Homili 7 Januari 2026 – Injil untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu sesudah Epifani
Raimundus dr Penyafort
1Yoh 4:11-18
Mzm 72:2.10-11.12-13
Mrk 6:45-52

Lectio: Mrk 6: 45-52

Sesudah memberi makan lima ribu orang, Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan anginpun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.
Demikianlah Sabda Tuhan
Terpujilah Kristus

Renungan:

Ketika angin sakal kehidupan menerpamu

Pada hari ini Gereja Katolik mengenang kembali Santo Raymundus dari Penyafort (1175–1275). Beliau adalah seorang imam Dominikan asal Spanyol, yang dikenal sebagai Bapak Hukum Kanonik. Beliau merupakan tokoh intelektual besar yang menyusun kodifikasi Hukum Gereja pertama, digunakan secara luas hingga awal abad ke-XX. Maka ia juga menjadi pelindung para ahli hukum Gereja atau Hukum Kanonik. Salah satu ungkapannya yang selalu saya ingat adalah tentang Salib:

“Inilah Salib Kristus yang mulia dan terberkati. Salib di mana kita harus membanggakan diri, seperti yang telah diberitahukan kepada kita oleh Santu Paulus, sang alat pilihan Allah.”

Kita semua sedang berada di awal tahun 2026 sambil menatap penuh dengan pengharapan di tengah ‘angin sakal kehidupan’. Kita semua tentu berempati dengan saudara-saudari di banyak tempat yang mengalami bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor yang masih sulit ditolong karena terisiolasi. Adanya eksploitasi lingkungan tanpa ada semangat pertobatan ekologis dan dampaknya mulai terasa di mana-mana. Ada beraneka ragam tekanan sosial dan politik yang perlahan namun pasti dirasakan sebagai gunung es yang bisa mencair kapan saja. Pengalihan isu-isu besar di negeri ini yang memang menakutkan! Semu aini adalah angin sakal kehidupan atau dalam bahasanya santu Raymundus ‘salib’ kehidupann kita masa kini.

Kita barusan mendengar Injil yang saya bacakan tadi. Tuhan Yesus membuat orang banyak berdecak kagum setelah memberi makan lima ribu orang laki-laki, belum terhitung perempuan dan anak-anak, dengan hanya berbekal lima roti dan dua ekor ikan yang mereka miliki. Apakah tindakan Yesus ini membuat-Nya bangga di depan Bapa surgawi? Ternyata tidak. Dia menyuruh semua orang yang sudah kenyang dan para murid-Nya untuk pergi dan ‘belajar mandiri’ sementara Yesus sendiri bersyukur sambil berdoa kepada Bapa. Persekutuan dan keintiman dengan Bapa itu penting dan harus karena Ia sendiri berkata: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30).

Apakah para murid Yesus dan orang kebanyakan benar-benar mandiri tanpa Yesus? Ternyata tidak! Ada angin sakal yang membuat mereka takut, terombang-ambing di danau dan nyaris kehilangan harapan. Mereka dikuasai oleh ketakutan manusiawi bahkan Tuhan Yesus saja disangka hantu. Di saat itulah Yesus menunjukkan keilahian-Nya dengan dengan perkataan ini:

“Tenanglah, Aku ini. Jangan takut” (Mrk 6:50).

Yesus memberi harapan baru kepada para murid-Nya. Dia kembali membuat mereka tercengang dan takjub karena ketika Ia masuk ke dalam perahu, angin sakal menjadi redah dan danau pun menjadi tenang. Sesungguhnya salib-salib itu selalu ada namun kalau saja kita tinggal bersama Yesus maka persoalan hidup sebesar apapun akan berlalu.

Lalu bagaimana ketika angin sakal kehidupan menerpamu?

Angin sakal kehidupan selalu ada setiap saat. Ketakutan, kehilangan harapan karena pergumulah hidup selalu ada. Di saat seperti itu, andalan kita bukanlah diri kita semata tetapi Tuhan selalu nomor satu. Tuhan Yesus sendiri berkata: “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa karena Dialah pokok anggur dan kitalah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5). Kita belajar dari Tuhan Yesus untuk selalu bersatu dengan Bapa di surga dalam doa supaya bisa mengatasi ‘angin sakal kehidupan’. Ketika mengalami salib dan angin sakal kehidupan dalam hidup, ingatlah selalu perkataan Tuhan Yesus ini: “Tenanglah, Aku ini. Jangan takut” (Mrk 6:50). Tenanglah dan bersyukurlah kepada Tuhan!

P. John Laba, SDB