HARI MINGGU PRAPASKAH IA
Kej. 2:7-9; 3:1-7
Mzm. 51:3-4,5-6a,12-13,14,17
Rm. 5:12-19 (panjang) atau Rm. 5:12,17-19 (singkat)
Mat. 4:1-11.
Dari Firdaus sampai ke Padang Gurun Masih tetap ada godaan
Selamat memulai Retret Agung selama 40 hari masa Prapaskah ini. Kita bersama sudah melewati 4 hari pertama (dari hari Rabu Abu sampai hari Sabtu kemarin), maka tinggal 36 hari puasa kita. Rasanya begitu cepat waktu ini berlalu sehingga apabila kita tidak setia melakukannya maka kita benar-benar lemah sebagai manusia. Kita benar-benar lemah karena selalu ada godaan atau pencobaan dalam hidup ini. Pikirkan saja godaan soal makan yang hanya sekali saja dari iblis kepada Adam dan Hawa di Taman Firdaus namun mereka langsung jatuh ke dalam dosa asal. Di Padang Gurun di mana Tuhan Yesus sebagai Adam Baru sedang berpuasa juga digoda oleh iblis sebanyak tiga kali namun Ia berhasil mengalahkan godaan iblis itu. Hidup manusiawi kita memang selalu penuh dengan godaan. Godaan pertama yang dapat menjatuhkan kemanusiaan kita adalah soal makan dan minum.
Mari kita kembali ke kisah tentang godaan pertama yang dialami oleh manusia pertama di Taman Firdaus. Tuhan Allah itu sungguh baik bagi manusia sebagai mahkota dari segala ciptaan-Nya. Tuhan Allah menyerahkan seluruh isi Taman Firdaus kepada manusia pertama (Adam) dan ibu dari segala yang hidup (Hawa) sebagai administrator bukan sebagai penguasa sewenang-wenang. Ketika mereka digoda oleh ular sebagai iblis untuk memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan tidak baik, ternyata mereka berdua langsung jatuh ke dalam dosa asal. Mereka melupakan kebaikan Tuhan. Mereka tergoda dan jatuh ke dalam dosa asal karena makanan. Taman Firdaus begitu kaya raya dan diperuntukan bagi Adam dan Hawa tetapi mereka tergoda untuk makan lagi dari apa yang seharusnya mereka tidak perlu makan.
Dari Taman Firdaus yang kaya raya itu, mari kita yang sudah dibaptis dan penuh dengan Roh Kudus ini berjalan bersama Tuhan Yesus ke Padang Gurung. Padang Gurun adalah tempat yang kering kerontang. Sebab itu orang harus bergumul dengan dirinya, dengan alam ciptaan yang keras dan tentu saja bergumul di hadirat Tuhan sang Pencipta. Orang harus benar-benar berjuang untuk hidup.
Penginjil Matius mencatat tiga godaan yang dialami oleh Tuhan Yesus di Padang Gurun.
Pertama, Godaan iblis kepada Yesus untuk mengubah batu menjadi roti. Ini adalah godaan fisik atau godaan materi. Pada saat lapar, Yesus ditantang untuk mengubah batu menjadi roti, namun Ia menolak untuk memprioritaskan lapar fisik di atas ketaatan rohani kepada Bapa, dengan mengutip Kitab Ulangan 8:3: “Manusia tidak hidup dari roti saja”.
Kedua, Godaan Iblis kepada Yesus untuk melompat dari bubungan Bait Suci. Ini godaan tentang Identitas diri. Iblis menantang Yesus untuk melompat dari bubungan Bait Suci untuk membuktikan status-Nya sebagai Anak Allah, dengan menyalahgunakan apa yang kita baca juga dalam Kitab Mazmur 91. Yesus menanggapinya dengan mengutip Kitab Ulangan 6:16: “Janganlah mencobai Tuhan Allahmu.”
