Homili 6 November 2020

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXXI
Flp. 3:17-4:1
Mzm. 122:1-2,3-4a.4b-5
Luk. 16:1-8

Mataku selalu tertuju ke surga

Saya pernah berbicara dengan seorang bapa yang selalu mengikuti misa harian, datang dan duduk di bangku yang sama. Kadang-kadang ia berlaku sebagai koster kalau kebetulan kosternya lambat ke gereja. Saya mendengar pengakuannya yang sangat indah dan inspiratif, ketika saya menanyakannya alasan mengapa ia selalu mengikuti misa pagi. Ia mengatakan: “Romo saya sudah berjanji kepada Tuhan dan kepada diriku sendiri bahwa saya akan mengikuti misa pagi setiap hari. Janji itu saya wujudkan karena saya mau supaya mata say aini selalu tertuju kepada Tuhan di surga, dan saya juga merasa bahwa setiap hari baru adalah hari yang terakhir bagiku.” Orang sederhana memiliki pengalaman iman yang mendalam dan saya bangga dengannya. Bagi saya kekudusan itu bukan hanya pada hal-hal yang luar biasa tetapi pada pengalaman iman yang sederhana seperti ini.

Pada hari ini kita mendapat kekuatan dan Tuhan melalui sabda-Nya. Dalam bacaan pertama santu Paulus meminta perhatian kepada jemaat di Filipi untuk mengikuti teladannya dan teladan semua orang yang berpengaruh terhadap pertumbuhan iman mereka. Mengapa Paulus mengingatkan jemaat di Filipi tentang keteladanan? Alasannya adalah karena banyak di antara jemaat yang hidupnya sudah jauh dari semangat Injil yang diwartakan Paulus. Ia bahkan merasa sedih karena penyimpangan mereka ini. Mereka melawan salib Kristus. Apa yang menjadi penyimpangan atau katakanlah skandal yang dilakukan jemaat di Filipi? Paulus mencatatnya sebagai berikut: “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” (Flp 3:19). Semua ini ada dan terang benderang dalam komunitas Filipi.

Berkaitan dengan hal-hal ini, Paulus mengarahkan perhatian mereka untuk kembali kepada Injil dan supaya mata mereka benar-benar tertuju kepada Tuhan di surga. Paulus mengatakan: “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya.” (Flp 3:20-21). Jemaat di Filipi harus berusaha untuk membangun semangat metanoia atau pertobatan sejati. Orientasi pikiran mereka adalah ke surga. Mata yang tertuju ke surga karena kita adalah warga surga. Menjadi warga surga sebab Tuhan Yesus sendiri yang akan mengubah tubuh kita yang hina menjadi tubuh yang mulia serupa dengan tubuh Kristus sendiri. Tentu saja tubuh yang mulia itu tidak bercacat dan tidak bercela. Inilah kekudusan di hadirat Tuhan. Maka mata semua orang hendaknya selalu tertuju ke surga, dan tetap berdiri teguh di hadapan Tuhan.

Mata yang teruju ke surga bukan hanya sekedar sebuah pernyataan, tetapi sebuah harapan yang pasti. Tuhan Yesus dalam bacaan Injil memberikan perumpamaan yang inspiratif bagi kita semua tentang bagaimana usaha kita untuk menjadi warga surga. Ia memberikan perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur di hadapan tuannya. Ketika ia sudah tahu bahwa dirinya akan dipecat oleh tuannya maka ia berusaha menggunakan kecerdikannya untuk mendapatkan jaminan akan masa depan. Inilah pokok pikirannya: “Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.” (Luk 16:3-4).

Hal konkret yang dilakukannya untuk menjadi jaminan masa depannya adalah dengan membuat surat utang palsu. Dalam hal ini semua orang yang memiliki utang tertentu akan dikuranginya. Hanya dengan cara seperti ini, orang pasti akan menyenanginya dan menjamin hidupnya setelah dipecat. Sikap ini lantas menjadi sebuah pujian dari tuan bagi kecerdikannya, meskipun tuan itu mengetahui kebusukannya. Pada akhirnya Yesus berkata: “Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.” (Luk 16: 8).

Ada sebuah pertanyaan yang muncul di sini. Mengapa tuan itu memuji bendaharanya yang tidak jujur karena memalsukan surat utang? Tuan itu memuji sang bendahara karena kecerdikannya untuk mengelabui tuannya demi mendapatkan jaminan akan masa depannya. Dalam masyarakat kita selalu terjadi hal-hal seperti ini. Banyak bendahara yang cerdik sehingga merugikan banyak orang. Yesus memberikan contoh perumpamaan ini untuk mengatakan kepada kita supaya menjadi anak terang yang memiliki kewarganegaraan surga. Untuk itu bukan hanya orientasi kita untuk pergi ke surga dan menjadi warganya, tetapi kita harus cerdik untuk mencari jalan yang tepat untuk masuk surga. Apa saja kecerdikan yang dapat kita lakukan: berdoa, berkurban dan berderma atau melakukan karya amal kasih kepada sesama manusia. Tuhan Yesus pernah berkata: “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Mat 10:16).

Pada hari ini mata kita tertuju ke surga. Mari kita membangun semangat tobat dan berjalan menuju ke surga, menggapai kebahagiaan kekal.

PJ-SDB