Homili 15 Januari 2025

Hari Rabu, Pekan Biasa I
Ibr. 2:14-18
Mzm. 105:1-2, 3-4, 6-7, 8-9
Mrk. 1:29-39

Merasul seperti Yesus

Kita semua sering mendengar dan mengucapkan kata ‘rasul’ dan bentukan katanya masing-masing. Dalam Bahasa Inggris kita menggunakan kata ‘apostle’ yang berarti “utusan,”. Kata Apostle ini tentu merujuk pada kedua belas saksi yang dipilih dan diutus oleh Tuhan Yesus untuk memberitakan Injil-Nya (Luk.13 ). Kata apostle yang kita kenal ini berasal dari bahasa Latin ‘apostolus’, dan sebenarnya kata aslinya dari bahasa Yunani ‘apostolos’ yang berarti “utusan”. Secara harafiah kata apostolos berarti “orang yang diutus,”. Kata Apostolos berasal dari kata apostellein yang berarti “mengutus”. Kata ini juga terdiri dari dua kata yakni kata ‘apo’ yang berarti “pergi, menjauh dari” dan ‘stellein’ yang berarti “mengutus”. Selain pemahaman kata secara etimologis ini, kita semua juga mengenal kata ‘merasul’ yang berarti melaksanakan semua pekerjaan atau tindakan dari para rasul khususnya para rasul Yesus Kristus. Mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan Yesus Kristus di dunia ini dan dilanjutkan oleh setiap pribadi sampai saat ini. Kita juga mengenal kata ‘kerasulan’ yang merupakan sifat dan martabat yang berkaitan erat dengan “rasul” atau utusan. Maka kerasulan selalu dipahami dalam usaha untuk mewartakan Injil dan menyucikan umat manusia.

Pertanyaan bagi kita adalah apakah Tuhan Yesus adalah Rasul dari Allah Bapa di surga? Kita semua percaya bahwa Yesua adalah Putra Allah. Dia adalah utusan Bapa ke dalam dunia untuk menebus dosa-dosa kita. Sebabb itu dikatakan bahwa Yesus adalah Rasul, Utusan dari Allah Bapa. Penulis surat kepada umat Ibrani menulis: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka. Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?” (Ibr 1:1-5). Tuhan Yesus bertindak sebagai Rasul Bapa bagi kita. Yesus Sang Putra “diutus” oleh Bapa untuk memperkenalkan Bapa di surga dan menebus dosa-dosa kita. Tuhan Yesus nantinya memilih dan mengutus dua belas rasul-Nya dan saat ini kita adalah rasul-rasul masa kini yang melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan.

Tuhan Yesus memulai karya kerasulan-Nya di Galilea dan sekitarnya. Ia mewartakan Injil dengan mengajar banyak orang. Ia menunjukkan kuasa dan wibawa ajaran-Nya melebihi para rabi pada masa hidup-Nya. Tuhan Yesus juga menjadi tabib yang luar biasa. Ia menyembuhkan orang yang mengalami sakit secara fisik dan mental. Mereka yang sakit demam seperti mertuanya Simon Petrus, wanita yang sakit pendarahan, orang kusta, orang buta, orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain (Mat 15:30). Tuhan Yesus juga menyembuhkan mereka yang sakit secara mental dengan mengusir setan-setan. Tentu saja orang yang meninggal juga dibangkitkan oleh Yesus. Penginjil Markus dengan jelas menulis: “Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.” (Mrk 1:34).

Kerasulan Yesus yang selalu berkeliling dan berbuat baik ini membuat Simon Petrus bernai berkata: “Semua orang mencari Engkau.” (Mrk 1:37). Orang banyak berbondong-bonding mengikuti Yesus dan ingin merasakan penyembuhan yang ajaib dari Yesus sendiri. Tuhan Yesus tidak terus melanjutkan kerasulan-Nya. Ia berkata: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.” (Mrk 1:34-35).

Mari kita memandang Yesus dan menjadi rasul masa kini yang terbaik. Kita melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan Yesus, bukan pekerjaan-pekerjaan kita. Dalam merasul kita membawa semua orang yang mencari Yesus kepada Yesus bukan kepada diri kita. Yang paling benar adalah ‘semua orang mencari Yesus’ bukan ‘semua orang mencari anda sebagai manusia biasa’. Kita gagal merasul kalau orang datang kepada kita dan mengagumi kita tetapi tidak mengagumi Yesus. Yesus harus menjadi segalanya!

P. John Laba, SDB