Ketiga, Godaan iblis tentang kekuasaan duniawi. Ini adalah godaan berkaitan dengan kekuasaan sekaligus penyembahan berhala. Iblis menawarkan semua kerajaan di dunia untuk diberikan kepada Yesus jika Yesus menyembahnya. Yesus menolak jalan pintas ini menuju kepada kekuasaan, dan Ia menunjukkan kuasa Ilahi-Nya dengan berkata “Pergilah, Iblis!”. Ia juga mengutip Kitab Ulangan 6:13: “Sembahlah Tuhan Allahmu dan layanilah hanya bagi Dia.”
Dari Firdaus hingga Padang Gurung, dua Lokasi yang berbeda, dua realitas yang berbeda namun akrab dengan kehidupan kita. Di Firdaus itu memang kaya raya, berkelimpahan dan menggiurkan sehingga hanya satu kali ada godaan langsung saja membuat manusia pertama jatuh ke dalam dosa. Santo Paulus dalam bacaan kedua hari ini melihat akibat dari dosa asal yakni kematian. Ia menulis: “Sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm 5:12). Orang hanya dapat hidup karena jasa Yesus Kristus (Rm 5: 17). Kalau saja ada iman dan kesadaran yang dalam maka tentu dunia kita ini berbeda. Tentu dunia yang lebih baik karena sesuai dengan kehendak Tuhan.
Pada saat ini bumi kita sedang mengalami sakit parah. Perlu sekali pertobatan ekologis! Alam Nusantara yang kaya raya akan punah suatu saat karena kerakusan dan ketamakan oknum-oknum manusia masa kini. Hutan dibabat dan ditanami dengan kelapa sawit adalah salah satu contoh nyata. Penambangan liar yang dibiarkan begitu saja sehingga dampaknya sedang dirasakan oleh rakyar kecil. Banjir ganas menyisahkan penderitaan saudari dan saudara kita di berbagai tempat haruslah membuka pikiran kita untuk menjadi manusia yang berotak bukan hanya berotot saja.
Kita seharusnya belajar dari Yesus. Ia berada di Padang Gurun yang serba kekurangan bukan seperti di Firdaus yang berkelimpahan. Namun ketika digoda oleh iblis sebanyak tiga kali, Dia berhasil mengalahkan godaan-godaan itu. Godaan tentang materi atau harta, identitas atau status sosial dan kekuasaan di ‘Padang Gurun’ itu bisa dikalahkan Yesus karena Dia taat kepada Bapa di Sorga.
Mari kita melihat Padang Gurun kita saat ini. Padang Gurun saat ini bukan untuk memurnikan diri tetapi semakin membuat orang menjadi gila. Di padang Gurun kehidupan yang serba kurang, orang semakin menjadi gila harta, gila hormat untuk status sosalnya dan gila kuasa. Kegilaan yang sedang terjadi adalah kegilaan menyongsong 2029. Kita benar-benar butuh Tuhan Yesus untuk menghancurkan kegilaan-kegilaan itu.
Apa yang harus kita lakukan?
Paus Leo ke-XIV dalam pesan Prapaskahnya tahun ini mengajak kita semua untuk kembali ke dalam Kitab Suci, supaya mengenal misteri Tuhan. Kita perlu mendengarkan Tuhan di dalam Kitab Suci sehingga dengan demikian kita juga mampu mendengarkan jeritan sesama di Padang Gurun kehidupan saat ini. Mereka itu kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Ini adalah Puasa kita yang benar dan dapat membawa kita kepada kehidupan bersama yang lebih adil.
Saya menutup Homili ini dengan mengutip pengalaman Mahatma Gandi. Ia memiliki sikap lepas bebas, tidak terikat pada materi, status sosial dan kekuasaan. Dikisahkan bahwa pada suatu ketika ia naik kereta api. Salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke atas rel kereta api. Pada saat kereta mulai bergerak, ia dengan tenang melemparkan pasangan sepatunya yang lain ke atas rel itu dekat dengan sepatuynya yang pertama. Ia lalu menjelaskan kepada teman-temannya yang bingung menyaksikannya bahwa masih ada orang miskin yang mencari sepatu-sepatu seperti itu dan kini akan memiliki sepasang sepatu yang berguna baginya. Inilah obat sederhana untuk mengatasi godaan. Bagaimana dengan kita?
P. John Laba, SDB