Berdamai dengan Tulus Hati

Berdamai dengan Hati Tulus

Membangun rasa damai itu tidaklah mudah. Orang harus belajar rendah hati, tulus, berani melupakan yang sudah berlalu. Prinsipnya adalah hal yang sudah berlalu, biarkanlah berlalu. Ini tentu sulit dan sulit. Tangan boleh berjabat, mulut berucap ‘damai’ tapi hati tidak tulus berdamai maka menjadi timbunan kebohongan.

Kita semua tentu mengalami sulitnya berdamai karena kita sendiri belum mampu berdamai dengan diri kita sendiri. Ada tumpukan masa lalu dan berlanjut sampai saat ini yang belum selesai. Tumpukan rasa marah, dendam berkepanjangan atau dendam tujuh turunan memang menjadi virus berbahaya dalam hidup bersama. Tapi kejujuran nurani manusia yang masih bernurani akan berkata ‘tidak baikkah anda menyimpan dendam’.

Tuhan Yesus adakah damai kita (Ef 2:14). Dia sendiri berkata: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yoh 14:27). Dan dalam Injil Mateus dikatakan: “Berbahgialah mereka yang membawa damai karena mereka akan disebut anak Allah” (Mat 5:9). Perkataan yang luar biasa bahkan Yesus sendiri adalah damai kita, tetapi betapa sulitnya membawa damai apalagi berdamai.

Sekarang perhatikan kutipan dalam Bahasa Spanyol dan terjenahannya ini:

“Kata Kakek saya: Tidaklah baik kalau anda menyimpan dendam, tapi juga kalau menyambut tangan seseorang yang sudah menggigitnya juga tidak baik.”

Mari kita menata diri untuk berdamai dengan diro sendiri, dengan sesama dan dengan Tuhan sang sumber danai kita. Ayo mari berdamai.

P. John Laba, SDB