Homili 25 April 2016 – St. Markus, Penginjil

Pesta St. Markus
1Ptr 5: 5b-14
Mzm 89:2-3.6-7.16-17
Mrk 16:15-20

Tuhan turut bekerja!

imageSt. Markus, Penginjil, dikenal sebagai kemenakan dari Barnabas (Kol 4:10). Ia menjadi rekan kerja Barnabas dan Paulus dalam perjalanan misioner untuk menginjili bangsa-bangsa lain. Namun sebelum perjalanan misioner berakhir, ia sudah kembali ke Yerusalem sendirian (Kis 13:13). Kemungkinan besar ia sempat berselisih paham dengan Paulus. Namun dikemudian hari Paulus dan Markus dapat mengatasi perselisihan mereka. Buktinya adalah ketika Paulus sedang berada di dalam penjara di Roma, ia menulis surat seraya memohon supaya Markus datang untuk menolong dan menghiburnya (2Tim 4:11). Markus juga menjadi murid kesayangan Petrus, sehingga ia disapa “anakku” (1Ptr 5:13). Dikisahkan bahwa Markus ditahbiskan sebagai uskup dan diutus ke Alexandria di Mesir. Ia mempertobatkan banyak orang di sana. Ia juga tekun mewartakan kasih bagi Tuhan Yesus dan gereja-Nya. Namun demikian ia mengalami banyak penderitaan yang datang silih berganti sebelum ia wafat. Relikinya dibawa ke Venezia, Italia untuk dihormati. Ia juga diangkat sebagai santo pelindung kota Venezia, Italia.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini membantu kita semua untuk memahami tugas dan tanggungjawab St. Markus sebagai penginjil. Markus mengisahkan bahwa sebelumnya pada murid Yesus tidak percaya bahwa Ia akan wafat dan bangkit dari alam maut. Namun ketika Yesus Kristus bangkit dan menampakkan diri-Nya kepada mereka semua, maka ketidakpercayaan mereka itu terhapus juga. Mereka semua justru dimampukan Yesus Kristus untuk menjadi pewarta Injil kepada semua makhluk. Di sini muncullah universalitas perutusan: Khabar Sukacita diperuntukan bagi semua makhluk karena semuanya diciptakan baik adanya dan diwartakan oleh manusia yang diciptakan sesuai dengan Citra Allah sendiri. Para murid Tuhan diperintahkan untuk pergi (poreuesthai) dan mewartakan (keryssein). Di sini muncul dua kata kunci dalam kehidupan misioner yakni pergilah, bereksodus dan wartakanlah bukan hanya dengan kata-kata melainkan dengan hidup yang nyata.

Untuk menjadi pewarta yang baik perlu iman kepada Tuhan. Kita tidak bisa mewartakan apa yang kita tidak yakin dan percaya. Mungkin ada orang yang pernah mewartakan sesuatu yang tidak mereka percaya maka hasilnya juga nihil. Kita semua sudah menerima sakramen pembaptisan dan melalui sakramen inisiasi ini kita menjadi orang beriman kepada Yesus Kristus. Konsekuensi dari sakramen pembaptisan adalah adanya keselamatan eskatologis. Karena itu Yesus berkata: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mrk 16:16).

Semua karya Yesus diwarnai oleh perbuatan-perbuatan ajaib sebagai tanda keselamatan. Para rasul juga akan mengalami hal yang sama. Mereka akan merasakan sendiri tanda-tanda dalam kerasulan mereka terhadap orang percaya, misalnya: mereka mengusir setan-setan dalam nama Yesus, mampu berbicara dalam bahasa-bahasa baru, memegang ular, tidak akan celaka ketika meminum racun, memberkati orang sakit dan mereka akan sembuh. Singkatnya, ada lima tanda yang menyertai mereka: eksorsisme, glossolalia (kemampuan berbahasa baru), perlindungan dari ular dan racun maut dan penyembuhan.

Para Rasul melakukan amanat penting dari Yesus kepada semua makluk. Satu hal yang penting adalah Tuhan tidak berhenti menyertai mereka semua. Ia turut bekerja dengan menyertai mereka dan meneguhkan mereka dengan tanda-tanda keselamatan. Markus sebagai penginjil tertua membantu kita untuk menyadari bahwa Tuhan sungguh baik dan besar kasih setianya. Ia menghendaki supaya semua orang memperoleh keselamatan.

Apa yang harus kita lakukan sebagai murid-murid Tuhan masa kini? St. Petrus yang mengakui Markus sebagai anaknya mengatakan kepada kita kiat-kiat untuk menjadi murid yang baik: pertama-tama kita harus menjadi pribadi yang rendah hati sebab Allah sendiri menentang orang yang congkak tetapi mengasihi orang yang rendah hati. Orang yang bisa rendah hati akan layak di mata Tuhan. Kedua, Kerendahan hati menjadi indah ketika orang bisa berpasrah kepada Tuhan. Petrus berkata: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1Ptr 5:7). Ketiga, membangun sikap berjaga-jaga terhadap iblis sebagai sumber kejahatan. sikap berjaga-jaga menjadi kuat karena iman yang teguh.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia ikut terlibat, turut bekerja dalam hidup dan karya kita. St. Petrus berkata: “Dan Allah sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi kamu, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Dialah yang empunya kuasa sampai selama-lamanya! Amin” (IPtr 5:10-11).

St. Markus, doakanlah kami.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply