Homili 25 Februari 2026 – Hari Rabu Pekan I Prapaskah

Hari Rabu Pekan I Prapaskah
BcE Yun. 3:1-10
Mzm. 51:3-4,12-13,18-19
Luk. 11:29-32

Misionaris Pertobatan masa kini

Nama Yunus. Nama Yunus berarti “merpati”. Ia adalah putra Amitai (Yun 1:1) dan juga disebutkan di dalam 2Raj 14:25 sebagai nabi di kerajaan utara atau Kerajaan Israel semasa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM). Ia berasal dari Gat-Hefer sekitar tiga sampai lima kilometer sebelah utara Nazaret di Galilea. Namanya dikenang sebagai sosok misinaris pertobatan pada hari ini dan sepanjang masa Prapaskah.

Yunus sendiri pernah gagal menjalankan tugas misionernya. Kegagalan utamanya disebabkan oleh ketidaktaatannya ketika diutus oleh Tuhan untuk pergi ke Niniwe. Mengapa ia tidak taat kepada Tuhan? Ia memang masih terdorong oleh perasaan benci karena Niniwe adalah musuh dari Bangsa Israel dan adanya ketakutan bahwa Tuhan akan mengampuni mereka. Sebab itu Yunus lalu melarikan diri ke Tarsis. Akibatnya badai mengamuk dan dialah yang dibuang sehingga ia masuk ke dalam perut ikan paus selama tiga malam. Dia kemudian bertobat dan kembali menjalankan tugas misinernya untuk mempertobatkan bangsa Niniwe. Yunus pernah melakukan hal-hal ini yang merupakan kelemahannya: melarikan diri, berkeras hati, tidak taat dan tidak senang akan belas kasih dari Tuhan. Pertobatan membuatnya berubah untuk mempertobatkan sesama lain di Niniwe.

Buah pertobatan dari Yunus adalah ia dapat kembali ke jalan yang ditunjukkan Tuhan yakni jalan ke Niniwe. Niniwe adalah ibu kita negara Asyur atau Asiria kuno yang terletak di tepi timur sungai Tigris (saat ini Mosul, Irak). Kota ini adalah kota besar namun dikenal sebagai kota pusat kejahatan sehingga Tuhan mengutus Yunus untuk mempertobatkannya. Seruan tobat dari Tuhan melalui Yunus didengar oleh Raja dan segenap warga Niniwe sehingga mereka serius melakukan pertobatan masal. Kita dapat membacanya di dalam Kitab Yunus:

“Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu” (Yun 3:5-6).

Di samping seruan tobat untuk manusia, Raja juga meminta supaya ternak mereka seperti lembu, sapi, kambing, domba juga berpuasa dengan tidak memakan rumput dan minum air.

Pertobatan itu dapat terjadi karena Yunus secara pribadi bertobat sehingga Ia juga dapat mempertobatkan orang-orang lain dalam hal ini bangsa Niniwe. Yunus menjadi misionaris pertobatan karena ia juga mengalami kasih dan kerahiman Allah. Pengalaman kasih Allah ini diungkapkan Yunus dalam Kitabnya. Yunus menjadi tanda kasih sayang dan penyelamatan Allah terhadap bangsa Niniwe dan bagsa lain di dunia sepanjang zaman. Kasih dan kerahiman Tuhan bukan hanya ditujukan kepada Yunus dan Bangsanya Israel, tetapi kasih dan kerahiman Tuhan juga dialami oleh bangsa-bangsa asing seperti Niniwe. Yunus dengan jelas menunjukkan kasih sayang Tuhan kepada semua orang, bahkan orang kafir dan berdosa sekali pun seperti bansa Niniwe.

Tuhan Yesus di dalam bacaan Injil mengambil contoh Yunus sebagai misionaris pertobatan. Dia pernah berdosa karena tidak taat kepada Tuhan. Namun Tuhan memiliki rencana yang inda,h sehingga mempertobatkannya. Dengan demikian ia diapun mempertobatkan orang lain. Ketidaktaatan Yunus menyebabkan dia terbaring dalam perut ikan Paus selama tiga malam, hingga Tuhan kembali menyelamatkannya dan mengutusnya sebagai misioaris pertobatan bagi bagsa Niniwe. Tuhan Yesus lebih dari pada Yunus. Tuhan Yesus adalah misionaris pertobatan sejati. Dia taat kepada Bapa di Sorga dan memiliki kuasa untuk mempertobatkan manusia dari belenggu dosa. Dia berkata: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk 1:15). Yesus menunjukkan wajah kerahiman Allah sendiri bagi manusia.

Tuhan Yesus memang lebih dari segalanya dan semua orang. Yesus adalah Tuhan sedangkan Salomo adalah seorang manusia biasa yang berdosa. Yesus lebih dari Salomo yang dianggap bijaksana sebab Yesus adalah sumber kebijaksanaan. Yesus adalah Raja segala raja sedangkan Salomo adalah seorang raja saja karena dia seorang manusia biasa. Bagaimana dengan Yunus? Yesus lebih dari Yunus karena Yesus taat kepada Bapa sedangkan Yunus mulanya tidak taat kepada Tuhan. Tuhan Yesus bisa mempertobatkan semua bangsa sedangkan Yunus hanhya mempertobatkan sebuah bangsa asing. Tuhan Yesus adalah Anak Allah yang menyelamatkan manusia sedangkan Yunus adalah seorang nabi yang mempertobatkan manusia. Yesus berada di dalam perut bumi selama tiga hari kemudian bangkit dari alam maut sedangkan Yunus berada di dalam perut ikan Paus selama tiga malam dan di selamatkan oleh Tuhan.

Pesan penting bagi kita pada hari ini adalah kita harus bertobat sehingga kita juga menjadi misionaris untuk mempertobatkan sesama orang yang lain. Kita harus berani seperti Yunus yang berani berbicara tentang dosa manusia di Niniwe, seperti Tuhan Yesus yang menyerukan pertobatan manusia yang berdosa dan percaya kepada Injil. Kita tidak harus tinggal diam atau mencari aman dan membiarkan dosa menguasai manusia di bumi ini. Kita harus berani untuk membongkar dan menyelamatkan sesama dari dosa-dosanya.

P. John Laba, SDB