Hari Sabtu, Setelah Rabu Abu 2026
Yes. 58:9b-14
Mzm. 86:1-2,3-4,5-6
Luk. 5:27-32
Pertobatan ala Lewi dalam Injil
Tuhan Yesus selalu memberi kejutan-kejutan tertentu di dalam hidup kita. Dia menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang sangat menyentuh hidup kita, karena Dia menggunakan pengalaman keseharian kita sebagai contoh atau ilustrasi dalam berbagai perumpamaan-Nya. Misalnya, ketika Ia memberi perumpamaan tentang penabur (Matius 13, Markus 4, Lukas 8). Perumpamaan tentang penabur mengisahkan tentang bagaimaman sang penabur bebas mengambil benih dan menaburkannya tanpa memilih Lokasi mana yang cocok untuk ditaburkan. Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana kita sebagai manusia menerima Sabda Tuhan (benih) berdasarkan kondisi hatinya (tanah atau medium). Sabda yang ditaburkan menghasilkan buah, jika diterima dengan sungguh-sungguh, namun gagal tumbuh karena kerasnya hati, kedangkalan iman, atau kekhawatiran dunia. Ini adalah contoh kejutan bagi para murid dan tentu saha kita semua yang membacanya saat ini.
Kejutan yang sama kita dengar dan merasakannya pada hari ini. Tuhan Yesus sedang berkeliling dan berbuat baik. Ia memanggil para murid di sekitar danau Galilea yang saat itu adalah sebuah pusat perniagaan. Tentu saja Galilea adalah tempat yang sangat ramai! Ia memanggil para nelayan sederhana yakni Simon Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes. Mereka semua diubah Yesus dari pekerjaan Penjala ikan menjadi Penjala manusia. Kali ini Ia berjalan dan melihat Lewi sang pemungut cukai atau kita mengenalnya sebagai Matius, salah seorang penulis Injil. Pekerjaan Lewi adalah memungut bea atau cukai. Tuhan Yesus menjumpainya di rumah cukai dan pasti ia sedang melaksanakan tugasnya. Ini adalah tempat yang basah karena ia mudah mendapat uang dengan cara baik atau tidak baik. Tuhan Yesus memandang dan memanggilnya: “Ikutlah Aku”. Lewi yang sering dibully, menjadi sasaran kebencan dan disamakan dengan kaum pendosa ini berdiri, meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus.
Mari kita memperhatikan gerak fisik dan psikologis Lewi. Dia mendengar namanya dipangil dan ia merasa dikasihi oleh Yesus. Dia mendengar ajakan Yesus ‘Ikutlah Aku’ dan ia segera berdiri, meninggalkan segala sesuatu, mengikuti Yesus dan mengadakan perjamuan besar di rumahnya bersama Yesus dan para rekan sejawatnya yaitu para pemungut cukai. Lewi melakukan sebuah pertobatan yang radikal dan menyenangkan hati Tuhan. Tuhan Yesus sendiri memuji Lewi dalam ungkapan sebagai reaksi balik kepada kaum Farisi dan para Ahli Taurat:
“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:31-32).
Kisah Lewi dalam Injil adalah kisah hidup anda dan saya saat ini. Kita adalah Lewi masa kini yang hidup dalam situasi hidup yang nyata. Kita pun kadang sadar atau tidak sadar melakukan penyalahgunaan tuga dan wewenang kita untuk kepuasan diri atau menguntungkan diri kita. Sebut saja dalam hal waktu, dana yang bukan hak kita dan lain sebagainya. Bedanya dengan Lewi adalah meskipun ia dibully,l dibenci namun ketika dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk mengikuti-Nya, Lewi langsung berdiri, meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus. Tantu ini sangat berbeda dengan anda dan saya. Mengapa? Karena ‘di mana hartamu berada di situ hatimu juga berada’ (Mat 6:21) ada di dalam diri kita masing-masing. Kita sulit untuk mendengar ajakan Yesus, sulit untuk berdiri apalagi meninggalkan segala sesuatu dan bersyukur dalam sebuah perjamuan besar. Kita lebih nyaman dengan harta yang diperoleh entah dengan jujur atau tidak jujur.
Kita harus bertobat seperti Lewi. Kita harus berani berdiri dan meninggalkan zona nyaman. Inilah sebuah kejutan kalau kita bisa meninggalkan zona nyaman atau lahan yang basah, menyenangkan dan sekaligus memenjarakan kita. Kita seharusnya keluar dan melakukan perjamuan yang tidak hanya sebagai tanda pertobatan tetapi juga perbuatan kasih. Tuhan berkata dalam nubuat nabi Yesaya:
“Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.” (Yes 58:9-10).
Perbuatan kasih kepada orang-orang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel inilah yang benar-benar membuka telinga Tuhan dan Ia pasti mendengarkan seruan kita. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk bertobat.
Pada hari ini kita perlu mengambil sosok Lewi yang menginspirasi kita untuk bertobat. Ingatlah: “Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej. 3:19). Maka “Bertobatlah dan Percayalah kepada Inil!” (Mrk 1:15). Anda an saya pasti bisa bertobat dan percaya kepada Injil.
P. John Laba, SDB