Homili 6 Mei 2026 – Injil Untuk Daily Fresh Juice (DFJ)

Hari Rabu Pekan V Paskah
Kis 15:1-6
Mzm 122:1-2.3-4a.4b-5
Yoh 15:1-8

Lectio:

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”
Demikianlah Sabda Tuhan
Terpujilah Kristus

Renungan:

Bersatu dengan Sumber kehidupan

Kita telah mendengar kesaksian para penginjil tentang kebangkitan Kristus dan penampakan-Nya di hadapan para murid sebagai saksi mata. Kesaksian para murid selaku saksi mata ini menjadi dasar yang menguatkan iman kita. Selanjutnya para penginjil membantu kita untuk mengenal Yesus lebih dalam lagi, Dia yang berkarya untuk menyelamatkan manusia dalam Sabda dan tindakan-Nya yang menyelamatkan.

Selama beberapa hari terakhir ini kita mendengar amanat perpisahan Tuhan Yesus kepada para murid-Nya. Amanat perpisahan Yesus adalah pesan, perintah, wejangan kepada para murid untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya dan sungguh-sungguh bersatu dengan-Nya. Sebagai contoh, amanat perpisahan Yesus dalam Injil Yohanes yang barusah kita dengar bersama sangatlah dalam maknanya. Suasana di sekitar Danau Galilea sangatlah subur dan cocok sebagai daerah pertanian, menjadi sarana pewartaan yang kontekstual bagi Yesus. Tuhan Yesus dengan jelas mengumpamakan diri-Nya sebagai ‘Pokok Anggur yang benar, Bapa di Surga adalah pengusahanya’.

Perkataan Tuhan Yesus ini membantu kita untuk mengingat kembali perkataan Yesus sebelumnya: “Aku dan Bapa adalah satu”. Maka sangatlah tepat bahwa Yesus sebagai Pokok Anggur dan Bapa sebagai pengusahanya. Pokok anggur memiliki ranting-ranting. Ranting-ranting yang tidak berbuah dipotong-Nya, sedangkan ranting-ranting yang berbuah dibersihkan supaya buahnya semakin lebat. Di sini kita melihat bahwa Persekutuan tidak hanya terhadi pada Yesus sebagai Putera dan Bapa di Surga dalam Roh Kudus, tetapi Persekutuan-Nya yang erat dengan manusia yang percaya atau mengimani-Nya itu seumpama pokok anggur dan ranting-rantingnya. Persekutuan Tuhan dengan manusia karena manusia memegang dan melaksanakan perintah dan Sabda-Nya sehingga Bapa dan Putera datang untuk diam bersama manusia yang berman itu.

Dalam amanat perpisahan Yesus kali ini, Ia mengajak ara murid-Nya untuk tinggal bersama-sama: “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu”. Ibarat pokok anggur dan ranting-rantingnya yang dapat menghasilkan buah, demikian juga setiap orang beriman bersatu dengan Tuhan untuk menghasilkan buah yang berlimpah rua. Yesus sebagai Pokok Anggur maka terlepas atau jauh dari Yesus kita sebagai ranting-ranting tidak dapat berbuat apa-apa, tidak menghasilkan buah apapun.

Sebab itu dari bacaan Injil yang kita dengar hari ini, menegaskan bahwa para murid dan orang beriman masa kini harus secara aktif “tinggal” atau tetap berada di dalam Yesus, selaku Pokok Anggur yang Sejati. Setiap murid Tuhan harus berusaha untuk mempertahankan hubungan yang hidup, yang memungkinkan mereka atau kita menghasilkan buah rohani, karena mereka atau kita tidak mampu mencapai pertumbuhan ini dengan kekuatan sendiri. Hubungan ini membawa kehidupan, memuliakan Allah, dan dipertahankan, kalau tidak maka akan seperti ranting anggur yang tdak berbuah dipangkas supaya dapat berbuah.

Apa yang harus kita lakukan?

Pertama, Kita tetap Berada di dalam Kristus: Kita berusaha untuk tetap terhubung dengan Yesus sebagai Pokok Anggur itu sangatlah penting dan harus. Ini adalah hubungan yang aktif dan berkelanjutan. Hal yang perlu dilakukan adalah merenungkan Sabda-Nya, mendoakan Sabda dan mentaati Sabda.

Kedua, Yesus sebagai Sumber Kehidupan. Yesus menekankan bahwa Dialah pokok anggur dan orang beriman adalah ranting-rantingnya; terpisah dari-Nya, ranting-ranting itu tidak dapat berbuat apa-apa. Perkataan Yesus ini menekankan perskutuan yang mendalam antara Yesus dan para murid-Nya dan kita yang mengimani-Nya saat ini.

Mari kita bertanya di dalam diri kita masing-masing, apakah kita sungguh bersatu dengan Yesus yang adalah sunber hidup kita? Apakah kita mematuhi dan melaksanakan perintah dan Sabda-Nya dalam hidup yang praktis, seperti memperhatikan orang-orang yang kecil, lemah, miskin, terisngkir dan difabel? Kita juga terpanggil menjadi ranting-ranting yag menghasilkan buah kebaikan dan kasih kepada sesama.

P. John Laba, SDB