Homili 31 Oktober 2026 – Penutupan Bulan Rosario

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXXA
Flp. 1:18b-26
Mzm. 42:2.3.5bcd
Luk. 14:1.7-11.

Hidup dan Mati bersama Kristus

Kita berada di hari terakhir bulan Oktober sebagai bulan Rosario. Kita sudah mengisi bulan Rosario ini dengan berdoa Rosario secara pribadi, berdoa Rosario di dalam kelompok, berziarah ke gua-gua Maria secara pribadi atau kelompok, dan menyampaikan intensi-intensi tertentu kepada Tuhan melalui Bunda Maria, Ratu Rosario. Dan saya percaya bahwa banyak di antara kita yang mengalami mukjizat dari Tuhan melalui Bunda Maria Ratu Rosario.

Ada tiga orang kudus yang dapat memberi inspirasi kepada kita untuk mencintai Rosario suci. Pertama, St. Dominikus de Guzman. Menurut tradisi, beliau menerima devosi Rosario dari santa Perawan Maria yang Terberkati untuk memerangi bid’ah di dunia. Pesan Bunda Maria kepadanya: “Pada suatu hari nanti, melalui Rosario dan Skapulir, aku akan menyelamatkan dunia.” Kedua, Paus St. Yohanes Paulus II. Beliau menggambarkan Rosario sebagai “ringkasan Injil yang Kristosentris”, yang memusatkan hati dan pandangan kita pada wajah Kristus dengan Maria sebagai pemandu kita. Ketiga, St. Pius X. Beliau menyebut Rosario sebagai “doa yang paling indah dan paling kaya rahmat di antara semua doa; ini adalah doa yang paling menyentuh Hati Bunda Allah.” Ketiga orang kudus ini mewakili banyak orang kudus yang mencintai Bunda Maria dan Rosario Suci. Sebab itu jangan berhenti berdoa Rosario.

Sabda Tuhann pada hari ini sangat kaya makna rohaninya. Santo Paulus dalam bacaan pertama mengisahkan pergumulannya di dalam penjara kepada jemaat di Filipi. Sebagaimana kita ketahui bahwa Surat Paulus kepada Jemaat di Filipi ditulisnya ketika ia sedang berada di dalam penjara, kemungkinan besar di Roma (atau kemungkinan lain Efesus) antara tahun 60–62 M. Surat Paulus lain yang dikelompokkan ke dalam kelompok “surat-surat penjara”, adalah Surat Efesus, Kolose, dan Filemon. Paulus dipenjara bukan karena ia mau mencari popularitas tetapi karena cintanya kepada Kristus. Sebab itu ia menulis dengan sangat jelas:

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:20-21).

Apa yang dapat kita renungkan lebih dalam lagi dari perkataan Paulus ini?

Pertama, Paulus mengatakan bahwa Hidup adalah Kristus. Perkataan Paulus ini berarti Kristus sebagai pusat hidup kita. Bagi kita semua, hidup bukan lagi tentang ego, ambisi pribadi, atau sekadar bertahan hidup secara biologis, melainkan seluruh napas, pikiran, karya, dan penderitaan disatukan dengan Yesus Kristus. Hidup adalah Kristus berarti meneruskan karya Kristus di bumi melalui Tubuh Mistik-Nya (Gereja), serta mewartakan kasih, keadilan, dan Injil kepada sesama. Hidup untuk Kristus juga berarti berani menderita bersama-Nya (seperti Paulus yang menulis surat ini dari dalam penjara). Penderitaan tidak menjadi sia-sia, melainkan memiliki nilai keselamatan bila disatukan dengan pengorbanan Yesus di salib.

Kedua, Paulus mengatakan bahwa mati adalah Keuntungan. Dalam perspektif Katolik, kematian bukanlah akhir yang menakutkan atau kehampaan, melainkan pintu gerbang menuju perjumpaan yang membahagiakan secara penuh dengan Sang Pencipta. Kematian disebut “keuntungan” (gain) karena kematian membebaskan jiwa dari dosa dan pergumulan dunia, serta membawa seseorang masuk ke dalam kemuliaan abadi—bersatu sepenuhnya dengan Allah Tritunggal, Bunda Maria, para kudus, dan orang-orang terkasih yang telah mendahului. Maka kita perlu menyiapkan kematian dengan bahagia. Iman Katolik mengajarkan bahwa kematian fisik adalah momen kelahiran kembali (natalis) ke dalam hidup sejati bersama Allah.

Ketiga, Ketegangan yang Suci (Tension of Life and Death). Sebagaimana dikatakan Paulus dalam ayat-ayat berikutnya (Filipi 1:22-24), ada semacam “ketegangan” yang indah: di satu sisi ada kerinduan untuk “pergi dan diam bersama Kristus” (kematian yang adalah keuntungan), tetapi di sisi lain ada tanggung jawab kasih untuk tetap tinggal di dunia guna melayani dan memberi buah bagi sesama.

Saya kembali mengingat Santo Ignatius dari Antiokhia. Beliau adalah seorang martir Kristen awal yang sering mengutip ungkapan Paulus (“Bagi aku, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”) saat ia menghadapi eksekusi di Roma, yang menunjukkan kesiapannya yang tak tergoyahkan untuk mati demi imannya. Dia sangat menginspirasi setiap pengikut Kristus untuk berpegang teguh pada prinsip hidup adalah Kristus dan matu adalah keuntungan.

Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus menceritakan sebuah perumpamaan singkat yang berlatar di sebuah pesta pernikahan, di mana Ia melihat para tamu berebut untuk menduduki tempat kehormatan. Di sini ada peringatan terhadap kesombongan. Jika orang dengan agresif menduduki tempat kehormatan, tamu yang lebih penting mungkin tiba, dan tuan rumah akan memaksa orang itu untuk pindah ke tempat yang lebih rendah di hadapan semua orang, sehingga membuatmu malu di depan umum.
Selanjutnya ada jalan menuju kehormatan sejati. Jika sebaliknya orang tertentu memilih tempat duduk terendah karena kerendahan hati, tuan rumah mungkin akan mendatanginya dan mengundangnya untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi. Hal ini akan membuat orang itu dihormati secara tulus di hadapan para tamu lainnya. Tuhan Yesus merangkum pelajaran ini dalam perkataan ini: “Karena setiap orang yang meninggikan dirinya akan direndahkan, dan barangsiapa yang merendahkan dirinya akan ditinggikan.” (Luk 14:11).

Kerendahan hati adalah jalan kepada kesediaan untuk hidup hanya bagi Kristus dan mati sebagai keuntungan. Mari kita belajar dari Bunda Maria, Ratu Rosario. Dia hidup bagi Kristus Puteranya. Bunda Maria mendoakan kita semua sekarang dan saat maut menjemput kita semua.

P. John Laba, SDB