Hari Jumat, Pekan Biasa ke-IV
Sir. 47:2-11
Mzm. 18:31,47,50,51
Mrk. 6:14-29
Memandang wahah para pemimpin kita
Kisah akhir hidup Raja Daud terus berlanjut. Kali ini ini kita temukan dalam Kitab Putra Sirak. Penulis Kitab Putra Sirak bercerita tentang kehidupan pribadi Raja Daud dan bagaimana ia ditangkap dan menjadi milik Tuhan. Keterpilihan Raja Daud dari antara orang Israel itu seumpama lemak yang dipisahkan tersendiri untuk korban penghapus dosa. Daud menampakkan keperkasaan atau kesatriaan yang luar biasa: singa dipermainkan seperti kambing jantan, beruang seakan anak domba. Daud diumpamakan demikian karena ia pernah mengalahkan Goliat orang Filistin dengan batu. Demikian juga para musuh takluk di depan Daud karena ia menyeruhkan nama Tuhan. Karena kuasa Tuhan ia mengalahkan berlaksa-laksa orang, berbeda dengan Saul yang hanya mengalahkan beribu-ribu orang saja. Daud melakukan semua ini karena ia menghormati Tuhan dan kuasa-Nya. Baginya, Tuhan itu Kudus dan Mahatinggi.
Daud adalah pribadi yang penuh sukacita. Ia bernyanyi dengan segenap hati dan mengungkapkan kasih-Nya kepada Tuhan sang Pencipta. Ia misalnya meletakkan kecapi di depan mezbah Tuhan. Kecapi dengan bunyinya memperindah lagu dan kidung kepada Tuhan. Ia dengan sempurna memeriahkan har-hari istimewa bagi Tuhan. Karena sukacita Daud ini maka banyak orang datang mendekati Tuhan dan bersujud kepadanya. Sikap raja Daud ini juga menunjukkan pertobatan atas masa lalunya yang penuh kekelaman. Tuhan menyerahkan Kerajaan Israel yang Lestari dan takhtanya yang mulia.
Kisah Raja Daud secara ringkas ini menunjukkan gerakan hidup pribadi Daud yang luar biasa. Dia lemah namun menjadi kuat. Dia seorang gembala yang tidak dikenal namun menjadi Raja yang perkasa. Dia seorang pendosa namun dikasihi Tuhan karena ia mau bertobat. Hadiah Istimewa bagi Daud bukan hanya kemegahan Kerajaan Israel tetapi bahwa dia tercatat dalam garis keturunan Yesus. Yesus adalah Anak Daud. Penyebutan “Anak Daud” misalnya dalam Markus 10:47, merupakan pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan dan berkuasa menyembuhkan.
Raja Daud memang beda dengan Raja Herodes dalam Injil seperti dari Injil Markus yang kita dengar hari ini. Raja Herodes mementingkan nama baik, nafsu duniawi dan melupakan sang Ilahi yakni Tuhan. Ketika ditegur oleh Yohanes Pembaptis karena kasusnya sebagai ‘pebinor’, ia tersinggung dan menggunakan kuasanya untuk memenjarakan Yohanes Pembaptis. Herodias yang boleh dikatakan ‘pelakor’ juga menaruh benci kepada Yohanes Pembaptis hingga kemartiran Yohanes Pembaptis. Memang ada perasaan ragu-ragu ketika ia mendengar tentang Yesus. Ia berpikir: “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” (Mrk 6:14). Orang lain lagi berkata tentang Yesus: “Dia itu Elia!” Orang yang lain lagi mengatakan: “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” (Mrk 6:15). Herodes lalu berkata tentang Yesus setelah mendengar semuanya ini: “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.” (Mrk 6:16). Herodes memerintahkan para algojo untuk membunuh Yohanes Pembaptis karena demi kuasa dan nama baiknya sebagai raja. Ini yang beda dengan Raja Daud yang tahu berbuat dosa, namun tahu diri untuk bertobat.
Kekuasaan memang bisa membuat orang menjadi semakin baik, tetapi lebih banyak membuat orang ‘lupa daratan’ sehingga menjadi jahat terhadap sesamanya. Para penguasa memang memiliki sumpah jabatan namun mudah sekali melanggar sumpah jabatannya. Mereka bersumpah untuk melayani masyarakat namun lebih banyak mereka melayani keluarganya. Mereka hanya bersahabat dengan sesama ketika mereka menyodorkan dirinya sebagai calon, namun ketika menduduki kursi empuk maka mereka mudah lupa. Mereka adalah herodes masa kini! Apakah anda juga mau menjadi Herodes masa kini? Bagaimana anda memandang wajah para pemimpin kita saat ini?
P. John Laba, SDB