Homili 15 Juli 2016

Hari Jumat, Pekan Biasa ke-XV
Yes. 38:1-6,21-22,7-8
MT Yes. 38:10,11,12abcd,16
Mat. 12:1-8

Tuhan juga mendengar Doamu!

imageAda seorang bapa yang menulis sebuah pesan singkat kepada saya: “Romo John, terima kasih atas doa-doanya dann pelayanan sakramen perminyakan. Pada saat ini saya merasa bahagia karena Tuhan mendengar doa-doa kita semua. Ia memberikan apa yang saya butuhkan saat ini. Ia menjamah dan menyembuhkan aku secara ajaib. Terima kasih Tuhan.” Saya merasa kaget membaca pesan ini. Saya lalu mengingat-ngat kembali wajah bapa itu. Ia menderita sakit cukup lama dan sempat berbaring lemah di rumah sakit. Saya sempat mengunjungi dan memberinya minyak suci. Ketika mendapat pesan singkatnya bahwa ia sembuh secara ajaib, saya hanya dapat mengatakan terima kasih kepada Tuhan karena memberikan anugerah kesehatan, pemulihan kesehatan kepadanya. Pengalaman bapa ini membantu saya untuk semakin percaya bahwa pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya. Ia selalu memberi apa yang kita butuhkan di dalam hidup ini.

Pada hari ini kita mendengar sepenggal kisah hidup dari Hizkia, raja Yehuda. ia jatuh sakit dan hampir mati. Nabi Yesaya diutus oleh Tuhan untuk mengingatkan Hizkia supaya menyampaikan pesan-pesan terakhir kepada keluarganya karena ia pasti akan mati. Penyakitnya tidak dapat disembuhkan. Hizkia mendengar perkataan nabi Yesaya dan mencoba memahaminya dengan baik untuk mengerti maksud dan kehendak Tuhan. Ia membalikan badannya ke arah tembok dan berdoa: “Ya Tuhan, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapan-Mu dengan setia dan tulus hati, dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di hadapan-Mu” (Yes 38: 2). Ia sungguh-sungguh membutuhkan kerahiman Allah. Tuhan memperhatikan Hizkia dan berjanji melalui nabi Yesaya untuk menyembuhkannya. Tuhan bersabda kepada Hizkia melalui Yesaya: “Beginilah sabda Tuhan, Allah Daud, leluhurmu: telah Kudengar doamu dan telah Kulihat air matamu. Sungguh Aku akan memperpanjang hidupmu lima belas tahun lagi, dan Aku akan melepaskan dikau dan kota ini dari tangan Asyur dan Aku akan melindungi kota ini.” (Yes 38:4-6).

Pengalaman Hizikia adalah pengalaman banyak orang yang berdoa dan berharap kepada Tuhan, juga merupakan pengalaman gereja masa kini. Tuhan berjanji dan janji-Nya selalu sempurna dan indah pada waktunya. Hizkia yang sedang sakit dan tidak ada harapan untuk hidup, masih dengan rendah hati memohon kerahiman Tuhan. Ia pun mendapat anugera kesembuhan. Ada dua hal penting dalam kisah ini. Pertama, doa memiliki kekuatan yang luar biasa. Hizkia memang sedang sakit keras namun ia tidak merasa takut. Ia percaya bahwa Tuhan pasti akan menyembuhkannya. Ia juga merasa bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan dan naungan baginya. Kedua, Tuhan menunjukkan kerahiman-Nya dengan mendengar doa-doa umat-Nya. Ia melihat tangisan anak-anak-Nya dan menunjukkan belas kasih-Nya kepada mereka. Doa ini patut diucapkan oleh kita semua: “Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Dikau: tenangkanlah batinku, buatlah aku sehat, buatlah aku sembuh” (Yes 38:16). Ini tandanya kita membutuhkan Tuhan. Kita mengandalkan Tuhan di dalam hidup kita.

Kita belajar dari Tuhan kasih dan kebaikan-Nya. Dengan demikian kita pun belajar untuk menjadi serupa dengan Tuhan dalam segala hal. Artinya, kalau Tuhan saja menunjukkan kerahiman-Nya kepada kita semua dengan menyembuhkan, menguduskan dan menyelamatkan kita maka tugas kita saat ini adalah menyembuhkan, menguduskan dan menyelamatkan sesama manusia. Kita memulainya dengan memandang sesama manusia sebagai sesama dalam segala hal.

Penginjil Matius mengisahkan komunitas Yesus yang sedang berjalan bersama-sama pada hari Sabat di ladang gandum. Ketika itu mereka merasa lapar sehingga memgambil bulir gandum dan memakannya. Sikap para murid Yesus ini menjadi senjata bagi kaum Farisi untuk menyerang Yesus. Mereka sangat legalistis sehingga langsung memberi kritikan kepada Yesus, dengan berkata: “Lihatlah murid-murid-Mu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” (Mat 12:2). Tuhan Yesus menjawab mereka dengan mengambil contoh pengalaman Daud (1Sam 21:1-10). Daud itu bukan seoran imam namun ia bersama pasukannya memakan roti sajian di atas mesbah. Yesus juga mengambil contoh yang lain tentang para imam yang melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah namun tidak bersalah (Bil 28:9-10).

Tuhan Yesus mengambil contoh-contoh di dalam dunia Perjanjian Lama untuk menegaskan bahwa ia memiliki kuasa atas segala sesuatu. Ia menghendaki belas kasih, kerahiman bukan persembahan. Dia sendiri menunjukkan kerahiman dengan mempersembahkan diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya Ia mengatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat! (Mat 12:8).

Sabda Tuhan pada hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan itu mahabaik, besar kemurahan dan kasih setia-Nya kepada kita semua. Sikap Tuhan ini patutlah menjadi bagian dari kehidupan kita. Apa yang harus kita lakukan? Kita mudah menilai dan mengadili sesama di dalam hati berdasarkan kriteria manusiawi kita. Kita merasa diri lebih baik dari orang lain. Di sini kita lupa bahwa kita adalah debu dan akan kembali menjadi debu. Tuhanlah yang sempurna segalanya bukan kita! Mari kita mengenakan belas kasih dan kerahiman Tuhan dan menunjukkan belas kasih dan kerahiman Tuhan kepada sesama yang lain.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply