Hari Minggu Biasa XXVA
Yes. 55:6-9
Mzm. 145:2-3,8-9,17-18
Flp. 1:20c-24,27a
Mat. 20:1-16a.
Menata Kemurahan Hati kita
Kita semua mengenal kata murah hati. Murah hati adalah sifat atau karakter seseorang yang suka memberi, tidak pelit, penyayang, dan mudah menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Orang yang murah hati selalu menunjukkan ciri khasnya seperti ini: Orang itu suka berbagi. Ia mudah membagikan waktu, tenaga, atau materi kepada orang lain yang membutuhkan. Orang yang murah hati itu bersifat tulus. Ia membantu tanpa pamrih atau niat mencari pujian. Orang yang murah hati memiliki empati yang tinggi. Ia menjadi peka terhadap penderitaan atau kesusahan orang di sekitar. Tuhan sendiri berkata kepada kita: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Luk 6:36). Kita memang perlu belajar terus menerus untuk bermurah hati seperti Tuhan sendiri.
Sabda Tuhan pada Hari Minggu ini membuka pintu iman kita untuk menjadi murah hati tanpa melekat pada kebiasaan mengingat atau menghitung jasa-jasa pribadi kita. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan kita untuk selalu fokus pada Tuhan yang murah hati kepada semua orang. Kita diingatkan untuk mencari Tuhan selagi Ia berkenan untuk ditemui dan berseru kepada-Nya selagi Ia mau didekati. Orang perlu belajar menata kemurahan hatinya dengan memandang Allah sendiri. Bagaimana caranya? Orang perlu bertransformasi dalam hidup. Orang fasik dan orang jahat harus berani meninggalkan hidup lama mereka. Inilah transformasi yang radikal untuk mengalami kemurahan hati Allah. Nabi Yesaya mengatakan bahwa Tuhan itu murah hati. Ia mengasihani dan memberi pengampunan yang melimpah.
Tuhan menunjukkan kemurahan hati tanpa batas kepada semua orang, dan kadang-kadang membuat manusia iri hati dengan kemurahan hati Tuhan. Penginjil Matius pada hari Minggu ini menggambarkan kemurahan hati Tuhan yang tentu kita tidak bisa membandingkan dengan prinsip keadilan apapun. Tuhan Yesus memberi perumpamaan yang menarik perhatian kita tentang Kerajaan Surga. Kerajaan Surga itu diumpamakan dengan seorang pemilik kebun anggur. Pemilik kebun anggur ini murah hati, peduli dan adil. Sebab itu pada pagi-pagi sekitar pukul enam, pukul sembilan, siang pukul dua belas, pukul limabelas dan dan sore pukul tujuhbelas ia keluar rumahnya untuk mencari pekerja, dalam hal ini mereka yang menganggur di jalan dan pasar. Ia mengajak mereka, menyepakati upah kerja seharian yakni 1 dinar. Pada sore hari yakni pukul enam, ia menginstruksikan mandor untuk membayar upah pekerja harian itu, mulai dari mereka yang dipanggil untuk bekerja pada jam 5, 3,12,9 dan 6.
Tentu saja mengherankan, bukan hanya zaman doeloe tetapi kita yang membaca Injil pada hari ini ikut merasa heran. Mengapa justru mereka yang dipanggil itu adalah orang-orang yang datang paling terakhir dan bekerja pun hanya satu jam saja. Kita perlu mengingat perkataan Tuhan Yesus ini: “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” (Mat 19:30). Tuhan memiliki kehendak untuk melakukan segala sesuatu. Manusia tidak mengatur Tuhan, justru Tuhanlah yang mengatur manusia. Lihatlah betapa bedanya Tuhan dan manusia. Tuhan begitu murah hati dan peduli dengan manusia, tetapi manusia malah tidak menyadarinya dan hanya menuntut serta meminta dari Tuhan. Di pihak manusia, mudah lupa pada kesepakatan dan komitmen dengan Tuhan. Dengan demikian sikap egois merajalela dalam dirinya dan marah kepada Tuhan. Perkataan Tuhan ini membangkitkan pikiran kita untuk berubah: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15).
Santo Paulus sangat merasakan kemurahan hati Tuhan. Dia dengan masa lalu yang gelap namun bertransformasi secara radikal ketika berjumpa dengan Yesus yang bangkit dalam perjalanan ke Damsik. Pengalaman akan kemurahan hati Tuhan ini membuat Paulus membalas kemurahan hati Tuhan. Dia menjadi misionaris Agung dan mendapat banyak penderitaan. Dia dipenjarakan dan dari dalam penjara, ia bermurah hati dengan tidak meninggalkan jemaat yang dilayaninya. Perkataan Paulus bernuansa pengalaman akan kemurahan hati Tuhan adalah: “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21).
Sabda Tuhan pada hari ini sangat indah dan memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan kita. Kita selalu mengingat besarnya jasa pribadi dengan berkata: “Itu ada karena jasa saya”, “Sayalah yang melakukan segala sesuatu di sini” dan perkataan lain yang menjadikan kita sebagai pusat segalanya bukan Tuhan yang menjadi pusat segalanya. Kita mudah menuntut tetapi lemah dalam menjalani komitmen pribadi kita. Dala dunia kerja, orang itu ‘hanya fokus pada upah’ saja tetapi lalai dalam tugas dan kewajibannya. Ia datang dan pergi seperti pemilik unit karya, tetapi ketika upah lambat ditransfer maka bersungut-sungut dan ma berdemo melawan pemilik unit karya. Padahal sudah ada kesepakatan dalam kontrak kerja. Sifat iri hati selalu ada dalam hidup setiap pribadi tetapi semangat pengorbanan diri sangat rendah. Kalau semangat seperti ini rendah maka tak ada kemurahan hati, ketulusan dan empati. Betapa rapuhnya manusia masa kini, anda dan. Saya! Ampunilah kami dan bantulah agar kami kembali menata kemurahan hati kami seperti Engkau sendiri murah hati adanya.
P. John Laba, SDB