Hari Rabu, Pekan Biasa ke-IV
2Sam. 24:2,9-17
Mzm. 32:1-2,5,6,7
Mrk. 6:1-6
Lectio:
Pada suatu ketika, Yesus tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ia tidak dapat mengadakan satu mujizatpun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka. Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.
Demikianlah Sabda Tuhan
Syukur Kepada Allah
Renungan:
Pernah Kecewa dan Menolak Tuhan!
Apakah anda pernah merasa dan mengalami perasaan kecewa dan menolak Tuhan di dalam hidupmu? Pertanyaan ini memang membutuhkan kejujuran dan ketulusan hati untuk menjawabnya. Mengapa? Karena kita semua tidak pernah lolos dari perasaan dan pengalaman kecewa dan menolak Tuhan dan sesama di sekitar kita. Pikirkanlah, ketika ada sesuatu yang terjadi dan tidak menguntungkan kita maka mudah sekali kita menolak Tuhnan dan sesama di dalam hidup kita. Sebut saja kematian, kegagalan, bahkan ketika merasa sesama ‘lebih’ dari kita maka mudah sekali kita protes kepada Tuhan dan sesama. Itulah realitas hidup kita selagi kita masih bernapas.
Pada hari ini kita mendengar kisah Yesus di dalam Injil Markus yang bagus dan menarik perhatian kita. Setelah Yesus menyembuhkan seorang wanita yang sakit pendarahan dan membangkitkan anak perempuan Yairus, Yesus kembali ke Nazaret bersama murid-murid yang mengikuti-Nya. Ketika itu Yesus sudah berusia tiga puluhan maka pada hari Sabat Ia mengajar di dalam Rumah Ibadat. Ia mengajar dengan kuasa dan wibawa sehingga jemaat yang besar takjub ketika mendengar-Nya. Tentu saja mereka sudah mendengar peristiwa-peristiwa, mukjizat-mukijizat dan perkataan yang diucapkan-Nya di Galilea dan sekitarnya, kini mereka mendengar-Nya secara langsung.
Namun demikian apa reaksi orang-orang tertentu kepada Yesus? Di samping ketakjuban, mereka juga merasa heran karena mereka mengenal Yesus sebagai Yesus saja. Inilah perkataan yang menunjukkan pengenalan Yesus sebagai Yesus saja: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Mrk 6:2-3). Perhatikanlah bahwa mereka mengenal Yesus sebagai Yesus seadanya karena mereka mengenal orang tua-Nya terutama Matria Ibu-Nya dan para para sepupuh laki-laki dan perempuan-Nya. Orang-orang tidak melihat keagungan Tuhan di dalam diri Yesus. Dan yang paling ekstrim adalah mereka kecewa dan menolak Yesus.
Reaksi Yesus terhadap situasi ini adalah Ia tetap berbuat baik. Ia hanya merasa heran atas ketidak percayaan mereka dan mengungkapkan isi hati-Nya: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Mrk 6:4). Ia juga masuh berbuatr baik dengan menyembuhkan beberapa orang sakit dan memberkati mereka. Dia terus berkeliling dan berbuat baik sambil mengajar.
Kisah Injil ini sebenarnya berbicara tentang anda dan saya. Kita semua sudah dibaptis, menjadi orang Kristen yang mengikuti-Nya dari dekat dan bahkan kebih dekat lagi. Kita semua ini adalah warga Nazaret masa kini yang mengenal Yesus di dalam Kitab Suci dan pertumbuhan iman kita. Namun berapa kali kita hanya mengenal Yesus sebagai Yesus saja dan menolak Dia? Kita mengetahui ‘KTP’ atau ‘identitas’ Yesus dan hanya sampai disitu karena ketika kita bergumul dengan hidup kita, dengan mudah kita kecewa dan menolak Dia. Kita harus keluar dari kebiasaan ini mudah kecewa dan menolak Yesus karena pergumulan hidup. Sebaiknya kita memiliki habitus baru untuk semakin mencintai dan mengimani Yesus dalam hidup kita.
P. John Laba, SDB