Homili Hari Senin, 23 Februari 2026 – Senin I Prapaskah

Hari Senin Pekan I Prapaskah
St. Polikarpus
Im. 19:1-2,11-18
Mzm. 19:8,9,10,15
Mat. 25:31-46.

Adilkah aku saat ini?

Pada hari ini kita mengenang kembali santo Polikarpus. Siapakah Santo Polikarpus itu? Polikarpus adalah seorang uskup gereja mula-mula, murid dari rasul Yohanes, sezaman dengan santu Ignatius, dan guru santu Ireneus. Menurut Ireneus, Polikarpus “diajar oleh para rasul, dan terhubung dengan banyak orang yang telah melihat Kristus.” Ia hidup pada paruh kedua abad pertama hingga pertengahan abad kedua.

Dari banyak hal yang diungkapkannya, saya memilih dua ungkapannya yang membantu permenungan kita hari ini: Pertama, ketika sedang mengalami penderitaan, Polikarpus mengakui imannya: “Selama delapan puluh enam tahun aku telah melayani Kristus, dan Dia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana mungkin aku menghujat Raja-ku yang telah menyelamatkanku?….Aku memuji-Mu karena telah menganggapku layak untuk hari dan jam ini, sehingga aku dapat berada di antara para martir-Mu dan meminum cawan Tuhan Yesus Kristus”. Kedua, “Sekarang kiranya Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, dan Imam Agung yang kekal sendiri yakni Yesus Kristus Putra Allah, membangunkan kalian dalam iman dan kebenaran, dalam segala kelembutan, dalam kebebasan dari amarah, dalam kesabaran, keteguhan hati, ketekunan, dan kemurnian”.

Sambil mengenang santo Polikarous, pada hari ini Tuhan juga melawat kita dan mengingatkan kita tentang pengadilan terakhir yang akan kita alami dan faktor penentu utamanya. Penginjil Matius dalam Injil hari ini, bercerita tentang wejangan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya tentang hari penghakiman atau hari pengadilan terakhir. Tuhan Yesus sebagai Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan-Nya, dengan ditemani oleh para malaikat. Dia sendiri akan bertakhta di atas takhta kemuliaan-Nya. Bangsa-bangsa akan dikumpulkan-Nya untuk diadili. Orang-orang benar diumpamakan sebagai domba dan akan dikumpulkan di sebelah kanan, sedangkan orang-orang jahat akan dikumpulkan di sebelah kiri. Orang-orang yang dikumpulkan disebelah kanan akan mendapat perlakuan istimewa dengan menerima berkat dari Bapa di Sorga dan Kerajaan yang telah disediakan sejak penciptaan dunia bagi mereka.

Mengapa orang-orang yang dikumpulkan di sebelah kanan diperlakukan istimewa? Karena mereka sudah melakukan perbuatan kasih kepada sesama yang sangat membutuhkan. Mereka adalah orang yang lapar, haus, telanjang, tuna wisma, pasien yang sakit dan warga binaan di lapas. Tuhan Yesus sang Anak manusia dan Raja dari segala raja berkata kepada mereka di sebelah kanan ini:

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

Bagaimana dengan mereka yang berada di sebelah kiri? Orang-orang yang dikumpulkan di sebelah kiri menutup mata dan hatinya kepada orang-orang yang lapar, haus, telanjang, tuna wisma, pasien yang sakit dan warga binaan di lapas. Mereka tidak melakukan perbuatan kasih meskipun mereka juga mengalami kasih Tuhan. Kepada mereka, Tuhan Yesus sang Raja dari segala raja berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (Mat 25:45).

Apa yang menarik dari kisah pengadilan atau penghakiman terakhir ini? Tuhan Yesus mengidentifikasi dirinya sebagai orang lapar, haus, telanjang, tuna wisma, pasien yang opname dan warga binaan di lapas. Padahal Ia sendiri adalah Raja yang datang dalam kemuliaan, bertakhta di dalam Takhta suci-Nya dikelilingi para malaikat. Benar sekali perkataan santo Paulus ini:

“Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:7-8).

Yesus melakukan semua ini karena Dia adalalah kasih (1Yoh 4:8.16) dan kasih-Nya berlimpah bagi kita semua.

Kita perlu mengingat bahwa Tuhan Allah akan mengadili kita bukan berdasarkan banyaknya dosa yang kita sudah lakukan. Tuhan akan mengadili kita berdasarkan perbuatan kasih yang kita lakukan salam hidup ini. Nabi Mikha bernubuat: “Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut” (Mi 7:19). Tuhan berlaku adil kepada kita maka kita pun berlaku adil kepada sesama kita. Apakah kita berlaku adil? Adilkah aku saat ini? Kita membaca dalam Kitab Imamat: “Janganlah kamu berlaku tidak adil dalam pengadilan; janganlah engkau memihak kepada orang miskin dan janganlah engkau menyokong orang besar, tetapi hakimilah sesamamu dengan kebenaran” (Im 19: 15). Kita berlaku adil denan mengasihi seperti kita juga mengasihi diri kita sendiri (Im 19:18).

Berlaku adil berarti kita kembali kepada Tuhan sang Pencipta. Santo Polikarpus dalam situasi yang sulit dan boleh dikatakan sebagai pengadilan terakhir baginya, ia tetap berusaha berada di sebelah kanan karena Ia tidak menjauhkan diri dari Tuhan yang tidak pernah mengecewakannya dan yang sudah dilayaninya selama 86 tahun. Maka apakah kita berlaku adil untuk diri sendiri dan sesama kita?

P. John Laba, SDB