Hari Kamis, Pekan Biasa I
1Sam. 4:1-11
Mzm. 44:10-11,14-15,24-25
Mrk. 1:40-45
Tuhan, semoga engkau menyembuhkanku
Selama lebih kurang dua tahun saya mengalami kesulitan untuk melihat. Saya berusaha memeriksa mata saya di klinik mata dan mendengar pendapat dokter yang sangat variatif: mata saya kabur karena kelelahan akibat memaksa mata di depan laptop dan HP, ada katarak di kedua bola mata, ada kecurigaan bahwa bisa jadi ada tumor di kepala dan yang paling ekstrim adalah ada tanda glucoma karena tekanan bola mata saya saat itu sampai 21. Tentu saja saya berterima kasih kepada para dokter yang sangat concern dengan mata saya. Pasutri muda Fiefie dan Ricco juga sangat concern dengan mata saya maka mereka mengajak saya untuk memeriksa mata saya di Island Hospital, Penang, Malaysia bersama Dokter Andrew. Hasil pemeriksaannya adalah bahwa mata saya kabur karena faktor usia (saat ini 55) maka biji mata saya mudah kering dan mulai ada katarak yang menggangu penglihatan saya. Saya pun diberi obat tetes hialid 0,1 dan siap untuk operasi katarak di sana.
Operasi katarak kedua bola mata saya sudah dilakukan bersama dokter Andrew pada tanggal 4 dan 5 Desember 2025 yang lalu, sekalian memasang lensa progresif di kedua mata sehingga saya berpisah dengan kacamata setelah empat puluh tahun. Pada saat persiapan operasi katarak, saya benar-benar larut dalam doa dan permenungan tentang dialog antara orang buta dan Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas: “Apa yang kamu mau Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, tolonglah supaya saya bisa melihat kembali.” Yesus berkata kepadanya, “Kalau begitu melihatlah! Karena kamu percaya penuh kepada-Ku, sekarang kamu bisa melihat.” (Luk 18: 41-42). Saya percaya dan mengamininya. Operasi berjalan dalam waktu yang sangat singkat pada tanggal 4 dan 5 Desember dan tanggal 6 Desember sore saya diijinkan untuk kembali ke Jakarta dengan Batik Malaysia, selanjutnya pada tanga 7 Desember saya melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Hingga saat ini saya tidak merasa kesulitan apapun pasca operasi katarak. Tuhan sungguh baik bagiku.
Saya menceritakan pengalaman pribadi ini untuk menyadarkan kita tentang pergumulan hidup pribadi kita di hadirat Tuhan. Ketidakmampuan untuk melihat atau katakanlah orang buta pasti mengalami pengalaman yang sama dengan orang kusta tanpa nama di dalam Injil hari ini.
Orang kusta pada zaman Yesus itu tidak dianggap setara dengan manusia yang lain. Kalau berjalan di jalan umum ia harus berpakaian compang camping, rambutnya tidak terurus dan harus berteriak dengan suara lantang bahwa dirinya adalah seorang kusta. Semua orang lari meninggalkan si kusta meskipun selalu mengulangi kata ‘sesama manusia’. Orang kusta dalam Injil hari ini memang agak lain. Ia yang berani dan tanpa merasa malu datang kepada Yesus, berlutut sebagai tanda kerendahan hati dan penyembahannya, lalu meminta untuk disembuhkan. Inilah doa dari si kusta: ‘Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku”.
Reaksi Yesus sungguh luar biasa. Ia memandang si kusta yang dijauhi sesama manusia, hati Yesus pun tergerak oleh belas kasihan, mengulurkan tangan-Nya yang kudus, menjamah orang kusta ini dan berkata kepadanya: ‘Aku mau, jadilah engkau tahir’. Orang kusta yang beriman dan berani memohon pertolongan Tuhan Yesus itu menjadi sembuh seketika. Tuhan Yesus sendiri tidak terjangkit kusta, hanya sesama manusia yang takut terjangkit kusta. Tuhan Yesus tidak sombong karena bisa menyembuhkan si kusta. Ia hanya berkata: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” (Mrk 1:44). Meskipun demikian Yesus tetap diviralkan oleh si kusta sebagai tanda syukur atas kesembuhannya di hadirat Tuhan.
Kisah pengalaman pribadi saya dan kisah si kusta di dalam bacaan Injil hari ini mengingatkan kita semua bahwa sakit penyakit akan dialami oleh semua orang bahkan pengalaman yang tragis pun dapat dialami oleh siapa saja. Orang yang dekat dengan Tuhan seperi imam Eli di Silo dalam bacaan pertama, yang siang dan malam melayani Tuhan saja mengalami peristiwa tragis: Tabut Perjanjian diangkat dari Silo, kedua anak imam Eli yakni Hofni dan Pinehas mati dibunuh dengan tragis di samping para prajurit yang berguguran melawan bangsa Filistin. Saya sebagai seorang imam, yang setiap saat membaktikan diri kepada Tuhan dan sesama juga mengalami pergumulan dalam sakit penyakit tertentu seperti yang dialami si kusta dalam Injil. Hal terbaik adalah percaya kepada Tuhan, tekun dalam doa dan Tuhan akan melakukan yang terbaik di dalam hidup pribadi masing-masing.
Pada akhirnya saya mau mengucapkan rasa terima kasih saya kepada Tuhan Yesus yang menyembuhkan saya melalui para dokter yang luar biasa: Dokter Riky, Dokter Martin, Dokter Yulius dan Dokter Andrew. Terima kasih para saudari dan saudara yang dengan caranya sendiri menolongku para saudari dan saudaraku nun jauh di sana, Fiefie dan Ricco, Iin-Asiong, Hadi Surya, Poppy-Subagio, Ida, Lia, Ricka, Ira, Syeni, Marie, Greece, Monika Susi, keluarga besar kedua kombas Leopold di Lipo dan Citra, mas Bro Hadinata seorang boss yang setia menjadi driver dan kedua saudaraku P. Anto dan P. Adi di SDB Pontianak dan semua yang namanya tidak saya sebutkan di sini. Kalian semua luar biasa karena memiliki andil besar bagiku untuk melihat kembali. Bless you all.
P. John Laba, SDB