Hari Minggu Biasa XXXIIA
Keb. 6:12-17
Mzm. 63:2,3-4,5-6,7-8
1Tes. 4:13-18 (panjang) atau
1Tes. 4:13-14 (singkat)
Mat. 25:1-13.
Mencari kebijaksanaan Sejati
Ada seorang pengelana yang berangkat melintasi sebuah hamparan tanah tandus yang diselimuti kabut demi mencari “Kebijaksanaan Tertinggi”. Ia mendaki gunung-gunung tertinggi, menghabiskan puluhan tahun membaca buku-buku tebal dan berdebu di perpustakaan-perpustakaan kuno, serta mewawancarai para pemimpin paling sukses di dunia. Namun, semakin banyak informasi yang ia kumpulkan, semakin bingung dan terbebani perasaannya. Pikirannya pun berubah menjadi labirin yang kacau balau. Labirin adalah sesuatu yang sangat rumit, berbelit-belit, dan membingungkan. Kebijaksanaan itu ada dalam hidup kita yang sebenarnya biasa-biasa saja tetapi menjadi luar biasa.
Menjadi pertanyaan kita adalah apa itu kebijaksanaan? Untuk memahami kebijaksanaan maka simaklah perkataan ini: “Pengetahuan itu seperti mengumpulkan kayu, Pemahaman adalah mengetahui cara menyalakan api. Namun, Kebijaksanaan adalah menggunakan cahaya api itu untuk melihat jalan teraman ke depan, bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk membimbing orang lain keluar dari badai.”
Pertanyaan mendasar bagi kita pada hari Minggu Biasa ke-XXXIIA ini adalah siapakah kebijaksanaan itu dan apakah anda dan saya itu mencintai kebijaksanaan? St. Efrem dari Suriah pernah berdoa begini: “Ya Tuhan, curahkanlah cahaya kebijaksanaan-Mu yang cemerlang ke atas jiwa-jiwa kami yang gelap, agar kami dapat diterangi dan melayani-Mu dengan kemurnian yang diperbarui.” Sementara itu, St. Robertus Bellarminus pernah berkata: “Jika anda bijaksana, ketahuilah bahwa anda diciptakan demi kemuliaan Allah dan keselamatan kekalmu sendiri…” Perkataan kedua orang kudus ini membuka pikiran kita bahwa Kebijaksanaan adalah Pribadi Tuhan sendiri. Dialah yang menciptakan kita demi kemuliaan-Nya sendiri dan menganugerahkan kebijaksanaan atau memberikan diri-Nya untuk keselamatan kita.
Pemahaman kita tentang kebijaksaan menjadi kaya melalui Katekismus Gereja Katolik, di mana dikatakan bahwa Kebijaksanaan adalah karunia Roh Kudus. Kebijaksanaan tercantum sebagai yang pertama di antara tujuh karunia Roh Kudus (bersama dengan pemahaman, nasihat, keteguhan hati, pengetahuan, kesalehan, dan rasa takut akan Tuhan). Karunia-karunia ini sepenuhnya milik Kristus dan “menyempurnakan serta melengkapi kebajikan mereka yang menerimanya”, sehingga membuat umat beriman menjadi patuh dalam mengikuti ilham Ilahi (KGK, 1830–1831).
Selanjutnya, melalui Kitab Kebijaksanaan yang kita dengar bersama dalam Bacaan Pertama hari ini, (Keb 6:12-17), kita semua diajak untuk mencari Kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu bersinar dan tidak dapat layu, mudah untuk dipandang bagi pencinta Kebijaksanaan. Kebijaksanaan itu mudah diperoleh dan segera datang kepada mereka yang mencarinya serta berjaga-jaga menantikannya, membimbing orang untuk membuat pilihan yang bijak dan hidup dengan kedamaian batin. Kebijaksanaan adalah pribadi Tuhan yang menyinari kehidupan kita. Kebijaksanaan adalah gambaean diri Tuhan yang kita cari dan mudah untuk kita temukan dalam doa-doa kita.
