Hari Jumat Pekan I Prapaskah
Yeh. 18:21-28
Mzm. 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8
Mat. 5:20-26
Berdamailah dengan saudaramu!
Hari Jumat Pertama (Jumper) dalam bulan Maret atau Jumper ketiga di tahun 2023 ini. Pada hari ini mata dan hati kita tertuju kepada sosok Tuhan Yesus dengan Hati Amat Kudus-Nya dan Yesus dalam jalan salib-Nya. Adalah sebuah kebiasaan baik ketika tiba hari Jumat pertama dalam bulan, di mana banyak di antara kita menyempatkan diri untuk mengikuti perayaan Ekaristi di Gereja atau di tempat-tempat tertentu. Hari Jumat pertama membantu kita untuk merenungkan kasih dan kebaikan Tuhan Yesus Kristus. Lambung-Nya yang kudus ditikam dengan tombak bengis. Ketika itu keluar darah dan air yang menjadi simbol sakramen-sakramen di dalam Gereja. Pada saat yang sama kita semua dibasuh oleh darah-Nya Yang Mulia. Santo Petrus berkata: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1Ptr 1:18-19). Hari ini kita mengikuti ibadat Jalan Salib kedua dalam masa prapaskah kita. Ibadat Jalan Salib turut membantu kita untuk berjalan bersama Yesus dan merasakan penderitaan-Nya. Kita juga dibantu untuk berempati dengan saudara dan saudari kita yang masuk kategori KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Terpinggirkan dan Difabel).
Santo Paulus mengatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Damai Sejahtera kita (Ef 2:14). Melalui devosi kepada Hati Amat Kudus Yesus dalam perayaan Ekaristi Jumat Pertama dan ibadat Jalan Salib kita hari ini, sangat membantu kita untuk mengalami dan merasakan kehadiran Tuhan Yesus sebagai Damai Sejahtera kita dengan Bapa di Surga. Tentu saja kita tidak hanya berdamai dengan Bapa di Surga, tetapi Tuhan Yesus juga menghendaki supaya kita berdamai dengan saudara-saudari di sekitar kita. Tuhan Yesus berkata: “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Mat 5:23-24). Perkataan Tuhan Yesus ini mengoreksi cara hidup kita yang dangkal di hadirat-Nya. Mungkin saja kita berpikir bahwa dengan mempersembahkan hasil usaha kita kepada Tuhan itu sudah cukup, sedangkan berdamai dengan saudara-saudari kita itu urusan pribadi dan kedua. Tidaklah demikian! Kalau saja hatimu masih ada beban maka berusaha untuk melepaskan bebanmu itu.
Kita perlu bersikap realistis dengan hidup berdampingan dengan saudara-saudari kita. Kadang-kadang perilaku saudara dan saudari kita lebih jahat dari orang yang tidak sedarah dengan kita. Coba anda pikirkan saudaramu yang meminjam uangmu kemudian masa bodoh saja. Ketika anda menagih uangmu, dia menjadi lebih ganas kepadamu. Menyakitkan bukan? Hal-hal ini sering terjadi di dalam hidup kita. Saudari dan saudara kandung menjadi duri yang tajam dalam hidup kita. Nah, berhadapan dengan situasi ini, kita sebenarnya berada dalam situasi yang sulit. Jalan pengampunan menjadi sangat sulit untuk kita lewati. Sangat menyakitkan namun kita harus berusaha untuk keluar dari situasi seperti ini. Di saat-saat seperti ini kita perlu memiliki iman untuk berani mengampuni dan melupakan semua yang telah terjadi. Sikap kristiani yang diajarkan Tuhan terungkap dalam pesan Injil pada hari ini yakni untuk membangun rasa damai dan pertobatan dengan saudara kita. Satu prinsip yang positif adalah: “Uang itu kita masih bisa mencarinya namun persaudaraan itu tidak bisa digantikan.” Saudara itu seperti jari tangan dan kaki kita, kalau satu jarinya hilang maka kita akan dianggap cacat. Tuhan akan mencukupkan semuanya di dalam hidup kita. Marah dan mencaci maki saudara kita bukanlah solusi karena ujung-ujungnya kita berdosa. Berdamailah dengan saudaramu.
Selain damai, hal lain yang penting dalam Sabda yang kita dengar pada hari ini adalah pertobatan. Tuhan Yesus datang untuk mencari orang berdosa, supaya mereka bertobat dan memperoleh keselamatan. Tuhan melalui nabi Yehezkiel dalam bacaan pertama sangat mengapresiasi semangat kaum fasik untik bertobat. Kita mendengar perkataan ini: “Jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.” (Yeh 18:21). Tuhan bahkan akan melupakan durhaka yang dilakukan orang fasik. Hal ini menjadi berbeda dengan orang benar yang akhirnya menjadi tidak setia karena berbuat dosa. Kita mendengar perkataan ini: “Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik? apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya.” (Yeh 18:24). Tuhan benar-benar menghendaki supaya kita hidup sebagai orang yang baik dan benar di hadirat-Nya. Orang berdosa bertobat dan orang benar jangan jatuh ke dalam dosa.
Pada hari ini kita semua dipulihkan. Kita perlu berusaha untuk berdamai dan bertobat supaya masa Prapaskah kita benar-benar bermakna. Salam Jumper dan Tuhan memberkati.
P. John Laba, SDB