Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XXIIIA
1Kor 9:16-19.22b-27
Mzm 84:3.4.5-6.12
Luk 6:39-42
Sukacita dalam Mewartakan Injil
Hari ini tanggal 11 September 2026. Secara Nasional, kita mengenalnya sebagai Hari Radio Nasional sekaligus Hari Ulang Tahun Radio Republik Indonesia (RRI). Saya mengingat kembali masa kecil di kampung di mana kami memiliki Radio di rumah untuk mendengar Warta Berita. Pada masa itu radio menjadi media yang sangat berguna dan sangat membantu hingga di daerah-daerah pedalaman seperti kampung saya di Lerek, Lembata, NTT. Pada hari ini juga kita mengenang kembali tragedi berdarah di New York, Amerika Serikat 25 tahun silam. Kita mengingat kembali akan tragedi berdarah 11 September 2001 di mana terjadi serangan para teroris dengan cara membajak pesawat komersial dan mengarahkannya ke sejumlah target penting di Amerika Serikat. Sebanyak tiga pesawat berhasil menabrak Gedung Pentagon di Washington DC juga Menara Kembar World Trade Center di New York. Satu pesawat lainnya jatuh di wilayah Pennsylvania setelah para penumpang melakukan perlawanan terhadap para pembajak. Peristowa berdarah ini menewaskan 3000 jiwa tak berdosa. Peristiwa berdarah ini menjadi kenangan yang tidak mudah untuk kita lupakan bersama.
Kita juga sudah sebelas hari berziarah bersama secara Rohani dalam Bulan Kitab Suci Nasional. Sebagaiman kita ketahui bahwa tema Bulan Kitab Suci Nasional pada tahun 2026 adalah “Yesus Guru yang penuh kuasa” dengan sub tema khususnya: ‘Wajah Yesus di dalam Injil Matius”. Kita semua tentu saja diingatkan untuk memandang dan merenung Tuhan Yesus sang Guru yang penuh kuasa. Kita mestinya merasa takjub kepada Tuhan Yesus dan semakin mengasihi-Nya. Kita harus berusaha untuk mendengar Yesus dalam Sabda-Nya, membaca, merenungkan dan menjadi pelaku-pelaku Sabda atau pelaku Firman Tuhan dalam hidup sehar-hari.
Santo Paulus mengalami transformasi yang luar biasa. Sebelumnya beliau adalah Saulus dengan masa lalunya yang kejam dan bengis. Tuhan Yesus mengubahnya menjadi baru dalam perjalanannya ke Damsyik. Kejatuhannya menjadi momen baru baginya. Sebuah transformasi radikal yang mengubahnya dari Saulus menjadi Paulus. Saulus berasal dari Tarsus, dilahirkan sebagai seorang Yahudi, “disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat dan seorang Farisi” (Filipi 3:5). Kedua orang tuanya memberikan nama Ibrani yaitu Saulus, tetapi karena ayahnya seorang warga negara Romawi (dan karena itu pula, Saulus mewarisi kewarganegaraan Romawi), Saulus juga punya nama Latin yaitu Paulus (Kis 16:37, 22:25-28). Kebiasaan memiliki nama ganda merupakan hal yang lumrah pada zaman itu. Karena ia diberarkan dalam lingkungan orang Farisi yang ketat, maka nama Saulus menjadi nama yang lebih tepat digunakan. Namun setelah pertobatannya, Saulus memutuskan untuk mengabarkan Injil kepada bangsa bukan Yahudi, maka ia menggunakan nama yang sudah lama tidak digunakannya dan lebih dikenal sebagai Paulus, yaitu sebuah nama yang biasa dipakai oleh orang bukan Yahudi. Tepat sekali perkataan Roh Kudus di Antiokhia: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” (Kis 13:2). Dia lalu menjadi misionaris Agund dan di Korintus ia dengan tulus berkata: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor 9: 16).
Lalu apakah ada upah sebagai pewarta Injil bagi Paulus? Tuhan Yesus mengatakan bahwa seorang pekerja patut mendapat uoahnya (Luk 10:7). Lalu bagaimana dengan Paulus dan misinya, apakah ia mendapat upah sebagai pewarta Injil? Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus juga mengulangi perkataan Tuhan Yesus: “Pekerja patut mendapat upahnya” (1Tim 5:18). Santo Paulus dengan tegas mengatakan: “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1Kor 9:18). Paulus benar-benar me menunjukkan belas kasih Allah kepada jemaat yang dilayaninya di Korintus. Ia berkata: “Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya”. Semangat ini yang tetap menjadi warisan yang sangat bernilai di dalam Gereja. Para misionaris melakukannya sebagaimana sudah lebih dahulu dilakukan oleh Paulus.
Tuhan Yesus di dalam Injil hari ini mengingatkan tentang semangat leadership atau kepemimpinan yang rendah hati. Ini adalah model pewartaan Injil sebagai Injil kehidupan bukan sekedar kata-kata saja. Di sampinh kebajikan kerendahan hati, kita juga boleh mengintrospeksi diri bahwa kita memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai manusia. Maka ketika mewartakan Sabda kita perlu siap secara pribadi sebagai pribadi terbaik untuk membimbung sesama menuju kebaikan.
Ada dua hal yang berguna dalam upaya mewartakan Injil masa kini berdasarkan perikop kita hari ini: Pertama, Tanggung jawab sebagai pemimpin (ayat 39-40). Seorang buta tidak dapat memimpin orang buta lainnya, karena keduanya akan jatuh ke dalam lubang. Tuhan Yesus memperingatkan kita semua bahwa untuk dapat memimpin atau mengoreksi orang lain, kita harus terlebih dahulu melihat kebenaran dengan jelas bukan mengada-ada saja.
Kedua, kemunafikan selalu ada di antara kita. (ayat 41). Ini selalu kita lakukan atau kita alami sendiri. Ini juga menggambarkan ketidakmasukakalan orang yang hanya fokus pada kekurangan kecil orang lain (serpihan jerami) sambil sepenuhnya mengabaikan kekurangan besarnya sendiri (balok). Maka Perlu prioritas untuk memperbaiki diri (ay. 42). Tuhan Yesus menyebut kata “munafik” kepada siapa pun yang berusaha memperbaiki sesama tanpa terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri. Urutan yang benar adalah terlebih dahulu mengeluarkan balok dari mata sendiri; barulah setelah itu seseorang akan memiliki kejernihan pikiran dan kasih yang diperlukan untuk membantu saudaranya mengeluarkan serbuk di matanya.
Kita bersukacita dalam mewartakan Injil masa kini kalau kita ikut berbelas kasih kepada sesama yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Kita juga berani mengoreksi diri sebelum mengoreksi sesama. Mudah sekali kita melupakan kelemahan diri kita dan hanya memandang kelemahan sesama yang lain. Injil adalah khabar sukacita kepada semua orang maka berusaha untuk menjadi Injil kehidupan masa kini.
P. John Laba, SDB