Homili 5 November 2026

Hari Kamis, Pekan Biasa ke-XXXIA
Flp. 3:3-8a
Mzm 105: 23.4-5.6-7
Luk 15:1-10

Noverim me, Noverim Te

Banyak di antara kita yang mungkin saja pernah mendengar perkataan ini ‘Noverim me, Noverim Te’. Perkataan ini diucapkan oleh santo Agustinus sebagai sebuah kalimat doanya yang berarti ‘Semoga aku dapat mengenal diriku, semoga aku juga dapat mengenal Engkau”. Perkataan doa ini kita temukan dalam bukunya: Soliloquies (II,1) dan di dengungkan lagi dalam Pengakuan (Confessiones (X,1). Kalimat lengkap dari doa santo Agustinus ini adalah ‘Domine Iesu, noverim me, noverim Te’ yang berarti, “YaTuhan Yesus, semoga aku dapat mengenal diriku dan mengenal Diri-Mu”. Memang, semakin kita merendahkan diri di hadirat Tuhan maka semakin kita juga dapat mengenal Tuhan. Tuhan tidak pernah jauh dari kita dan tetap menyelidiki diri kita. Tepat sekali sebagaimana kita baca di dalam Kitab Mazmur: “Selidikilah aku, ya Allah dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal (Mzm 139: 23-24). Nilai-nilai penting di dalam usaha untuk mengenal diri kita adalah dengan mengintrospeksi diri supaya tetap rendah hati, mengoreksi diri dan upaya untuk menguduskan diri sendiri. Kita juga merasakan tuntunan ilahi untuk kembali ke jalan yang benar.

Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, mengingatkan jemaat bahwa bahwa mereka semua adalah orang-orang bersunat, teristimewa mereka semua yang beribadah kepada Allah dan bermegah di dalam Kristus. Jemaat juga diingatkan supaya dengan kuasa Roh Kudus, mereka tidak boleh menaruh kepercayaan kepada hal-hal yang lahiria. Paulus sendiri menyadari bahwa ia juga memiliki alasan untuk menaru haapan pada hal-hal yang lahiria. Selanjutnya Paulus sangat polos untuk mengatakan kepada Tuhan siapakah dirinya yang sebenarnya: Ia mengakui diri disunat pada hari ke delapan, dia sebagai seorang Israel sejati dari suku Benyamin, ia sebagai seorang Ibrani sejati. Berdasarkan hukum Taurat, Paulus adalah orang Farisi, Ia mengakui dirinya pernah menjadi penganiaya jemaat dan dia juga tidak bercacat dalam menaati kebenaran hukum Taurat. Sejak masih menjadi Saulus, ia masih mengandalkan hukun Taurat. Inilah proses pengenalan diri yang dialami Paulus.

Apakah dengan demikian Saulus yang sudah menjadi Paulus ini tetap bertahan dalam hidupnya yang lama? Tentu saja tidak. Ada evolusi dalam hidup Paulus. Paulus berkata: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp 3:7-8a). Inilah sebuah transformasi yang radikal di dalam hidup Paulus. Maka lihatlah bahwa Saulus berubah menjadi Paulus, itu sejalan dengan transformasi hidupnya dalam berelasi dengan Tuhan. Ia merasa jauh lebih mulia ketika ia mengenal Kristus secara pribadi.

Transformasi atau pengalaman pertobatan Paulus menjadi kekuatan bagi kita untuk siap bertobat, sia[ berubah di dalam hidup kita. Contoh yang jelas diperkenalkan oleh Yesus di dalam Injil. Dikisahkan bahwa para pemungut cukai dan orang berdosa biasa datang kepada Yesus untuk mendengarkannya. Ini tentu saja merupakan hal yang baik. Namun berbeda dengan orang-orang yang menganggap dirinya suci. Ada perasaan bersungut-sungut karena Yesus berbuat baik yakni mempertobatkan kaum pendosa yang datang kepada-Nya. Inilah perkataan mereka: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Perkataan ini sekaligus mencerminkan diri kita dihadirat Tuhan dan sesama. Mudah sekali kila lupa bahwa kita adalah orang berdosa dan dengan angkuh kita menganggap orang lain sebagai orang berdosa. Padahal kita semua orang berdosa. Ketika seorang pendosa itu bertobat maka ada sukacita yang besar di surga.

