Homili 4 September 2026

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIIA
1Kor 4:1-5
Mzm 37:3-4.5-6.27-28. 39-40
Luk 5:33-39

Selamat Datang Era Baru

Saya pernah diundang untuk menghadiri sebuah perayaan syukur di sebuah komunitas. Tema perayaan yang dicetak di spanduk adalah: “Selamat datang era baru”. Komunitas itu memang barusan melewati sebuah pengalaman yang keras dan sangat mengganggu kebersamaan di dalam komunitas itu. Kini disebut era baru karena terjadi pergantian pimpinan dan anggota komunitas. Diharapkan supaya era baru sungguh membaharui setiap pribadi menuju kepada kekudusan atau kesempurnaan. Era baru selalu membawa harapan dan tentu harapan yang tidak pernah mengecewakan.

Era baru tentu membawa kebaruan dalam berbagai aspek kehidupan. Pengalaman keras bisa berubah ketika semua orang bertransformasi dan menjadi baru. Era baru pernah dialami oleh para murid yang mengikuti Yesus dari dekat. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa Yesus datang dengan membawa kebaruan dalam hidup. Penginjil Lukas mengisahkan bahwa sekali peristiwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat membandingkan para murid Yohanes Pembaptis dan murid-murid Yesus terutama tentang hal berpuasa sesuai kebiasaan mereka sebagai orang Yahudi. Murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa sedangkan para murid Yesus tidak berpuasa.

Tuhan Yesus lalu membuka wawasan mereka tentang relasi antar pribadi di antara mereka dan relasi mereka bersama Yesus. Relasi para murid bersama Yesus adalah sebuah relasi persahabatan yang intim. Para murid adalah sahabat Yesus sang mempelai sejati. Yesus sendiri mengatakan kepada para murid-Nya: ‘Kamu adalah sahabatku’ (Yoh 15:14). Relasi persahabatan dengan Yesus harus selalu menjadi prioritas pertama di atas persahabatan manusiawi. Yesus dengan terus terang berkata: “Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa, sedang mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Luk 5:34-35). Di sini sangat jelas relasi persahabatan para murid dan Yesus sendiri. Para murid adalah sahabat-sahabat Yesus sebagai mempelai. Yesus sendiri adalah mempelai yang membawa suka cita agung. Maka selagi Yesus sang mempelai masih ada

Perikop Injil kita pada hari ini diambil dari Injil Lukas: 5:33-39. Pesan yang dapat kita ambil adalah bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk menambal atau menggabungkan pesan kasih karunia-Nya yang baru dan radikal dengan tradisi keagamaan lama dan kaku dari orang-orang Farisi. Sebaliknya, kedatangan-Nya memulai era keselamatan yang sama sekali baru yang membutuhkan cara berhubungan dengan Tuhan yang benar-benar baru.
Ada beberapa hal penting yang dapat membantu pertumbuhan kita. Pertama, analogi sang Mempelai Pria. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa puasa tidak tepat dilakukan sementara Ia sebagai sang mempelai pria ada di bersama dengan para murid sebagai sahabat mempelai, karena kehadiran-Nya adalah waktu untuk perayaan yang penuh sukacita, bukan untuk berkabung. Kedua, menambal pakaian lama dengan kain baru. Dengan mencoba menjahit kain baru pada baju yang lama hanya akan merusak kain baru tersebut dan memperburuk robekan aslinya ketika menyusut, menunjukkan bahwa ajaran Kristus tidak dapat begitu saja dijahitkan pada sistem legalistik yang usang. Ketiga, anggur baru dalam kantung Anggur lama. Anggur baru yang aktif dan berfermentasi akan merusak wadah kulit tua yang kaku dan telah kehilangan elastisitasnya, membuktikan bahwa kehidupan dinamis kerajaan Allah membutuhkan hati dan kerangka kerja yang segar dan fleksibel. Keempat, kenyamanan akan tradisi lama. Tuhan Yesus mengakui adanya penolakan manusia, dengan mencatat bahwa orang-orang yang terbiasa dengan tradisi lama secara alami lebih menyukai apa yang familiar, dan sering kali menolak karya baru Allah.

Santu Paulus dalam bacaan pertama (1Kor 4:1-5) menegaskan bahwa para pemimpin jemaat hanyalah hamba dan pengelola yang hanya bertanggung jawab kepada Allah. Orang beriman hendaknya berhenti membuat penilaian yang terburu-buru dan keras terhadap para pemimpin jemaat atau diri mereka sendiri, karena hanya Allah yang mengetahui motif manusia dan akan menghakimi dengan benar ketika Kristus kembali.

Kedatangan Kristus membawa era baru bagi kita semua. Di sini sangat dibutuhkan transformasi yang radikal supaya semakin hari kita sungguh-sungguh menjadi sahabat Yesus sang mempelai sejati.

P. John Laba, SDB