Homili 13 November 2015

Hari Jumat, Pekan Biasa XXXII
Keb. 13:1-9
Mzm. 19:2-3,4-5
Luk. 17:26-37

Langit Menceritakan Kemuliaan Allah

imagePada suatu kesempatan saya menemukan sebuah lukisan langit yang indah di dalam sebuah buku di perpustakaan. Bagiku, ini adalah sebuah lukisan langit yang indah karena dihiasi oleh gemerlapan bulan dan bintang. Pada lukisan ini terdapat tulisan berbunyi: “Langit menceritakan kemuliaan Allah” (Mzm 19:2a). Pikiran saya lalu mengarah ke pada suasana di kampung halamanku, di mana pada malam hari langitnya masih tapak bersih dan dihiasi oleh cahaya bulan dan bintang. Pada malam hari saya masih bisa menyaksikan hamparan langit di atas lautan yang indah. Semua ini menunjukkan kemuliaan Allah sang pencipta. St. Yohanes Bosco pernah menceritakan pengalaman rohaninya seperti ini. Pada suatu malam ibunya bernama Margaretha Occhiena memanggilnya keluar rumah. Sambil memandang ladang mereka, Margaretha mengajak Yohanes untuk memandang langit biru yang dihiasi bulan dan bintang. Ia berkata: “Perhatikanlah bulan dan bintang di langit. Tuhan telah menjadikannya begitu indah dan teratur. Tentu saja Tuhan yang menciptakan pasti baik adanya dan suka mengasihi.” Yohanes Bosco tetap mengingat cerita masa kecilnya ini dan membagikannya kepada anak-anak di oratoriumnya.

Raja Daud dalam Kitab Mazmur memuji Tuhan karena karya-Nya yang besar bagi manusia. Ia berkata: “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan karya tangan-Nya; hari yang satu mengisahkan kepada hari yang lain, dan malam yang satu menyampaikan pengetahuannya kepada malam berikut.” (Mzm 19:2-3). Perkataan Raja Daud ini mau mengungkapkan jati diri Allah sebagai satu-satunya pencipta yang teratur. Kemuliaan-Nya terukir begitu sempurna dan teratur dalam ciptaan-Nya. Ketika memandang langit dan bumi serta isinya, kita bisa mengerti betapa mulia dan sempurnanya Tuhan kita.

Masalahnya adalah apakah manusia bijaksana sehingga bisa mengimani Allah sang pencipta segala sesuatu secara teratur? Ada banyak orang terbuka hatinya kepada Allah dan percaya bahwa Dia adalah satu-satunya pencipta semesta alam. Ada juga yang sulit sekali untuk membuka diri dan percaya bahwa Allah adalah pencipta semesta alam yang penuh keteraturan. Allah adalah seorang designer yang hebat, yang membuat segala sesuatu menjadi indah, teratur dan baik adanya. Dalam Kitab Kebijaksanaan, kita mendengar kritikan tajam terhadap orang yang terlampau mengandalkan dirinya di hadapan Allah. Inilah kritikannya: “Sungguh tolol karena kodratnya semua orang yang tidak mengenal Allah sama sekali; dan mereka tidak mampu mengenal Dia yang ada dari barang-barang yang kelihatan, dan walaupun berhadapan dengan pekerjaan-Nya mereka tidak mengenal Senimannya.” (Keb 13:1). Kita menjumpai banyak orang yang menutup dirinya kepada Tuhan dan tidak mengenal Tuhan di dalam hidup mereka.

Banyak kali kita menjumpai orang-orang yang mengakui dirinya beragama katolik tetapi hidupnya tidak Kristiani. Orang-orang seperti ini hanya bisa beragama tetapi tidak beriman. Mereka boleh menyaksikan alam semesta dan isinya tetapi tidak mengenal Allah sebagai Bapa yang mahabaik dan Pencipta segala sesuatu. Mungkin anda dan saya juga adalah salah satu dari mereka. Kalau saja hidup kita seperti ini maka, Tuhan juga akan mengatakan kepada kita: “tolol karena tidak mengenal-Nya”. Tidak hanya sikap masa bodoh terhadap Tuhan, banyak orang juga menjerumuskan dirinya kepada kebiasaan penyembahan berhala. Mereka mengganggap sebagai allah yang menguasai jagat raya ialah api atau angin ataupun udara kencang, lagi pula lingkaran bintang-bintang atau air yang bergelora ataupun penerang-penerang yang ada di langit. (Keb 13:2). Orang mengaku dirinya beragama tetapi belum beriman karena masih menyembah berhala.

Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan sebagai ciptaan Tuhan di hadirat-Nya? Penulis Kitab Kebijaksanaan berkata: “Jika dengan menikmati keindahannya mereka sampai menganggapnya allah, maka seharusnya mereka mengerti betapa lebih mulianya Penguasa kesemuanya itu. Sebab Bapa dari keindahan itulah yang menciptakannya.” (Keb 13:3). Tuhan adalah designer yang hebat. Dialah Allah yang menguasai segala sesuatu. Segala ciptaan di atas bumi memancarkan kasih-Nya yang luar biasa. Menurut Kitab Kebijaksanaan, orang dapat mengenal Khalik dengan membanding-bandingkan kebesaran dan keindahan ciptaan-ciptaan-Nya. Artinya sambil memandang segala ciptaan, kita mengenal dan memuliakan sang Pencipta, si jenius yang merancang semuanya dengan teratur dan indah.

Ada orang beriman yang senantiasa mencari Allah dan berusaha untuk menemukan-Nya. Mereka sibuk dengan pekerjaan-Nya dan menyelidikinya, dan mereka terharu oleh yang mereka lihat, sebab memang indahlah hal-hal yang kelihatan itu. Namun demikian orang seperti ini tidak dapat dimaafkan. Orang yang bijaksana itu terbuka hatinya kepada Tuhan dan senantiasa memuliakan Tuhan.

Dalam bacaan Injil Tuhan Yesus menggambarkan kepada kita suasana akhir zaman di mana Anak manusia akan menyatakan diri. Ada gambaran hidup lama dan hidup baru yang selalu dialami manusia. Hidup lama seorang manusia diisi dengan hidup penuh pesta pora dan kemabukan pada masa sebelum Nuh. Namun ada generasi baru yang muncul yakni Nuh dan penghuni bahteranya. Mereka adalah gambaran generasi baru yang merasakan keselamatan. Generasi baru muncul setelah Lot meninggalkan Sodom. Hujan api dan belerang dari langit membinasakan mereka semua. Jadi ada hidup lama yang penuh dengan dosa dan hidup baru dalam Kristus.

Tuhan Yesus lalu memberi jalan bagaimana orang bisa merasakan keselamatan. Manusia harus selalu siap untuk merasakan penebusan yang berlimpah dari Tuhan. Sikap selalu siap sedia untuk menantikan kedatangan Tuhan harus dimiliki oleh setiap orang. Orang yang selalu siap menanti kedatangan Tuhan adalah ia yang dengan bangga mengimani Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan indah dan teratur. Apakah anda percaya kepada Allah pencipta langit dan bumi?

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply