekudusan kita.

Marta dan Maria selalu bersatu meskipun berbeda dalam semangat. Kedua bersaudara ini merupakan model kekudusan bagi kita semua. Penulis Kitab Amsal menganggap mereka sebagai perempuan yang berwatak luhur dan lebih berharga daripada permata. (Ams 31:10). Kehebatan seorang wanita oleh Kitab Amsal digambarkan sebagai pribadi yang membawa hal-hal yang baik bagi suaminya, memiliki keterampilan tertentu dalam hubungan dengan pekerjaan manual seperti memintal, rela membantu kaum papa miskin, bijaksana dan dipuji karena pekerjaan-pekerjaannya. Kebajikan-kebajikan inilah yang perlu dimiliki oleh setiap wanita. Kebajikan-kebajikan ini membawanya kepada kekudusan.

Persoalan umum dalam hubungan dengan penghargaan terhadap martabat wanita. Banyak anggapan bahwa hanya pria yang menindas wanita tetapi ada juga wanita yang menindas sesama wanita lainnya. Pikirkanlah pembantu rumah yang mengalami trauma karena kekerasan verbal dan fisik dari nyonya rumah! St. Marta hanya cemas, tetapi nyonya rumah zaman ini lebih cemas sehingga bertindak tidak menusiawi terhadap sesama wanita. Semoga St. Marta menginspirasikan banyak wanita untuk bertobat dan menjadi kudus.

Semoga St. Marta menginspirasikan banyak wanita untuk menjadi kudus.

Doa: St. Marta, doakanlah kami untuk setia dalam pelayanan kami. Amen

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply