Renungan 1 September 2012

Hari Sabtu, Pekan Biasa ke-XXI

1Kor 1:26-31
Mzm 33: 12-13.18-19.20-21
Mat 25:24-30

Setialah mengembangkan talenta dari Tuhan
Apakah anda setia di dalam hidup dan karya-karyamu sebagai anugerah dari Tuhan? Ini selalu menjadi sebuah pertanyaan yang patut direfleksikan secara mendalam oleh setiap pribadi. Misalnya, Apakah setiap pribadi setia dalam pekerjaan, mengembangkan bakat, waktu, kesempatan demi kebaikan banyak orang? Secara khusus, kepada para pasutri mereka dapat bertanya dalam diri masing-masing apakah sudah sedang setia di dalam hidup perkawinan mereka atau belum setia. Selama beberapa hari terakhir, permenungan kita adalah tentang urgensi Kerajaan Allah dan bagaimana kesiapan diri setiap pribadi untuk menyambut kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Nasihat-nasihat Tuhan Yesus di dalam Injil adalah supaya kita selalu siap siaga, berjaga-jaga dalam penantian. Berjaga-jaga bukan berarti santai dan bebas dari pekerjaan. Para pengikut Kristus tetap bekerja sebagai abdi yang setia. Para pengikut Kristus juga bijaksana dalam menanti kedatangan Tuhan.
Pada hari ini, Yesus memberi persyaratan lain untuk masuk Kerajaan Surga dalam perumpamaan tentang talenta. Apa itu talenta? Talenta dalam paham orang Ibrani adalah berat dan jumlah mata uang yang sama nilainya dengan 3000 sykal atau 42,525kg. Kalau diuangkan kira-kira bernilai $1600-$1900 US (Kel 38:25; Mat 18:24). Kadang-kadang 3000 sykal disamakan dengan 34 kg dan sebanding dengan 6000 dinar (Mat 18:24; 25:15-28). Belakangan ini talenta sering dipahami sebagai anugerah atau bakat alamiah misalnya dalam bidang seni dan olahraga. Orang bertalenta berarti orang yang punya bakat istimewa dalam bidang tertentu dan memilikinya secara alamiah. 
Sebagaimana dikisahkan oleh Matius, ada seorang yang mau bepergian ke luar negeri. Ia memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Hamba pertama diberikan lima talenta, hamba kedua diberikan dua talenta dan hamba ketiga satu talenta. Tuan ini memberikan talenta-talenta karena dia percaya bahwa mereka semua akan mengembangkannya dan menghasilkan bunga atau keuntungan tertentu. Tuan itu menganggap para hamba itu sebanding dengan mitra bisnis atau rekan sekerja di dalam perusahan. Tuan itu juga mengenal kemampuan para hambanya maka dia berharap agar kedelapan talenta yang diberikan ini menghasilkan talenta-talenta yang baru. Dalam hal ini aset keuangannya bertambah.
Hamba pertama yang memiliki lima talenta mengembangkannya dan mendapatkan lima talenta, jadi jumlahnya menjadi sepuluh talenta. Hamba kedua menerima dua talenta, mengembangkannya dan menghasilkan dua talenta, maka jumlahnya menjadi empat talenta. Hamba yang ketiga menerima satu talenta, mungkin karena malas atau merasa diremehkan karena hanya mendapat satu talenta maka dia tidak mengembangkannya. Dia juga mengenal tuannya sebagai orang yang kejam maka ia memilih tanah sebagai tempat yang aman untuk menyimpan talenta ini. 
Pada hari perhitungan, masing-masing hamba melaporkan kegiatan mereka. Hamba pertama membawa sepuluh talenta, hamba kedua membawa empat talenta dan hamba ketiga membawa satu talenta. Hamba yang pertama patut diberi kepercayaan karena dia tekun, lagi pula dia tidak meminta tuan untuk memperhatikan dirinya sendiri tetapi dia hanya meminta supaya tuannya memperhatikan lima talenta baru yang dihasilkannya. Tuan itu menunjukkan kemurahan hatinya dan memuji hamba pertama ini sebagai “hamba yang baik dan setia” dan layak duduk semeja dengan tuannya. Hamba kedua membawa keempat talentanya. Seperti hamba pertama, dia tidak meminta perhatian pada dirinya tetapi pada dua talenta baru yang ia hasilkan. Tuan itu menujukkan kemurahan hatinya dan menganggap hamba kedua sebagai mitra yang baik dan setia. Hamba yang ketiga hanya mengembalikan satu talenta yang diberikan tuannya karena ia mengenal tuannya sebagai orang yang kejam, yang menuai di mana dia tidak menabur dan memungut di tempat di mana dia tidak menabur. Maka jalan terbaik baginya adalah menguburkannya di dalam tanah. Talenta tetap milik tuannya, tetapi hamba ini telah menghalangi tuannya untuk mendapat keuntungan. Talenta itu pun diambil dan diberikan kepada orang yang memiliki sepuluh talenta. 
Perumpamaan tentang talenta ini membuka wawasan kita dalam menanti kedatangan Tuhan. Para gadis yang bijaksana dan bodoh menanti kedatangan pengantin dan karena lama maka mereka menjadi malas dan tidur. Para hamba yang dipercayakan untuk mengembangkan talenta ini juga menunggu tuannya dalam waktu yang lama untuk membuat perhitungan. Dua hamba yang pertama bijaksana dan dapat mengembangkan talenta tuannya dan menghasilkan keuntungan sedangkan hamba yang ketiga patut mendapat hukuman karena tidak mengembangkan talenta yang dipercayakan kepadanya. Dalam perumpamaan ini Yesus mau mengingatkan para muridNya bahwa Ia akan menderita, sengsara, wafat bangkit dan naik ke surga tetapi para murid diharapkan untuk rajin dan tekun mengembangkan segala anugerah yang Dia berikan kepada mereka. Pada akhirnya mereka akan mempertanggungjawabkan kepadaNya ketika Ia datang kembali dalam kemuliaanNya. Tentu saja bukan hanya bagi para murid saat itu, tetapi bagi kita semua para pengikutnya juga berlaku hal yang sama, tekun dan setia mengembangkan anugerah-anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.
Apa yang harus kita lakukan? Paulus dalam bacaan pertama mengajak kita untuk bermegah di dalam Kristus. Meskipun setiap pribadi mengalami pengalaman yang sulit, sampai ke titik kemiskinan yang ekstrim namun Tuhan tetaplah menjadi andalan. Tuhan Yesuslah yang karena karya Bapa di Surga menjadi hikmat, keadilan, kekudusan dan penebusan bagi manusia. Oleh karena itu semua anugerah yang diberikanNya kepada kita patut dikembangkan untuk menghasilkan buah yang berlimpah. Gunakanlah semua anugerah Tuhan untuk kebaikan dan kebahagiaan banyak orang.
Doa: Tuhan, terima kasih atas semua anugerahMu kepada kami. Amen
PJSDB
Leave a Reply

Leave a Reply