Perayaan Wajib St. Agata
1Raj. 2:1-4,10-12
MT 1Taw. 29:10,11ab,11d-12a,12bcd
Mrk. 6:7-13
Akhir sebuah Perjalanan
Kita sudah mengakhiri kisah Raja Daud di dalama Kitab kedua Samuel. Mulai hari ini kita membaca Kitab Pertama Raja-Raja, dan diawali dengan kisah akhir hidup Raja Daud. Kejayaan Raja Daud sejak masa mudanya akhirnya perlahan-lahan berakhir. Ia sudah membaktikan dirinya untuk menjadi pemimpin yang melayani Tuhan dan sesama. Ada banyak kelemahan dan lebih banyak kebaikan yang dirasakan oleh umat Tuhan. Hal yang indah adalah di balik kelemahan Daud selalu ada kesadaran untuk berbalik kepada Tuhan atau bermetanoia. Ia tidak tetap bersenang-senang dengan hidup dalam dosa.
Hari ini kita mendengar kisah tentang akhir hidup Raja Daud yang penuh dengan ketenangan. Ia mendenkati anaknya Salomo dan berpesan sebagai seorang ayah yang baik:
“Aku ini akan menempuh jalan segala yang fana, maka kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki” (1Raj 2: 2).
Pesan ini tentu memotivasi Salomo untuk bertumbuh sebagai pria sejati, kesatria. Ia diminta untuk melakukan kewajbannya dengan setia kepada Tuhan dan mematuhi segala perintah Tuhan sebagaimana tertulis dalam hukum Musa. Hanya dengan demikian maka Salomo akan beruntung dalam hidupnya. Selanjutnya Daud meinggal dunia dan tampuk pemerintahan diteruskan oleh Salomo. Kerajaan juga menjadi kokoh.
Raja Dauda adalah pemimpin dan orang tua yang baik. Ia tidak mementingkan dirinya sendiri tetapi tetap mengingat sesaanya. Ia mewariskan kepemimpinan Israel kepada Salomo dengan pesan-pesan kasih yang luar biasa. Paling kurang segala kebaikan yang sudah dirintis dapat diteruskan oleh Salomo dalam relasinya dengan Tuhan dan dalam tugas pelayanannya sebagai Raja. Suksesi itu memang penting dan harus. Suksesi berkelanjutan memang sangat dibutuhkan untuk kebaikan berasama atau bonum Comune.
Tuhan Yesus juga meneruskan suksesi dengan memanggil, memilih dan mengutus para murid-Nya. Mereka diutus dalam semangat comunio, pergi berdua-dua supaya kesasian dan pewartaan mereka menjadi benar. Mereka tidak pergi sendirian. Mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus sehingga Tuhan Yesus sendiri menyertai mereka dengan kuasa atas roh-roh jahat, hidup sederhana, tinggal bersama sambil membawa damai dan penyembuhan. Warta pertobatan dan dekatnya Kerajaan Allah menjadi bagian dari pewartaan mereka.
Apakah perutusan para murid ini berjalan dengan baik-baik saja? Yesus sudah mengetahui semua ini maka Dia menasihati mereka untuk menyiapkan diri ketika menghadapi penolakan. Mereka diminta untuk membebaskan debu dari sepatu mereka sebagai tanda peringatan bagi mereka yang menolak kehadiran mereka sebagai murid Kristus. Hal yang penting dalam suksesi ini adalah para murid melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan Yesus bukan pekerjaannya sendiri. Semangat leadership juga mereka tunjukkan di dalam hidup bersama. Pelayanan mereka diharapkan selamanya seperti yang pernah dilakukan Daud dan Tuhan Yesus sendiri yakni sampai tuntas.
Hari ini kita belajar untuk membaktikan diri sebagai pelayan-pelayan Tuhan sampai tuntas untuk kemuliaan Tuhan. Kalaupun kita mengalami penolakan dalam karya-karya kita, kita mendoakan orang-orang yang menolak kita seperti yang dilakukan santa Agatha. Ketika dia pergi ke penjara seakan-akan ia diundang ke sebuah perjamuan. Ia bahkan berdoa dalam menghadapi sakrtul maut. Maka Tuhan Yesus, Raja Daud dan Santa Agatha mengingatkan kita juga untuk berdoa bahkan di saat-saat akhir hidup kita. Akhir sebuah perjalanan memang harus indah.
P. John Laba, SDB