Betapa berharganya setiap tetes air

Betapa berharganya setiap tetes air

Dalam sebuah perjalanan pastoral di pedalaman, saya pernah menjumpai sekelompok anak muda, remaja dan kaum ibu yang memikul ember atau gentong air yang berisi air untuk keperluan hidup mereka di rumah. Mereka merindukan air bersih di depan rumah mereka namun hanya sebatas keinginan saja. Mereka harus berangkat ke kali di mana ada sungainya untuk mengambil air dan memikulnya sambil mendaki ke rumah mereka masing-masing. Ada yang sudah memiliki kendaraan untuk membawa air itu ketika tiba di jalan raya. Ada yang tetap berjalan kaki hingga tiba di rumahnya masing-masing.

Saya sempat bercakap-cakap dengan mereka ketika berjumpa dengan mereka di pinggi jalan raya. Satu ungkapan hati yang tidak dapat saya lupakan adalah ketika seorang ibu yang sudah disapa oma berkata: “Pastor, setiap kali saya pergi mengambil air di kali selama bertahun-tahun ini, saya selalu bersemangat karena air itu berharga. Ketika memikul gentong yang berisi air di atas kepala saya, saya menyadari bahwa setiap tetes air itu begitu berharga karena setiap tetes itu ada karena pengorbanan diri saya”. Saya sangat terkesan mendengar perkataan ini. Mungkin hanya ibu itu yang masih menyadari bahwa setiap tetes air itu berharga/

Perkataan ini memang sifatnya mengoreksi kita semua. Banyak di antara kita memiliki mental coca cola alias bermental instan. Kita hanya membuka kran air maka kebutuhan akan air terselesaikan. Kita mudah mengeluh ketika ada masalah air di PAM. Kita marah dan menghitung besranya uang yang sudah kita bayar selama ini untuk PAM. Kita memang mudah lupa dengan pengorbanan banyak orang untuk mendapatkan air bersih dari saudara-saudari kita di pedalaman. Ada orang yang hanya memiliki air selokan yang kotor namun masih dipakai untuk keperluan MCK (Mandi, Cuci, Kakus), sementara mereka harus mengeluarlkan biaya yang besar untuk membeli air di galon. Ada orang yang masih menggunakan sejenis bambu untuk mengambil air di kali, memikulnya dengan berjalan hati-hati supaya airnya tidak tumpah. Itulah penderitaan saudara-saudara di tempat yang sulit memiliki air bersih

Mentalitas coca cola memang kita perlu tinggalkan. Pola hidup gampang hanya akan menghancurkan diri kita dan relasi dengan sesama kita. Banyak kali kita tidak sadar dalam menggunakan setiap tetes air. Sebagai contoh, ada kebiasaan yang keliru yakni ketika sambil kita menggosok gigi, kran tetapi dibuka dan air tetap mengalir. Kita lupa akan merekan yang kesulitan untuk mendapatkan air bersih di tempat-tempat lain. Kita seharusnya menyadari seperti seorang ibu yang sudah puluhan tahun mengambil air di Sungai dan ia merasa bahwa setiap tetes air santa beharga.

Sekarang mari kita memperhatikan gambar dan tulisan singkat ini:

“Setelah anda sendiri dapat memikul air minummu sendiri, anda akan mengerti betapa berharganya nilai setiap tetes air itu”

Perkataan ini sangatlah inspiratif. Kita memang mudah lupa bahwa setiap tetes air yang terbuang begitu saja ternyata sangat berharga. Kita permu memiliki mental untuk menjaga air yang sedang kita pakai. Jangan lupa untuk menghemat air karena setiap tetesnya sangat bernilai.

Salam dan berkat Tuhan,

PJ-SDB