Pengalaman gadis ini boleh dikatakan sebagai sebuah pengalaman iman yang sederhana tetapi sangat bermakna. Tuhan memanggil orang untuk mengikutiNya sesuai kehendakNya. Orang-orang pilihanNya pun sederhana, memiliki banyak kelemahan dari pandangan manusiawi. Ia sendiri berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Tuhan juga yang memiliki kehendak untuk menyelamatkan manusia.
Penginjil Matius hari ini mengisahkan kisah Yesus membuat dua mukjizat tertentu. Mukjizat dapat terlaksana Karena iman yang teguh kepada Yesus. Mukjizat pertama: Ada seorang kepala rumah ibadat, datang dan meminta Yesus untuk memberkati anaknya yang barusan meninggal dunia supaya dapat memiliki kembali hidupnya. Yesus melihat imannya dan bersama para muridNya mengikuti kepala rumah ibadat itu ke rumahnya. Sesampai di rumah, suasana perkabungan mulai terasa. Yesus mengatakan kepada orang banyak bahwa anak itu tidak mati. Ia hanya tidur saja. Orang-orang itu menertawakan Yesus. Ia memegang tangan anak itu dan membangunkannya. Anak itu memperoleh hidup kembali. Iman orang tuanya dapat menghidupkan anaknya dari kematian.
Mukjizat kedua yang lebih dahulu terjadi adalah dalam perjalanan Yesus dan para murid ke rumah kepala rumah ibadat, seorang wanita yang memiliki iman yang kuat kepada Yesus berniat menyentuh ujung jubah Tuhan Yesus supaya menjadi sembuh. Wanita itu sudah dua belas tahun lamanya menderita sakit pendarahan. Yesus melihat iman wanita itu dan mengatakan: “Teguhkanlah hatimu, imanmu menyelamatkan dikau.”
Kisah injil ini menarik perhatian kita. Kepala rumah ibadat tidak putus asa untuk menyelamatkan putrinya. Ia percaya bahwa Yesus akan melakukan yang terbaik. Maka dia datang mendekati Yesus dan berbicara terus terang bahwa anaknya sudah mati dan mengharapkan Yesus untuk menghidupkan kembali. Kepala rumah ibadat adalah model orang yang berdoa dan berharap dengan polos dan jujur. Kepolosan didasari oleh iman yang teguh. Imannya kepada Yesus dapat menyelamatkan anaknya. Iman sesama dapat menyelamatkan kita juga. Wanita yang sudah duabelas tahun mengalami pendarahan bagi orang zamannya di sebut aib. Dia tidak malu mendekati Yesus dan hanya menyentuh ujung jubahnya. Kuasa Yesus keluar dan menyembukannya. Ia percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Nah, serahkanlah perkaramu kepada Yesus dan Dia akan menyelesaikannya. St. Petrus berkata: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu”. (1Pt 5:7).
Iman yang kuat membuat Yakub juga menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Ia melakukan perjalanan dari Bersyeba ke Haran. Karena kemalaman maka ia tidur dengan meletakan kepalanya di atas batu. Ia bermimpi memlihat sebuah tangga yang berdiri di bumi dan ujungnya ada di langit. Ada malaikat Tuhan yang naik dan turun tangga tersebut. Tuhan Allah pun berdiri di sampingnya dan bersabda: “Akulah Tuhan, Allah Abraham nenek moyangmu dan Allah Ishak”. Setelah memperkenalkan diriNya, Ia pun berjanji kepada Yakub untuk memberikan tanah kepada keturunannya, keturunannya juga banyak seperti debu, seluruh bumi akan mendapat berkat dari keturunan Yakub. Tuhan juga berjanji untuk menyertai, melindungi dan membawa kembali ke negerinya. Pengalaman iman ini membuat Yakub berkata: “Sesunggunya Tuhan ada di tempat ini dan aku tidak tahu. Alangkah dashyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga”.
Sabda Tuhan pada hari ini mau mengingatkan kita untuk mengatakan seperti Pemazmur: “Allahku, padamulah aku percaya”. Dua mujizat yang dilakukan Yesus dalam bacaan Injil pada hari ini yakni membangkitkan anak perempuan kepala rumah ibadat, menyembuhkan wanita yang duabelas tahun mengalami sakit pendarahan dan juga pengalaman Yakub tentang tangga, menunjukkan betapa pentingnya iman kepada Tuhan. Iman pribadi dan iman sesama dapat menyelamatkan diri kita. Pertanyaan bagi kita adalah apakah kita sungguh-sungguh beriman? Apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan? Iman yang teguh dapat menyelamatkan diri kita dan sesama.



