Homili 29 Juli 2026 – Peringatan Santa Marta, Maria dan Lazarus

Perayaan Wajib
1Yoh. 4:7-16
Mzm. 34:2-3,4-5,6-7, 8-9,10-11
Yoh. 11:19-27 atau
Luk. 10:38-42.

Nilai Rohani Persahabatan

Kita semua pasti sudah mendengar dan memahami kata persahabatan. Persahabatan adalah hubungan sosial yang didasarkan pada rasa percaya, kasih sayang, dan kerja sama timbal balik. Hubungan persahabatan melibatkan dukungan emosional serta penerimaan diri apa adanya. Para Psikolog modern berpendapat bahwa persahabatan itu adalah hubungan sukarela yang timbal balik, dukungan emosional, dan rasa aman, yang berfungsi sebagai fondasi utama untuk menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan hidup yang tinggi. Ciri khas persahabatan modern adalah pertama, persahabatan lebih menekankan kualitas di atas kuantitas pribadi. Hal ini tentu berfokus pada kedekatan batin dari pada seberapa sering interaksi antar pribadi itu terjadi. Kedua, Low Maintenance Friendship artinya hubungan tetap hangat dan aman meskipun jarang bertemu atau saling berkirim pesan. Ketiga, ada dukungan dari dua arah, artinya, ada kebiasaan saling berbagi dalam suka maupun duka secara setara.

Pada hari ini kita mengenang kembali tiga oramg sahabat Yesus yakni Marta, Maria dan Lazarus. Kita sebagai satu Gereja merayakan ketiga orang kudus yakni Santa Marta dan saudaranya Maria serta saudara laki-laki mereka Santo Lazarus bersama-sama setiap tanggal 29 Juli. Sebelumnya kita selalu merayakan pesta santa Marta saja. Namun Paus Fransiskus mempertimbangkan mengusulkan pada tanggal 2 Februari 2021 yanglalu untuk merayakan peringatan ketiga orang kudus bersaudara ini pada satu hari yang sama yakni hari ini.Mengapa? Pertimbangannya adalah karena mereka bertiga adalah sahabat-sahabat dekat Tuhan Yesus. Keluarga mereka adalah tempat di mana Yesus biasa berbagi kasih dan hidup kekeluargaan dengan mereka. Relasi ketiga bersaudara ini adalah relasi persahabatan yang mendalam karena berdasar dan berakar pada kasih.

Sabda Tuhan pada hari ini membangkitkan semangat kita untuk mengasihi karena kasih itu berasal dari Allah. Santo Yohanes dalam suratnya menulis: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1Yoh 4:7). Perkataan ini kiranya menggambarkan relasi yang mendalam dari ketiga orang kudus dengan Yesus sang cinta sejati. Kasih berasal dari Allah dan mereka merasakannya di dalam keluarga di Betania. Yohanes lebih lanjut menulis bahwa barangsiapa tidak mengasihi maka ia dengan sendirinya tidak mengenal Allah. Yesus adalah kasih Bapa di Surga. Dia diutus sebagai kasih bagi manusia dengann pengorbanan yang besar.

Tuhan Allah sangat mengasihi kita maka kita yang mengalami kasih Allah itu hendaknya saling megasihi satu sama lain. Kita mengasihi Allah maka kita pun mengasihi sesame yang kelihatan di hadapan kita. Yohanes mengulangi lagi pengakuan imannya dengan mengatakan bahwa Allah adalag kasih (1Yoh 4:8.16). Allah adalah kasih di dalam diri Yesus Kristus sehingga menjalin relasi kasih yang indah dan bermakna bagi keluarga di Betania.

Ketiga sosok ini memiliki kekhasan tersendiri. Marta yang menjadi ibu bagi keluarga. Dia adalah seorang pelayan dan pekerja handal dan siap untuk menerima para tamu yang singgah di Betania. Dia juga sangat terbuka kepada Yesus ketika ia mengungkapkan isi hatinya kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” (Yoh 11:3). Reaksi Tuhan Yesus adalah mendengar berita tentang Lazarus lalu berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” (Yoh 11:3-4). Marta melanjutkan dialognya dengan Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (Yoh 11:21). Pada saat seperti ini Tuhan Yesus menggunakan kesempatan untuk mengedukasi sahabat-sahabat-Nya dengan berkata: “Saudaramu akan bangkit.” (Yoh 11:23). Perkataan Tuhan Yesus ini mengundang Marta untuk menyatakan imannya kepada kuasa Yesus: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” Reaksi Yesus terhadap perkataan Marta: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” (Yoh 11: 25-26). Marta lalu mengakui imannya: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27).

Dialog antara Marta dan Yesus dalam suasana duka karena meninggalnya Lazarus membantu kita untuk belajar terus menerus dari ketelaanan iman ketiga bersaudara ini. Pertama, dalam hidup kita sehari-hari kita perlu hidup seimbang dalam bekerja dan berdoa. Santa Marta menunjukkan martabat dan pentingnya bekerja, melayani sesame dan menunjukkan keramahaman, bahkan di saat-saat yang menyibukan kita belajar untuk ramah terhadap siapapun. Kedua, Kita perlu belajar untuk mendengar seperti Maria yang duduk di dekat kaki Yesus untuk mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Yesus. Sesibuk apapun kita janganlah kecanduan kerja (workholic). Kita perlu tenang, hening dan mendengar Yesus dalam doa-doa kita. Kwtiga, kita belajar dari iman ketiga bersaudara ini di Tengah kesedihan karena kematian Lazarus. Marta dan Maria berduka namun duka berubah menjadi sukacita karena hidup baru yang Tuhan berikan kepada Lazarus. Tuhan memang sungguh baik bagi manusia. Mari kita belajar dari ketiga orang kudus ini dan bertumbuh menjadi sahabat-sahabat Yesus. Ada nilai persahabat yang luhur dan indah bersama Tuhan dan sesama kita.

P. John Laba Tolok, SDB