Homili 1 Agustus 2017

Hari Selasa, Pekan Biasa ke-XVII
Kel. 33:7-11; 34:5b-9,28
Mzm. 103:6-13
Mat. 13:36-43

Mengalami kasih dan kerahiman Allah

St. Yohanes Paulus II pernah menulis dalam Dives in Misericordia seperti ini: “Kitab Suci Perjanjian Lama senantiasa menyampaikan syukur dan kemuliaan atas belas kasih, setiap kali belas kasih itu dinyatakan dalam kehidupan umat maupun kehidupan setiap individu” (DM.4). Perkataan orang kudus modern ini bukan tanpa alasan. Kalau kita membaca Kitab Suci mulai dari Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Wahyu maka kita akan mengenal nama Allah kita yakni Kerahiman. Allah yang kita imani adalah Allah yang maharahim, penuh dengan belas kasih kepada manusia yang berdosa. Dia tidak pernah menghitung-hitung kesalahan dan dosa manusia, namun Ia melihat iman dan kepercayaan manusia kepada-Nya.

Pada hari ini kita mendengar kelanjutan pengalaman akan Allah dalam diri Musa. Dikisahkan bahwa Musa mengambil sebuah kemah dan membentangkan jauh dari perkemahan dan menamakannya Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan merupakan tempat pertemuan rutin antara manusia dan Tuhan. Bani Israel sangat segan dengan Musa, terutama setelah mereka menyembah berhala kepada patung anak lembu emas buatan tangan mereka. Musa menggiling patung itu, mencampurinya dengan air dan memberikan kepada mereka untuk meminumnya. Musa lalu kembali kepada Tuhan untuk memohon pengampunan bagi Bani Israel yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Apa yang dilakukan Bani Israel kepada Musa? Mereka senantiasa memandangnya ketika ia memasuki Kemah Pertemuan. Lebih lagi ketika Musa berada di dalam kemah itu, ada tiang awan yang berhenti di pintu kemah. Bani Israel bangun dan sujud menyembah kepada Tuhan. Tuhan pun berbicara dengan Musa dengan berhadapan muka seperti orang yang berbicara dengan temannya. Di sini kita melihat dalam diri Musa, kemampuannya untuk berusaha supaya tetap bersatu dengan Tuhan. Seorang leader yang tidak hanya berbicara tentang kerahiman Allah tetapi menunjukkan wajah kerahiman Allah kepada orang lain. Bani Israel juga sadar diri bahwa Tuhan senantiasa hadir di tengah-tengah mereka. Buktinya adalah adanya tiang awan di dekat pintu kemah dan bahwa Tuhan sendiri hadir dan berbicara dengan Musa.

Musa mendapat kesempata untuk berjumpa lagi dengan Tuhan di puncak gunung Sinai. Di sana Ia berpuasa selama empat puluh hari dan empat puluh malam. Ketika itu Musa berseru kepada Tuhan yang sedang lewat di depannya: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.” (Kel 34:6-7). Di sini Musa membantu kita untuk mengenal Allah kita sebagai kerahiman. Ini adalah jati diri Allah yang kita imani bersama.

Musa juga menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Tuhan dengan berlutut sambil berdoa: “Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami; sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa kami; ambillah kami menjadi milik-Mu.” Kel 34:49). Musa adalah seorang leader yang sangat berempati dengan sesamanya. Sekalipun mereka jatuh ke dalam dosa menyembah berhala namun Musa tetap berada di tempat terdepan untuk memohon kasih dan kerahiman Allah bagi mereka.

Pengalaman akan Allah dalam diri Musa, Yosua dan juga bani Israel memang luar biasa. Ada pengalaman jatuh dan bangun, berhasil dan gagal. Di saat-saat seperti ini kehadiran Tuhan memang sangatlah diandalkan. Memang sebagaimana diakui juga oleh Pemazmur: “Tuhan itu pengasih dan penyayang” (Mzm 103:8a). Benar, “Tuhan kita adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak terus menerus Ia murka, dan tidak untuk selama-lamanya ia mendendam” (Mzm 103: 8-9).

Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus memberikan memberikan penjelasan perumaan tentang lalang dan gandum. Yesus memberikan penjelasan setiap figur dalam perumpamaan ini: Anak manusia adalah orang yang menaburkan benih yang baik. Dunia adalah ladang. Anak-anak Kerajaan adalah benih yang baik. Lalang adalah anak-anak si jahat. Iblis adalah musuh yang menaburkan benih lalang. Waktu menuai adalah akhir zaman dan para penuai adalah malaikat Tuhan. Semua figur dalam perumpamaan ini merepesentasi setiap pribadi. Pertanyaan kita adalah di manakah posisi kita masing-masing?

Tuhan ditampilkan sebagai Allah yang Maharahim. Ia akan menunjukkan wajah kerahiman-Nya pada hari pengadilan orang hidup dan mati. Orang yang tidak membuka dirinya untuk bertobat maka mereka memiliki tempat siksaan yang abadi di neraka. Di sana akan ada ratap dan kertak gigi. Pada saat yang sama kerahiman Allah akan melingkupi semua orang yang benar di hadapan Tuhan. Orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa.

Pada hari ini kita mengenal Allah yang Maharahim. Dia adalah Allah yang mahapengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Apakah sifat-sifat Allah yang seperti ini juga merembes masuk dalam hidup kita?

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply