Hari Senin, Pekan Biasa I
1Sam 1:1-8
Mzm 116:12-13.14.17.18-19
Mrk 1:14-20
Keindahan sebuah panggilan
Pagi ini saya mendengar kembali sebuah lagu yang sudah sangat populer did alam Gereja dari Buku Madah Bakti: “Panggilan Tuhanbagi umat-Nya, di atas bumi ciptaan-Nya…” (MB 456). Kata-katanya sederhana namun memiliki makna yang dalam tentang keindahan panggilan hidup, bukan hanya terbatas pada diri kaum berjubah tetapi juga di dalam diri kaum tak berjubah. Setiap panggilan hidup itu adalah anugerah Tuhan dan indah. Ketika kita berusaha untuk menghayati panggilan itu dengan sadar dan bertanggung jawab maka ‘kebahagiaan’ bukan hanya sebagai sebuah kata saja tetapi menjadi sebuah pengalaman di dalam hidup kita.
Pada hari pertama dalam Masa Biasa liturgi kita ini, perhatian kita tertuju pada panggilan Tuhan dan keindahannya. Penginjil Markus memulai kisah ini denga menceritakan katar belakang historis yang indah. Yohanes Pembaptis adalah Pribadi yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus Kristus. Dia tentu menjadi viral mendahului Yesus karena hidup dan karyanya yang luar biasa. Tuhan Yesus sendiri memuji Yohaes sebagai pria hebat yang dilahirkan wanita, tentu dia tidak melebih Yesus sendiri. Setelah Yohanes ditangkap maka Yesus datang dan menjadikan Galilea sebagai markas untuk mewartakan Injil Allah atau khabar suka cita dari Allah bagi kita semua. Pemberitaan Injil yang pertama adalah: “Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatkah dan percayalah kepada Injil”.
Perkataan Yesus dalam pewartaan-Nya ini memiliki makna dan kekuatan yang luar biasa. Waktunya telah genap mau menekankan bahwa dalam sejarah keselamatan Tuhan memakai manusia yakni para nabi untuk menyiapkan kedatangan Tuhan dan warta keselamatan. Namun waktunya telah tiba, sudah di genapi di mana Tuhan berbicara melalui Yesus Kristus Anak-Nya. Allah Bapa juga menyelamatkan manusia bukan lagi dengan memakai hewan sebagai kurban tetapi Anak-Nya yang tunggal yakni Yesus Krisrus. Yesus sendiri mewartakan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan kerajaan manusiawi tetapi kerajaan penuh kedamaaian dan kasih. Kerjaan itu ada di dalam diri Yesus sendiri. Lalu apa yang harus di lakukan oleh manusia? Manusia perlu bertobat dan percaya kepada Injil sebagai kanar sukacita dari Tuhan.
Tuhan mewartakan Injil Kerajaan Allah. Ia tidak melakukan segalanya sendirian saja. Ia membutuhkan kerja sama dengan manusia. Sebab itu Ia berjalan menyusuri panta danau Galilea dan memanggil para murid perdana yang semuanya adalah nelayan-nelayan sederhana. Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes adalah nelayan sederhana yang mendengar dan merasakan keindahan panggilan Yesus: “Mari, ikutlah Aku dan kalian akan Kujadikan penjala manusia”. Ada transfirmasi radikal yakni mereka berubah menjadi baru, dari penjala ikan menjadi penjala manusia. Sikap yang tepat dalam menjawabi panggilan Tuhan adalah ‘mereka segera meninggalkan jala yakni pekerjaan untuk mendapatkan nafkah hidu, orang tua dan segera mengikuti Yesus dari dekat sampai tuntas.
Apa keindahan panggilan Tuhan?
Tuhan Yesus berjalan, mengenal, menyapa dan menjadikan mereka sebagai penjala manusia. Tuhan Yesus memiliki inisiatif pertama untuk memanggil manusia bukan manusia yang memanggil Tuhan. Tuhan Yesus memanggil dengan nama mereka sendiri. Inilah kerendahan hati Tuhan ketika memanggil manusia. Manusia perlu memiliki seni dalam menjawabi panggilan Tuhan: mereka sibuk tetapi masih siap mendengar, menjawabi panggilan Tuhan dan segera meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus. Kita belajar dan melakukannya di dalam hidup kita.
P. John Laba, SDB