Homili 19 Februari 2026 – Hari Kamis setelah Rabu Abu

Hari Kamis sesudah Rabu Abu
Ul. 30:15-20
Mzm. 1:1-2,3,4,6
Luk. 9:22-25

Siap menghadapi penderitaan

Kita semua mengenal santo Yohanes Bosco atau Santo Don Bosco. Beliau adalah seorang imam Diosesan dari Keuskupan Turin, Italia yang sangat mencintai kaum muda. Dia mendirikan Kongregasi Salesian Don Bosco yang saat ini merupakan sebuah Kongregasi besar dengan jumlah anggota 14.614 konfrater. Beliau juga mendirikan Kongregasi para suster Salesian (FMA), Salesian Koperator (SC) sebagai Ordo Ketiga dan para devosan kepada Bunda Maria (ADMA).  Pada tanggal 5 Juni 1841, beliau ditahbiskan sebagai imam. Ibunya bernama Margareta Occhiena sangat bergembira menyaksikan hari bahagia anaknya ini. Ketika Yohanes Bosco merayakan misa perdananya, ibundanya yang sekarang bergelar ‘venerabile’ ini mengatakan kepada Don Bosco anaknya:

“Merayakan misa berarti siap untuk mulai menderita”.

Yohanes Bosco memutuskan untuk mengajar dan membantu kaum muda. Pada masa itu, Margaret merasa hidupnya tenang sebagai seorang nenek bagi anak-anal di oratorium. Perkataan ibunda Don Bosco ini sangat bermakna sepanjang hidup Don Bosco. Ia merasakan sukacita sebagai imam bagi kaum muda pada zamannya, namun ia juga mengalami penderitaan sebagai imam dan rasul kaum muda.

Kita semua sedang berada di hari kedua masa Prapaskah atau masa Retret Agung kita. Dan di awal masa prapaskah ini, kita semua diajak oleh Tuhan Yesus untuk menjadi pengikut-Nya yang setia. Kita mengakui diri kita sebagai orang Kristen, pengikut Kristus, maka seharusnya kita menjadi serupa dengan-Nya dalam segala hal. Pada hari ini Tuhan menyapa kita semua dengan sharing-Nya:

“Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:22).

Tuhan Yesus mengalami penderitaan, penolakan, kematian dan berbuah pada kebangkitan-Nya. Orang-orang yang melakukannya kepada Yesus adalah orang-oramg yang dekat dengan Yesus. Mungkun saja ada yang melihat Yesus melakukan Tanda dan Sabda. Mungkin juga mereka yang sudah mengalami penyembuhan dari Yesus. Pengalaman penderitaan Tuhan Yesus ini, menjadi pengalaman keseharian kita saat ini. Kita semua tidak akan lepas dari penderitaan, penolakan bahkan mengalami pembunuhan fisik dan pembunuhan karakter. Semua ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang dekat dengan kita seperti pasangan hidup yang melakukan kekerasan fisik dan kekerasan verbal, anak-anak yang mengalami penolakn dari orang tuanya. Tentu saja masih banyak bentuk penderitaan yang kita alami langsung atau tidak langsung.

Apa yang Tuhan Yesus kehendaki dari kita?

Kita semua diingatkan untuk tetap mengikuti jejak-Nya. Inilah kehendak dari Tuhan Yesus:

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, akan menyelamatkannya.” (Luk 9:23-24).

Di sini kita melihat bahwa pemuridan sejati sepanjang zaman adalah ketika kita mampu menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus dari dekat. Kita mengingat perkataan lain dari Tuhan Yesus tentang penderitaan dan kesaksian hidup kita di atas Bukit Sabda Bahagia:

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat 5:10-12).

Ketika kita setia mengikuti Tuhan Yesus dari dekat maka perkataan Tuhan Yesus ini juga menjadi kekuatan kita:

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Luk 9:25).

Apakah kita siap untuk menghadapi penderitaan?

Kalau kita menyadari diri sebagai pengikut Kristus sejati maka kita harus berani mengatakan bahwa kita siap untuk mengikuti jejak Kristus dalam situasi hidup kita yang nyata. Saya meminjam wejangan Musa kepada Bangsa Israel di seberang Sungai Yordan begini:

“Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya” (Ul 30:15-16).

Tuhan sangat mengasihi kita maka kita setia kepada-Nya, menderita bahkan kemartiran sekalipun hanya bagi Tuhan. Ini adalah wujud nyata pembaptisan kita untuk mengikuti jejak Kristus.

Pada hari ini kita belajar untuk siap menghadapi penderitaan dalam berbagai bentuknya masa kini. Kita semua mengalami berbagai penderitaan fisik berupa sakit penyakit, berbagai kekerasan fisik dan lainnya. Kita menjadi korban ketidakadilan sosial masa kini. Tentu saja semua ini kita alami dan kita serahkan kepada Tuhan. Dialah yang akan memampukan dan menyelamatkan kita.

P. John Laba, SDB