Homili 28 Februari 2025

Hari Jumat, Pekan Biasa ke VII/C
Sir. 6:5-17
Mzm. 119:12,16,18,27,34,35
Mrk. 10:1-12

Sahabat Sejati dan Setia

Kita semua mengenal dan mewujudkan kata sahabat di dalam hidup kita setiap hari. Sahabat adalah orang yang menerima diri kita apa adanya, tanpa menghakimi atau menilai sesuai keinginan pribadinya. Sahabat (friends) merupakan kumpulan pribadi-pribadi yang terlibat di dalam kebersamaan, saling mendukung, dan memiliki keakraban satu sama lain.

Tuhan Yesus sebagai Anak Allah membangun persahabatan dengan para murid-Nya selama tiga tahun. Dia memanggil Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes yang pada saat itu masih berprofesi sebagai penjala ikan di Pantai danau Galilea, dan menjadikan mereka sebagai penjala manusia. Para murid Yesus yang lain juga dipanggil dalam situasi hidupnya yang nyata dan mereka semua menjadi rasul atau utusan-Nya. Inilah cara Tuhan Yesus membangun persahabatan sejati dan setia bersama para murid-Nya. Dalam perjamuan malam terakhir Tuhan Yesus mengingatkan para murid-Nya: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu” (Yoh 15:14). Tuhan Yesus sebagai Anak Allah memanggil manusia, anda dan saya sebagai sahabat-sahabat-Nya. Hanya saja mengapa kita begitu sulit untuk menjadi sahabat dan membangun sebuah persahabatan sejati dan setia?

Sabda Tuhan pada hari ini membantu kita untuk membangun serta menata sebuah persahabatan sejati dan setia sebab sahabat sejati itu tentu saja setia dan tiada ternilai. Kitab Putra Sirak mengingatkan kita untuk bertutur kata dengan baik dan mampu menilai relasi antar pribadi supaya dapat membangun persahabatan sejati, seperti dikatakan di sini: “Tenggorokan yang manis mendapat banyak sahabat, dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut” (Sir 6:5).

Bagaimana mewujudkan persahabtan sejati dan setia berdasarkan tutur kata yang baik ini?

Kitab Putra Sirak memberikan nasihat-nasihat yang indah bagi kita semua. Beberapa nasihat yang bisa kita hayati dalam hidup kita misalnya, ketika kita bertutur kata dengan baik maka tentu saja ada damai dalam hidup bersama. Untuk mendapat seorang sahabat sejati dan setia maka perlu kemampuan untuk mengujinya dan jangan mudah percaya padanya. Mengapa demikian? Sebab menurut Kitab Putra Sirak: “Sebab ada orang yang bersahabat hanya menurut ketikanya sendiri, tetapi pada hari kesukaranmu tidak bertahan. Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh, lalu menceritakan persengketaan untuk menistakan dikau” (Sir 6:8-9).

Situasi lain dalam persahabatan adalah bisa saja ada seseorang yang selalu makan bersama kita tetapi cepat menjauh dari kita ketika kita mengalami kemalangan tertentu. Ketika kita bahagia, memiliki segalanya dia atau mereka begitu dekat dengan kita tetapi ketika kita tidak punya apa-apa maka mudah sekali kita ditinggalkan. Masih banyak kaum oportunis di sekitar kita. Sebab itulah kita diingatkan untuk pandai menilai sebuah persahabatan. Kita perlu melibatkan Tuhan dalam persahabatan manusiawi kita karena Tuhan sendiri menyapa kita sebagai sahabat-Nya. Di dalam Kitab Putra Sirak juga dikatakan bahwa sahabat yang setia itu laksana obat kehidupan dan hanya orang yang sungguh percaya kepada Tuhan akan memperolehnya. Maka sebuah persahabat yang sejati dan setia berdasar pada iman kepada Tuhan.

Persahabatan yang setia dan sejati menjadi nyata dalam relasi perkawinan. Penginjil Markus menekankan nilai persahabatan sejati dalam relasi suami dan istri. Ada fenomena perceraian yang marak pada zama Yesus hingga saat ini. Orang-orang menistakan persekutuan yang Tuhan kehendaki karena ketegaran hati, keegoisan pribadi sehingga mengorbankan pasangan hidupnya. Padahal perceraian bukan segalanya karenda juga bukan yang dikehendaki oleh Tuhan. Rencana Tuhan adalaha: “Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mrk 10: 6-10). Persahabatan sejati dan setia dengan Tuhan akan membuka jalan untuk membanun persahabatan sejati dan setia sebagai sesame manusia.

Apa yang harus kita lakukan?

Kedua bacaan dalam liturgi kita hari ini sungguh membantu kita untuk membangun persahabatan yang sejati dan setia pertama-tama bersama Tuhan. Kalau kita sungguh beriman makan kita bisa bersahabat dengan Tuhan dan tentu saja dengan sesama yang kelihaan di antara kita. Kita diingatkan untuk membangun komunikasi yang sehat melalui persaan dan pikiran. Nasihat yang berharga bagi kita: “Jika engkau mau mendapat sahabat, kajilah dia dahulu, dan jangan segera percaya padanya”. (Sir 6:7). Dalam memilih pasangan hidup hingga menjadi satu daging memang perlu dan harus saling mengenal dan merasakan kesepadanan atau kecocokan. Perceraian bukanlah jalan terakhir, masih ada jalan lain untuk menyelamatkan perkawinan. Matikan kesombongan dan keegoisanmu dan percayalah kepada Tuhan.

P. John Laba, SDB