Homili 20 Februari 2026 – Hari Jumat setelah Hari Rabu Abu

Hari Jumat sesudah Rabu Abu
Yes. 58:1-9a
Mzm. 51:3-4,5-6a,18-19
Mat. 9:14-15.

Bukan sekedar Puasa

Saya tertarik dengan pesan Paus Leo ke-XIV pada masa Prapaskah 2026 ini. Dalam pesannya itu beliau mengatakan bahwa masa Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk “menempatkan kembali misteri Allah sebagai pusat kehidupan kita, agar kita dapat menemukan pembaruan dalam iman kita dan menjaga hati kita agar tidak terjerat oleh kecemasan dan gangguan kehidupan sehari-hari. Sekanjutnya, menurut Bapa Suci, ‘Menahan diri dari makanan adalah praktik asketis lama yang esensial dalam perjalanan pertobatan kita. Puasa juga memang tepat karena melibatkan seluruh tubuh kita. Puasa memudahkan kita untuk mengenali apa yang kita ‘rindukan’ dan apa yang kita anggap perlu untuk kelangsungan hidup kita. Puasa dapat membantu kita mengidentifikasi dan mengatur dengan benar ‘keinginan makan’ kita, ‘menjaga rasa lapar dan dahaga kita akan keadilan tetap hidup dan membebaskan kita dari rasa puas diri.’

Pada hari ini kita memasuki hari ketiga dalam masa prapaskah. Apakah kita sudah melakukan perjalanan puasa dan pantang kita dengan baik? Pada tahun ini memang kita melewati masa Prapaskah yang sangat istimewa. Setelah kita merayakan Imlek bersama para saudari dan saudara yang merayakannya, kita lalu memasuki masa Prapaskah sebagai masa puasa dan pantang kita. Hari berikutnya, para saudari dan saudara kaum Muslim memulai masa puasa mereka. Momen seperti ini membantu kita untuk belajar mewujudkan toleransi kita, dan saling mendukung puasa kita masing-masing. Kita sebagai orang Katolik harus belajar untuk melakukan puasa dan pantang kita dengan baik.

Apakah kita memahami Puasa kita dengan baik?

Ada kebijaksanaan yang besar dalam praktik puasa Katolik, meskipun manfaatnya sering terlupakan. Puasa adalah latihan rohani, terutama merupakan tindakan dalam kehidupan batin kita. Puasa yang autentik mendekatkan kita kepada Allah dan membuka hati kita untuk menerima berkat-berkat-Nya yang banyak. Puasa juga merupakan pengingat yang tajam bahwa ada hal-hal yang lebih penting dalam hidup daripada soal makanan. Puasa Katolik yang autentik membantu kita melepaskan diri dari keterikatan pada hal-hal duniawi. Seringkali, keterikatan duniawi inilah yang menghalangi kita untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Puasa juga berfungsi sebagai pengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara, dan karenanya mendorong kita untuk mempertimbangkan kehidupan di luar kematian.

Pada hari ini Tuhan Yesus menyapa kita untuk memahami puasa kita. Ketika murid-murid Yohanes Pembabtis dan kaum Farisi merasa diri mempraktekkan puasa sesuai adat istiadat Yahudi, sedangkan para murid Yesus tidak berpuasa, sehingga sempat menimbulkan pikiran dan perasaan negatif kepada mereka. Tuhan Yesus bereaksi dengan berkata:

“Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa” (Mat. 9:15).

Berpuasa dalam pikiran manusiawi hanya sebatas larangan untuk soal tidak makan makan dan tidak minum. Ini yang selalu menjadi pertanyaan banyak orang katolik. Padahal berpuasa sebenarnya adalah menata diri untik selalu bersukacita bersama Kristus. Tinggal dan akrab dengan Kristus dalam doa dan merenungkan sabda-Nya adalah sukacita istimewa dan ini adalah keindahan puasa kita. Dan puasa semakin sempurna ketika kita berempati dengan penderitaan Kristus bersama sesama yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Mereka adalah Kristus yang menderita masa kini.

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama juga mengingatkan kita tentang makna puasa yang benar. Bagi nabi Yesaya, pada waktu berpuasa itu orang masih sibuk dengan urusan pribadi, dan mendesak semua pekerja yang sedang bekerja bersama kita. Orang berpuasa sambil berbantah-bantah, dan berkelahi satu sama lain. Ini bukanlah puasa yang benar. Lalu bagaimana berpuasa yang benar? Tuhan bersabda melalui nabi Yesaya:

“Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7).

Puasa sebagai perbuatan kasih ini akan menjadi laksana terang yang menerangi kehidupan orang lain. Tuhan sendiri akan menjawab ketika kita memanggil namanya.

Sesungguhnya kita berpuasa dengan berbuat baik sehingga membuat orang lain tetap merasa bahagia. Kesadaran yang perlu kita bangun bersama adalah tindakan silih atas dosa tanpa puasa adalah sia-sia saja dan tak berguna sebab dengan berpuasa, kita memuaskan dan menyenangkan hati Tuhan.

Saya mengakhiri homily saya hari ini dengan mengutip perkataan santo Agustinus tentang Puasa. Santo Agustinus berkata:

“Puasa membersihkan jiwa, memurnikan pikiran, menundukkan kedagingan kita kepada roh, membuat kecongkakan hati menjadi rendah hati dan penurut, mengusir hawa nafsu, memadamkan api keinginan yang tidak teratur, dan menyalakan cahaya kesucian yang sejati. Kembalilah ke dalam dirimu sendiri.” Beliau juga berkata: “Puasa dan sedekah adalah ‘dua sayap doa’ yang memungkinkan kita memperoleh kesempatan dan lebih mudah mencapai Tuhan Allah.”

Tuhan memberkati kita semua.

P. John Laba, SDB