Homili 7 Pebruari 2026

Hari Biasa Hari Sabtu Imam
1Raj. 3:4-13
Mzm. 119:9,10,11, 12,13,14
Mrk. 6:30-34

Belas kasih sebagai seorang pelayan

Selamat mengingat dan mendoakan kami para imam di hari Sabtu Pertama, di bulan Pebruari 2026 ini. Saya sendiri mendapat banyak ucapan selamat dan doa serta harapan untuk tetap setia sebagai pelayan Tuhan dan Gereja-Nya. Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan dan kepada segenap umat, anda sendiri, yang selalu mendoakan peziarahan imamat saya dan membantu saya untuk merawat imamat saya selama dua puluh lima tahun ini. Saya bisa menjadi pelayan Tuhan bukan karena kekuatan saya sendiri melainkan kekuatan dari Tuhan dan dari anda yang selalu hadir dalam hidup dan karya imamatku.

Sambil bersyukur di hari Sabtu para Imam ini, saya semakin merasa dikuatkan oleh Tuhan Yesus dalam Injil suci hari ini. Santo Markus mengisahkan bagaimana Tuhan Yesus mengutus para Rasul-Nya untuk pergi berdua-dua supaya melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan Yesus sendiri yakni mewartakan Injil. Ketika mereka kembali dan berkumpul bersama-Nya, mereka melaporkan segala pekerjaan yang sudah mereka lakukan. Tuhan Yesus tentu saja menyambut mereka dengan gembira. Ia mengajak mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi supaya beristirahat sejenak. Quality time bersama Tuhan itu memang indah dalam pikiran para rasul Yesus. Mereka pergi bersama dalam satu perahu, menyeberangi danau Galilea namun orang-orang tetap mencari-Nya. Mereka membutuhkan Yesus dalam hidup mereka!

Tuhan Yesus memandang orang-orang yang mencari-Nya melalui jalan darat seperti domba tanpa gembala. Tuhan Yesus tidak hanya sekedar memandang mereka saja. Ia tergerak hati oleh belas kasih kepada mereka. Belas kasih atau kerahiman Tuhan ini sungguh menyelamatkan orang-orang kebanyakan yang mencari-Nya saat itu. Rencana quality time berubah menjadi pelayan tanpa batas waktu kepada orang banyak.

Kisah Injil ini memang menarik perhatian kita di Sabtu para imam ini. Para Rasul pergi berdua-dua dan kembali untuk melaporlkan kegiatan mereka sebagai pelayan Injil Tuhan. Para imam, para agen pastoral, kaum awam yang bekerja sama itu seperti para Rasul untuk mewartakan Injil dan menghadirkan Kerajaan Allah. Semuanya haru menjadi pelayan bukan sekedar pelayanan saja. Di samping itu nilai kebersamaan, sharing bersama dan quality time bersama Tuhan juga sangat penting. Kebersamaan dan quality time tidak harus dengan cara pergi ke suatu tempat yang sunyi, tetapi dalam hati, dalam doa pribadi, meditasi, kehidupan devosional, pelayan kasih, semuanya adalah tanda kebersamaan dengan Tuhan. Satu hal lagi adalah skala prioritas dalam karya. Seoarang pelayan sejati akan memiliki skala prioritas yang jelas, bukan untuk kesenangan pribadi tetapi pertama adalah kebahagiaan dan keselamatan sesama.

Hal-hal yang dikemukakan di sini, kadang-kadang tidak masuk dalam ensiklopedi para pelayan Tuhan. Ada pelayan Tuhan yang melayani dan melayani sehingga lupa pada Tuhan dalam doa pribadi dan doa bersama di dalam komunitas. Ada yang lebih mementingkan hobi atau kesenangan pribadi sehingga lalai sebagai pelayan. Tidak ada perasaan tergerak hati oleh belas kasih kepada orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Pelayanan hanya tertujuh pada orang yang disenangi dan teritori yang menguntungkan diri.

Apa yang harus dilakukan?

Para pelayan seharusnya memiliki motivasi yang jelas seperti Salomo ketika ditanyai oleh Tuhan saat memulai penugasan sebagai raja. Salomo tidak meminta apa yang dia sukai tetapi apa yang dia butuhka dalam hidupnyan. Dia tentu menyukai hal duniawi seperti umur panjang atau kekayaan atau nyawa para musuhnya. Salomo justru meminta kepada Tuhan: Hati yang penuh hikmat dan pengertian. Permintaan Salomo dikabulan dan ditambahkan oleh Tuhan. Kita dapat menjadi pelayan sejati kalau kita memiliki hikmat dan pengertian dari Tuhan sendiri.

Pada hari Sabtu Imam ini Tuhan sungguh menyapaku secara pribadi untuk kembali kepada-Nya dan sekali lagi memohon hikmat dan pengertian untuk bertumbuh sebagai pelayan yang terbaik bagi Tuhan dan Gereja-Nya. Melayani Tuhan haruslah menjadi prioritas pertamaku bukan mengutamakan hobi atau kesenangan pribadiku. Hati dapat tergerak oleh belas kasihan karena ada hikmat dan pengertian dari Tuhan sendiri.

P. John Laba, SDB