Siapa yang anda lebih percaya?
Rasa percaya itu mahal, bahkan tidak dapat dibeli dengan mata uang apapun di atas dunia ini. Ketika anda mendapat kepercayaan maka syukurilah karena banyak orang berjuang untuk mendapatkan kepercayaan tetapi sulit mendapatkannya. Banyak orang pernah kehilangan kepercayaan sehingga masa depan mereka menjadi suram bahkan gelap. Hanya saja banyak orang tidak menyadari makna kepercayaan atau trust dalam diri mereka. Kalau orang sadar diri maka mereka akan berusaha untuk menata kembali kepercayaan orang baginya.
Saya sering bertemu dengan pribadi-pribadi yang suka bersyukur atas kepercayaan dalam pekerjaan yang sedang dijalaninya. Mereka selalu menjalankan tugas dengan disiplin diri yang tinggi. Misalnya jadwal kerja harian dimulai jam tujuh pagi. Dia memilih untun datang 15 menit sebelum waktu kerja dimulai. Yang namanya tepat waktu adalah prinsip hidup sedang ‘molor’ waktu adalah memalukan. Sikap hidup atau attitude adalah pedoman terbaik dalam menjalani sebuah kepercayaan.
Saya juga sering merasa heran dan kecewa karena pribadi-pribadi tertentu yang tidak sadar atau dengan sadar menghilangkan kepercayaan orang baginya. Mereka tidak disiplin dalam kerja. Penggunaan waktu adalah alasan klasik misalnya, terlambat karena macet. Waktu kerja akan berkurang. Ada orang yang mudah menyalahgunakan kekuasaannya, etos kerja yang rendah dan hal-hal lainnya yang membuat orang itu kehilangan kepercayaan.
Apa yang harus kita lakukan?
Hal penting yang harus kita lakukan adalah menjaga dan merawat kepercayaan. Banyak kali kita mudah kehilangan kepercayaan dari orang lain karena masalah perilaku kita. Lemahnya disiplin diri, etos kerja yang rendah, tidak tepat waktu, suka protes tapi disiplin kerja rendah. Semua hal yang menjadi noda hitam dalam berelasi sosial. Dengan demikian hilang juga kepercayaan pada diri kita.
Pagi ini seorang sahabat curhat kepada saya. Ia mengatakan: “PJ (maksudnya ‘Pater John’) saya benar-benar kehilangan kepercayaan dengan para karyawan saya. Usaha yang saya rintis di cabang merugi karena ternyata karyawan itu lain di mulut lain kenyataan di tempat kerja. Saya lebih percaya pada anjing peliharaan saya yang begitu setia menemani saya”.
Wah. Saya hanya merasa kaget dan berpikir tentang mahalnya sebuah kepercayaan yang tidak disadari banyak orang. Menyesal kemudian setelah PHK itu tak ada gunanya karena semua teguran lisan dan tertulis sudah diterima karyawan.
Nah, sekarang perhatikan gambar dan tulisan ini:
“Saya rasa mempercayai seekor anjing terasa lebih aman daripada mempercayai kebanyakan orang.”
Peliharan ternyata lebih mudah dipercaya karena ia melindungi tuannya. Namun manusia sebagai sesama kadang menjadi harimau, bukan sebagai anjing yang bersahabat.
Maka menjadi pertanyaan bagi kita saat ini adalah apakah anda dan saya sebagai manusia masih sadar diri untuk menata dan merawat kepercayaan?
P. John Laba, SDB