Apa yang kita dengar di dalam Bacaan Pertama, menjadi semakin nyata dan sempurna di dalam bacaan Injil (Mat. 25:1-13). Tuhan Yesus berbicara tentang Kerajaan Surga kepada para murid-Nya. Ia menggunakan perumpamaan yang menceritakan tentang sepuluh gadis yang menanti sang pengantin pria. Kesepuluh gadis itu masing-masing memiliki pelita dan ingin menghadiri pesta tersebut. Namun saying sekali karena hanya lima di antaranya yang membawa botol minyak Cadangan sedangkan yang lainnya tidak membawanya. Ketika sang pengantin pria terlambat datang dan tengah malam tiba, gadis-gadis yang bodoh kehabisan minyak dan tidak sempat masuk ke dalam pesta. Nah, kebijaksanaan itu memang penting dan harus.
Menjadi pertanyaan bagi kita adalah apa yang dilambangkan oleh “Minyak” Itu sendiri? St. Agustinus menafsirkan minyak sebagai simbol cinta sejati, rahmat, serta kehidupan iman dan belas kasih yang aktif. Iman tidak dapat dipinjam pada saat-saat terakhir dari orang lain; iman harus dipupuk secara pribadi melalui pilihan-pilihan sehari-hari, doa, pengampunan, dan kasih sayang. Ini memang mengandaikan ada rasa tanggung jawab pribadi dalam beriman. Santo Agustinus dan juga para Bapa Gereja menekankan alasan mengapa para gadis bijak tidak dapat membagikan minyak mereka (“Tidak, jangan sampai minyak itu tidak cukup bagi kami dan kalian”). Mereka menjelaskan bahwa kebajikan rohani, seperti kasih pribadi kepada Tuhan, pertobatan, dan kebenaran, tidak dapat dialihkan dari satu orang ke orang lain pada hari penghakiman terakhir. Setiap orang harus membina hubungannya sendiri dengan Tuhan.
Saya sepakat dengan pandangan santo Agustinus ini bahwa iman pribadi itu tidak dapat dipinjam atau digadai. Sama seperti para gadis yang bijaksana tidak dapat membagikan minyak mereka, setiap orang harus menumbuhkan hubungan mereka sendiri dengan Allah dan tanggung jawab pribadi atas kehidupan iman mereka. Kita perlu waspada dan mawas diri. Kewaspadaan sejati bukan sekadar menunggu secara pasif atau terjaga karena rasa takut, melainkan membiarkan kasih dan pilihan aktif membimbing cara kita menghabiskan waktu dan melayani orang lain.
Apa yang harus kita lakukan?
Santo Paulus dalam bacaan kedua (1 Tes 4:13-18) menekankan tentang pentingnya harapan akan kebangkitan. Santo Paulus mendorong jemaat untuk tidak berduka seperti mereka yang tidak memiliki harapan, dengan berpegang pada janji Kristen bahwa kematian bukanlah akhir dan bahwa mereka yang telah meninggal akan bangkit kembali melalui Yesus. Ia juga mengingatkan jemaat di Tesalonika dan kita saat ini bahwa usaha kita dalam Kristus tidak pernah sia-sia, dan kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kita menantikan perjamuan surgawi dengan penuh harapan dan keyakinan. Kebijaksanaan tetaplah menjadi kekuatan bagi kita.
Sungguh, pada hari Minggu Biasa ke-XXXIIA ini, kita semua diharapkan untuk tetap bijaksana, waspada, dan siap menyambut kedatangan Tuhan, karena iman menuntut tanggung jawab pribadi dan kesiapan aktif, bukan sekadar keyakinan pasif. Mari kita mengarahkan padanngan kita kepada Tuhan dengan bijaksana sambil men antikan kedatangan-Nya.
P. John Laba, SDB