Tak ada yang abadi

Tak ada yang abadi

Semua orang pasti pernah, sedang dan akan mengalami kekhawatiran selama masih menarik nafasnya. Pada saat ini kekhawatiran benar-benar menghantui kita semua. Di mana-mana orang yang duduk di kursi empuk sekalipun hingga mereka yang berada di bawah kolong jembatan mengalaminya. Mereka khawatir dengan hidupnya dan berbicara tentang sebuah masa depan yang lebih baik. Mengapa? Semua orang di negeri +62 berbicara tentang kesulitan dan beban ekonomi yang seakan tidak menentu, situasi keamanan yang menakutkan, soal hukum yang tidak menentu, korupsi,kokusi dan nepotisme berjamaah dan terang-terangan, perusakan lingkungan hidup dan lainnya yang mengkhawatirkan masa depan manusia.

Semua orang memang khawatir dengan hidupnya tetapi hanya sedikit orang yang menyadari bahwa dirinya sedang khawatir. Seorang sahabat saya barusan berangkat ke Kuching, Malaysia untuk berobat. Dia khawatir karena situasi rumah sakit di negeri +62 yang kadang menunda-nunda dalam menangani pasien. Bandingkan saja pasien BPJS, Asuransi dan biaya mandiri non perusahan pasti beda perlakuannya. Gercep alias gerak cepat belum membudaya. Penanganan pasien mengkhawatirkan, yang tentu sangat berbeda dengan rumah sakit-rumah sakit di luar negeri seperti di Kuching.

Kita semua pernah merasa bersyukur karena ada MBG makan bergizi gratis. Kedengarannya memang bagus dan meyakinkan karena bergizi dan gratis. Namun apakah makanan itu sesuai dengan takaran gizi untuk anak-anak usia dini? Takaran gizi anak-anak usia dini tidak pernah diperhatikan. Prinsipnya: namanya boleh keren yakni makan bergizi gratis tetap nilai gizinya rendah dan nilai higenisnya tidak diperhatikan dengan baik sehingga ada anak-anak yang keracunan makanan bergizi gratis. Ini memang mengkhawatirkan dan miris.

Kekhawatiran memang selalu ada namun hidup kita juga seperti roda yang sedang berputar. Tidak ada yang abadi! Masih ada seberkas cahaya yang akan muncul, perlahan namun pasti. Perhatikan tulisan bergambar ini:

“Tidak ada yang abadi. Sebab itu jangan terlalu khawatir karena seberapa pun buruknya situasi, pasti akan berubah juga”.

Tak ada yang abadi maka mari kita mengisinya dengan berbuat baik. Kalau bukan hari ini anda berbuat baik kepada orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel maka kapan lagi anda mau melayani Tuhan di dalam diri sesama? Tak ada yang abadi maka berdoalah supaya semua orang melihat kemuliaan Tuhan. Jangan khawatir!

P. John Laba, SDB