Tuhan Yesus menunjukkan contoh bagaimana orang yang berdosa dapat bertobat dan membawa sukacita pertobatan. Dicontohkan bahwa kalau ada seorang yang mempunyai seratus ekor domba dan satunya tersesat maka sang gembala yang baik itu akan meninggalkan yang sembila puluh sembilan ekor di padang gurun, pergi mencari, menemukan dan membawanya dengan cara spesial yakni meletakannya di atas bahunya, memanggil sesama untuk bersukacita. Demikian juga seorang wanita yang memiliki sepilih dirham. Ketika ia kehilangan satu dirham, ia akan mencarinya sampai menemukannya. Ketika menemukannya, ia akan memanggil sesama untuk bersukacita bersama. Sang gembala dan wanita yang mengalami kehilangan tetap berusaha hingga menemukan domba dan dirham dan bersukacita bersama. Kalau manusia saja melakukan hal-hal seperti ini maka jauh lebih mulia Tuhan yang kita imani. Dia selalu mencari, menemukan dan mengubah orang tersebut dengan sukacita untuk kembali ke jalan yang benar. Adalah sukacita yang besar letika orang berdosa dapat bertobat.

Pertobatan dapat terjadi ketika seorang berdoa sebagaimana di lakukan santo Agustinus. Ketika kita mengenal diri kita lebih dalam lagi maka dengan sendirinya kita juga akan mengenal dan mengalami kasih dan kebaikan Tuhan. Kita tidak akan melihat-lihat kesalahan sesama yang lain karena kita mengenal diri kita sebagai orang berdosa.

Mengenai pengenalan diri dan pengenalan akan Allah, Santo Gregorius Palamas († 1359 M) dalam “The Philokalia“: “Mengenal Allah secara sejati sejauh hal itu mungkin dilakukan jauh lebih unggul daripada filsafat oran-orang Yunani, dan demikian pula, memahami posisi manusia dalam hubungannya dengan Allah melampaui seluruh kebijaksanaan mereka. St. Athanasius Agung dari Aleksandria di Mesir († 373 M) merangkumnya secara ringkas ketika ia berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengenal Tuhan tanpa mengenal dirinya sendiri.” Di sini ia mengidentifikasi korelasi langsung antara pengetahuan diri dan pengetahuan tentang Tuhan. Kemampuan ini tertanam dalam diri kita, dan itulah yang membuat manusia sangat berbeda dari makhluk lain. Sebagaimana diintuisikan oleh filsuf Jerman abad ke-18, Gottfried Leibniz: …adalah pengetahuan akan kebenaran-kebenaran yang mutlak dan kekal yang membedakan kita dari sekadar hewan dan memberi kita Akal Budi serta ilmu pengetahuan, mengangkat kita menuju pengetahuan tentang diri kita sendiri dan tentang Tuhan. Dan inilah yang ada dalam diri kita yang disebut jiwa rasional atau akal budi.

Mungkin salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah, Santo Antonius Agung († 356 M), pertapa Mesir yang menginspirasi Santo Athanasius, memperluas konsep ini untuk mencakup pengetahuan tentang dunia yang diciptakan dan kasih terhadap segala sesuatu ketika ia berkata:

“Barangsiapa memiliki pengetahuan yang benar tentang dirinya sendiri, ia juga memiliki pengetahuan yang benar tentang makhluk-makhluk yang diciptakan Tuhan dari ketiadaan; ia juga mengetahui martabat jiwa manusia yang noetik dan abadi… Dan barangsiapa mengetahui hal ini, ia tahu bahwa seseorang harus mencintai Tuhan; dan barangsiapa mencintai Tuhan, ia mencintai semua orang. Santo Antonius menyelaraskan manusia dengan ciptaan Tuhan, serta dengan Tuhan sendiri melalui pengenalan diri, yang mengarah pada kasih. Mari mengenal diri sehingga dapat mengenal Tuhan lebih dalam lagi.

P. John Laba, SDB