Renungan 8 Maret 2012

Yer 17:5-10; Mzm 1:1-2.3.4.6; Luk 16:19-31

Dives dan Eleazar


Seorang teman bercerita. Ia memiliki pengalaman yang indah ketika live in di rumah seorang pemulung. Pada mulanya ia hanya berniat untuk memenuhi persyaratan mata kuliah teologi kontekstual. Maka hari-hari pertama dilewati dengan keras tetapi perlahan-lahan dia menemukan bahwa di dalam keluarga pemulung itu ada sejuta kebahagiaan. Setiap hari mereka berdoa bersama. Bapak sang pemiliki rumah itu selalu mengatakan hal yang sama kepada isteri dan anak-anaknya: “Bersyukurlah karena kita masih hidup. Berharaplah karena Dia tidak akan berhenti memberi!” Dan memang yang ada dalam rumah itu adalah sejuta kebahagiaan. Teman saya mengatakan: “Saya melihat Lazarus yang bahagia”.

Dalam kotbah di bukit Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga” (Mat 5:3). Orang-orang miskin adalah mereka yang tidak memiliki harta kekayaan atau memilikinya tetapi sangat terbatas. Dengan demikian mereka hanya punya satu harapan yakni Allah yang akan menolong (Eleazar). Inilah yang disebut penyelenggaraan ilahi (providentia divina). Allah pasti akan menolong mereka sebagai orang yang setia dan berharap padaNya. Merekalah kaum anawim yang selalu mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Nabi Yeremia mengingatkan orang-orang pada zamannya untuk tetap berharap pada Tuhan. Ia berkata: “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan”.  Sebaliknya mereka yang tidak mengandalkan Tuhan mendapat teguran: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mendandalkan kekuatannya sendiri dan yang hatinya menjauh dari Tuhan.” Mereka yang mengandalkan Tuhan mendapat berkat sehingga berkelimpahan sedangkan yang mendandalkan dirinya akan mengalami kegersangan hidup.


Dalam Injil kita menjumpai orang kaya (dives)  dan si miskin Lazarus (Eleazar). Di samping nama Lazarus digunakan dalam perikop ini, nama ini juga muncul dalam Injil Yohanes dan dikenal sebagai saudara dari Martha dan Maria juga sahabat akrab Yesus (Yoh 11:1-44). Lukas juga menyebut nama Martha dan Maria yang menyambut Yesus di rumah mereka (Luk 10:39). 


Lukas secara konsisten mengarahkan kita untuk memiliki perhatian kepada kaum miskin. Baginya, pemuridan itu identik dengan pelayanan terhadap kaum miskin. Mengapa? Persoalan yang ditampilkan hari ini bukan pada masalah harta sebagai penghalang untuk masuk surga tetapi bagaimana orang memiliki kemampuan untuk memperhatikan si miskin seperti Lazarus. Bagaimana orang mengambil kebaikan hati Allah untuk memperhatikan sesamanya yang miskin. Yesus berkata: “Apa yang kamu lakukan untuk saudaraku yang paling hina ini, kalian lakukan untuk Aku” (Mat 25:45). 


Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana orang bersikap terhadap harta kekayaan yang dimilikinya sebagai anugerah dari Tuhan. Orang mudah sekali lupa diri dan terikat pada harta yang mereka miliki. Yesus sendiri berkata: “Dimana ada harta, hatimu juga ada di sana” (Mat 6:21). Pengalaman orang kaya dalam Injil mengingatkan kita untuk mawas diri. Semua yang kita miliki sekarang tidak akan bertahan selamanya. Maka tugas kita bukan berbangga dengan harta kekayaan yang ada tetapi bagaimana memamfaatkannya untuk kebahagiaan kita dan sesama. Perhatian kepada orang miskin hendaknya menjadi pilihan mendasar setiap pengikut Kristus.Sebaliknya, semangat Lazarus (dari kata Eleazar artinya Allah menolong) hendaknya menjadi semangat kita untuk mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Dialah yang menyelenggarakan segala sesuatu untuk kita. Dialah penolong abadi bagi kita. 


Pertanyaan untuk kita refleksikan hari ini: Apakah ada waktu dihidupmu untuk orang yang kecil dan tidak diperhatikan? Apakah anda sadar bahwa Tuhan selalu menolongmu?

PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply