Homili 24 Februari 2026 – Hari Selasa Prapaskah I

Hari Selasa Pekan I Prapaskah
Yes. 55:10-11
Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19
Mat. 6:7-15.

Emang Kamu Mengenal Allah?

Saya pernah mengikuti sebuah ibadat Oikummen. Pak Pendeta bertugas membawakan Firman Tuhan dan Kotbah, sedangkan saya membawakan Doa Safaat dan berkat penutup. Saya tertarik dengan pertanyaan awal dari pak pendeta ketika memulai Kotbanya. Sambil memandang jemaat yang hadir, ia bertanya: ‘Emang kamu mengenal Allah?’ Kalau kamu mengenal-Nya, siapakah Dia sebenarnya bagimu? Jemaat yang hadir mulai menjawab dengan memberi konsep Allah menurut pikiran dan pengetahuan mereka dari Kitab Suci. Dia mendengar dengan penuh perhatian dan akhirnya ia mengatakan dengan suara yang keras: ’Kamu telah memberi jawaban yang mencerminkan bahwa kamu mewakili kami yang lain, sebab kita semua sebenarnya belum menganal Allah. Mengapa? Karena ternyata kita belum tahu berdoa, belum mengimani-Nya karena kita juga belum mengenal-Nya”.

Pertanyaan Pendeta ini tetap saya ingat dan kadang-kadang saya juga bertanya dalam diri saya sendiri: ‘Apakah saya mengenal Allah dalam hidup saya setiap hari’. Saya mengingat kembali para Rasul Yesus sebagaimana diceritakan Penginjil Matius (Mat 16:13-20). Mereka sudah tinggal bersama Yesus. Mereka juga siap diutus pergi berdua-dua untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus namun ketika mereka kembali, Yesus bertanya kepada mereka tentang Diri-Nya: ‘Apa kata orang siapakah Anak Manusia itu?’ ‘Kata orang’ biasanya lebih mudah dri pada ‘kata diri kita sendiri’ tentang Yesus. Hanya dengan rahmat dari Bapa di Surga maka orang seperti Petrus bisa menjawabnya dengan tepat. Demikian sebagai seorang imam saya merasakan seperti para rasul yang sudah tinggal bersama Tuhan Yesus tetapu belum mengimani Tuhan sepenuhnya. Tuhan tambahkanlah imanku!

Pada hari ini, kita mendapat sebuah koreksi dari Tuhan Yesus tentang berdoa. Inilah perkataan Tuhan Yesus sebagai koreksi bagi kita:

‘Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya’ (Mat 6:7-8).

Orang-orang yang sombong secara rohani biasanya mengeritik orang lain yang doanya singkat dan sederhana. Ada kelompok yang menamakan diri kelompok doa tetapi sebelum berdoa mereka bergosip atau saling berkelahi satu sama lain dalam satu kelompok doa. Pada saat berdoa bersama, doa mereka panjang, dan kata ‘Tuhan’ diulang sampai puluhan kali. Tangan mereka sampai cape mengangkatnya tetapi tidak mau menurunkannya karena ada gengsi manusiawinya. Tuhan Yesus sendiri berkata:

‘Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga’ (Mat 7:21).

Tuhan mengoreksi kita karena kita seperti ‘orang yang dalam doanya bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah’.  Hanya saja orang belum sadar diri bahwa ia sedang sombong secara rohani. Ada orang yang berkata: ‘Mengapa orang ini dan orang itu hanya bisa berdoa ‘Bapa Kami’, bukan berdoa secara spontan?’ Inilah kesombongan rohani yang selalu muncul. Doa Bapa Kami itu adalah doa yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri. Doa yang meringkas semua doa kita karena mambantu kita untuk semakin mencintai Tuhan dan mencinta sesama. Semua intensi doa sudah ada di dalam doa Bapa kami. Hanya sekali lagi, kita belum sadar diri dan belum tahu. Contohnya, kalau di antara kita diminta untuk memimpin ‘doa maka’. Ada orang yang langsung menolak karena katanya tidak tahu berdoa. Pada hal, cukuplah mendoakan doa Bapa Kami saja. Ketika anda mengalami kesulitan, doakanlah Bapa Kami.

Mengapa Doa Bapa Kami begitu indah? Karena doa ini sungguh membuat kita semakin mengenal dan mencintai Tuhan. Dia melakukan segala sesuatu bagi kita. Tuhan setia meskipun kita tidak setia. Nabi Yesaya benar ketika mengatakan:

‘Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya’ (Yes 55:10-11).

Mari kita belajar untuk mengangkat hati dan pikiran kita hanya kepada Tuhan dalam doa-doa kita yang tulus di masa prapaskah ini.

P. John Laba, SDB