Homili 6 Januari 2026

Hari Selasa sesudah penampakan Tuhan
1Yoh 4:7-10
Mzm 72:2.3-4ab.7-8
Mrk 6:34-44.

Allah Adalah Kasih

Pada suatu kesempatan, saya mengunjungi sebuah keluarga. Di dinding ruang tamu rumah mereka terdapat sebuah ikon Hati Kudus Yesus yang disulam begitu rapih. Di bawah gambar itu terdapat tulisan “Allah adalah Kasih”. Saya memperhatikan gambar itu dan menemukan bahwa ikon Hati Kudus Yesus yang disulam itu begitu indah, namun di baliknya itu terdapat benang-benang sulaman yang tidak teratur. Saya berusaha untuk menyadari makna gambar itu dan merasa yakin bahwa gambar itu memang mengganbarkan hidup kita yang sangat nyata. Ada sisi-sisi kehidan kita yang begitu teratur namun di balik itu ada sisi kehidupan yang tidak teratur. Hal yang sama juga terjadi dalam hidup kita setiap hari di dalam keluarga. Mungkin saja di dapur anggota keluarga saling memarahi satu sama lain namun di ruang makan hanya ada kenikmatan makanan dan minuman yang disiapkan. Jerohan itu nikmat sekali tetapi saat membersihkannya duhhh bau amis. Sungguh merupakan Gambaran kehidu anda dan saya saat ini.

Pada hari ini kita mendengar perkataan Yohanes di dalam komunitasnya tentang kasih. Di dalam komunitas atau keluarga ada pribadi yang setia dan ada juga yang tidak setia kepada Tuhan Yesus Kristus. Yohanes menamakan orang-orang yang tidak setia sebagai antikristus. Sebutan antikristus hanya terdapat di dalam tulisan-tulisan Yohanes misalnya dalam 1Yoh. 2:18,22; 4:3, dan 2Yoh. 7. Tentu saja yang Yohanes maksudkan dengan antikristus adalah para lawan umat, meskipun gagasan mengenai musuh utama Kristus juga tampak di tempat lain, misalnya dalam tulsan santu Paulus, misalnnya dalam 2Tes. 2:1-12, di mana ‘manusia durhaka’, atau ‘pendurhaka’ pasti datang sebelum ‘parousia’ terjadi. Dalam hal ini orang tersebut diidentifikasi dengan Kaisar Romawi, atau salah seorang kaisar seperti Nero. Di balik dimensi historis, antikris adalah lambang pemberontakan melawan Kristus yang terus berlangsung hingga penghakiman terakhir, meskipun pemberontakan itu mengejawantah di dalam pribadi-pribadi historis tertentu, seperti Yudas Iskariot.

Kasih itu adalah segalanya karena kasih adalah Tuhan sendiri (1Yoh 4:8.16). Sebab itu Yohanes dengan tegas mengatakan: “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1Yoh 4:7). Kita saling mengasihi karena Allah adalah kasih dan tentu saja kasih itu sendiri berasal dari Allah. Ketika kita mengalami kasih dari Allah maka kita pun harus mampu mengasihi. Dengan demikian kita sungguh lahir dan mengenal Allah. Ketika kita tidak mengasihi berarti kita bukan berasal dari Allah dan kita juga dengan sendirinya tidak mengenal Allah. Kasih Allah sungguh nyata di dalam diri Yesus Kristus.

Banyak kali kita mengklaim diri sebagai pribadi-pribadi hebat karena telah mengasihi Allah. Kita keliru! Santo Yohanes mengatakan: “Kasih yang benar itu bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”. (1Yoh 4:10). Inilah kekeliruan manusiawi kita bahwa kita mendahului Tuhan dalam mengasihi padahal Tuhanlah yang lebih dahulu mengasihi kita.

Dalam bacaan Injil Tuhah Yesus mau menyadarkan para murid-Nya untuk mempraktikkan kasih. Yesus menunjukkan keteladanan kasih dengan memiliki hati yang tergerak oleh belas kasihan. Dia melihat manusia yang serupa dengan domba yang tidak memiliki gembala. Tidak ada orang yang memperhatikan mereka yang masuk dalam tipe ini: manusia yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difable. Mereka semua menjadi pilihan mendasar untuk melayani dalam kasih. Para murid masih memikirkan secara manusiawi akan apa yang mereka miliki itu terlalu sedikit untuk dibagikan kepada orang lain. Namun Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” (Yoh 6:37). Ini Adalah perinta kasih yang harus mereka lakukan. Maka dengan hanya memiliki dua ekor ikan dan lima potong roti, Tuhan Yesus menolong para murid-Nya untuk mau berbagi dengan sesama. Sebanyak lima ribu orang pria yang duduk berkelompok merasakan kasih Tuhan. Bahkan mereka masih mengumpulkan sisa roti dan ikan sebanyak dua belas bakul.

Mengasihi dengan tulus itu tidaklah mudah. Selalu ada tantangan untuk tidak mengasihi karena sedikit yang kita miliki. Namun ketika kita dapat berbagi sebagai tanda kasih maka sedikit yang kita miliki dapat memuaskan sesama yang lain. Kasih itu lintas batas. Ada kesulitan dalam mewujudkan kasih seperti para murid Yesus namun karena Allah adalah kasih di dalam diri Yesus sehingga semua orang menjadi puas. Ada benang kudust kehidupan namun kasih Tuhan adalah segalanya.

P. John Laba, SDB