Homili 14 Juli 2015

Hari Selasa, Pekan Biasa XV
Kel. 2:1-15a
Mzm. 69:3,14,30-31,33-34
Mat. 11:20-24

Mengikuti Yesus saja belum cukup!

Fr. JohnPenginjil Lukas dalam Kisah Para Rasul menulis kesannya tentang Tuhan Yesus seperti ini: “Allah mengurapi Yesus dari Nazaret dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling dan berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kis 10:38). Yesus digambarkan selalu bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ia bahkan mengakui sendiri: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Mat 8:20; Luk 9:58). Selama berkeliling di daerah Galilea dan Yudea, Ia berbuat baik yakni mengajar dengan kuasa dan wibawa, mengusir setan dan menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan manusia. Di bagian lain, Lukas menulis perkataan Tuhan Yesus, “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus.” (Luk 4: 43). Yesus mengucapkannya dengan baik di hadapan para murid-Nya dengan harapan bahwa mereka pun bisa ikut serta menghadirkan Kerajaan Allah dalam perutusan mereka kelak.

Ada satu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya: “Apa dampak dari perutusan Yesus dan para murid-Nya bagi orang-orang pada masa itu?” Ada banyak orang yang datang dan pergi, mendengar pengajaran Yesus, merasakan mukjizat-mukjizat yang dikerjakan Yesus namun semuanya ini belum menyentuh jati diri mereka. Kesadaran untuk mengimani Yesus belum ada. Mereka hanya melihat Yesus sebagaimana adanya karena Roh Kudus belum membuka pikiran mereka untuk mengerti Kitab Suci. Di samping itu hati mereka masih degil, sulit membuka diri untuk mengimani Yesus sebagai Anak Allah. Mereka malah meminta tanda yang membuktikan identitas dan kuasa Yesus. Hal ini memang menyedihkan hati Tuhan Yesus.

Reaksi Yesus adalah mengecam kota-kota yang dihuni orang-orang berdosa dan tidak mau bertobat. Kota-kota itu sering merasakan mukjizat dari Tuhan, yakni Korazim. Yesus berkata: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.” (Mat 11:21-22). Yesus memandang kota Khorazim yang letaknya berdekatan dengan Bukit Sabda Bahagia. Dari titik yang sama Ia mengarahkan pandangan-Nya ke Betsaida. Di belakang kota Betsaida Ia masih bisa melihat dataran tinggi Golan, gunung Hermon juga daerah yang mengarah ke Tirus dan Sidon yang lebih jauh. Kota Khorazim dan Betsaida sangat akrab dengan-Nya karena para penghuninya berbondong-bondong mengikuti, mendengar dan merasakan mukjizat tetapi mereka belum percaya kepada-Nya.

Yesus juga mengecam kota Kapernaum, kota yang boleh dikatakan sebagai markas-Nya. Ia serig berkumpul bersama para murid-Nya. Di kota inilah terdapat rumah Petrus, Gereja domestik pertama. Namun Yesus berkata: “Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.” (Mat 11:23-24).

Orang-orang di kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum mengenal Yesus namun belum mengimani-Nya. Mereka menyaksikan mukjizat penyembuhan, pengusiran roh jahat dan setan-setan, mendengar pengajaran Yesus yang penuh kuasa dan wibawa tidak seperti para ahli Taurat namun mereka semua belum bertobat. Hidup mereka tidak jauh berbeda dengan kaum pendosa. Adalah lebih baik orang-orang yang dianggap kafir seperti Tirus dan Sidon yang membuka diri kepada Yesus, lebih bermartabat orang-orang Sodom yang sadar diri sebagai orang berdosa dan bertobat dari pada mereka yang mengenal Yesus Kristus.

Kecaman-kecaman Yesus ini membuka wawasan kita supaya mengerti bahwa menjadi pengikut Kristus saja belum cukup. Kita harus mengikuti, mengimani dan menjadi serupa dengan-Nya. Kita harus melakukan pekerjaan-pekerjaan Yesus di dalam hidup kita. Misalnya, Yesus mengampuni kaum pendosa maka kita pun harus menjadi serupa dengan Yesus yakni mampu mengampuni, memaafkan dan mengasihi. Sebab kalau tidak demikian, kita bukanlah bagian dari Yesus Kristus. Apakah anda mau dikecam Yesus dengan kata: “celakalah”?

Di dalam bacaan pertama, kita mendengar kisah lanjutan tentang penderitaan yang sedang menguasai bani Israel di Mesir pasca kematian Yusuf. Pada waktu itu dari suku Lewi lahirlah seorang anak laki-laki yang nantinya disapa Moses. Kelahirannya memang dikehendaki Tuhan Allah dan keluarganya tetapi tidak dikehendaki oleh Firaun yang sudah memerintahkan supaya anak laki-laki dari keturunan Israel dibuang ke dalam sungai Nil.

Apa yang terjadi dengan Musa? Ia lahir dalam suasana damai di dalam keluarganya, sempat dipelihara ibunya hingga berusia tiga bulan. Tetapi setelah tiga bulan, ia dibuang ke dalam sungai Nil sesuai perintah Firaun. Saat untuk membuangnya pun tiba. Kakaknya meletakkan bayi itu di dalam sebuah tempat dan membiarkan air sungai membawanya perlahan-lahan. Putri Firaun sering mandi di tempat itu. Para dayang-dayang menemukannya. Bayi itu ditarik dari dalam air sehingga dinamainya מֹשֶׁה (Mosheh). Para dayang-dayang itu membawanya kepada putri Firaun. Pada akhirnya Musa dibawa kembali kepada ibunya untuk memeliharanya. Ketika beranjak dewasa Musa diserahkan kepada istana karena sudah diangkat sebagai anak oleh putri Firaun. Musa perlahan-lahan menyadari dirinya sebagai keturunan Israel dari suku Lewi. Ia sendiri tidak menghendaki supaya sesamanya ditindas oleh orang Mesir. Ia membunuh orang Mesir yang berlaku kasar terhadap bani Israel. Ia menasihati bani Israel supaya saling menghormati sebagai saudara. Musa mendapat ancaman pembunuhan oleh Firaun tetapi ia menghindar ke tanah Midian.

Musa berarti ditarik atau diselamatkan dari air. Nama ini memiliki makna yang sederhana dan mendalam bagi kita sebagai pengikut Kristus. Kita semua juga ditarik dari air untuk mengalami hidup baru dalam Kristus. Nah, jelas bagi kita bahwa sakramen pembaptisan memiliki makna yang mendalam bagi kita. Pembaptisan merupakan kesempatan untuk merasakan keselamatan yang datang dari Allah kita. Dengan sakramen Pembaptisan, kita mengalami pengudusan dan menjadi pengikut Kristus. Pengikut Kristus yang hidup pribadinya menyerupai Yesus Kristus sendiri.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply