Homili 31 Oktober 2026 – Renungan Misioner

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXXA
Flp. 1:18b-26
Mzm. 42:2.3.5bcd
Luk. 14:1.7-11.

Seorang Misionaris Hidup bagi Kristus

Kita berada di penghujung Bulan Rosario sekaligus bulan Misi. Renungan kita bersama pada hari ini, terinspirasi dari Surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp 1:21). Seorang misionaris sejati mengikuti teladan dari Santo Paulus sang Misionaris Agung, yang bahkan di dalam penjara sekalipun, tetap bermegah dalam Kristus dan mengakui imannya kepada Kristus.

Saya teringat pada Beato Fulton J. Sheen. Uskup Agung ini adalah salah satu penginjil Katolik paling berpengaruh pada abad ke-20, yang menyebarkan Injil kepada jutaan orang melalui khotbah, tulisan, serta pemanfaatan radio dan televisi yang inovatif. Sebagai uskup, teolog, dan komunikator, beliau memahami misi sebagai pewartaan Kristus di ruang publik—dengan melibatkan budaya, intelektualitas, dan kehidupan sehari-hari secara jelas dan penuh keyakinan. Pelayanannya menunjukkan bahwa karya misionaris tidak terbatas pada negeri-negeri yang jauh, melainkan mencakup kesaksian iman yang berani di mana pun orang-orang berada. Alasan beliau menginspirasi adalah Evangelisasi misionaris melalui kebenaran, keberanian, dan keterlibatan kreatif dengan dunia modern. Beato Fulton J Sheen pernah menderita karena disingkirkan atau dipinggirkan seperti Paulus dalam Penjara, namun ia tetap hidup untuk Kristus. Pengasingannya adalah sebuah keuntungan baginya karena ia semakin teguh mewartakan Kristus.

Pengalaman Santo Paulus dan Beato Fulton dalam bermisi adalah pengalaman nyata Gereja khususnya para misionaris. Ada pengalaman penderitaan: dipenjara, disingkirkan oleh sesama, namun semangat misioner mereka tetap membara. Sangat tepat perkataan Santo Paulus: “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Misionaris seperti ini yang patut kita ikuti. Kita juga belajar dari Bunda Maria, Ratu Rosario, Ibu para misionaris. Dia juga misionaris sejati yang membawa Yesus sejak dalam kandungannya untuk mewartakan-Nya.

P. John Laba, SDB