Merasakan kesedihan

Merasakan kesedihan

P. John SDBSaya mendapat pesan singkat dari seorang sahabat: “Romo John, besok pagi tolong bawakan misa untuk mengenang setahun kepergian papaku”. Wah, waktu berlalu begitu cepat. Saya sendiri berpikir bahwa peristiwa duka dalam keluarga ini belum sampai setahun.

Rangkaian peristiwa sedih ini terjadi setahun silam. Saya belum mengenal keluarga ini. Mereka menghubungi saya untuk memberikan sakramen perminyakan. Beberapa hari kemudian orang tua itu pergi meninggalkan keluarganya. Tangisan sebagai ungkapan kesedihan, kehilangan bapa sungguh dirasakan keluarga itu.

Saya sendiri merasa heran karena begitu banyak orang yang datang ke rumah duka. Pada hari ketujuh, ke empat puluh hari dan ke seratus, banyak orang datang untuk menyatakan rasa hormat mereka kepada orang tua itu.

Apa yang membuat begitu banyak orang datang dan untuk mengatakan rasa hormatnya terhadap bapa dan keluarga itu? Hanya ada satu kalimat: “Bapa itu dikenal sebagai orang yang baik”. Tidak ada yang lebih dari itu. Dan benar, kebaikan itu seperti bumerang! Ketika kita berbuat baik maka kebaikan itu akan datang dengan sendirinya kepada kita.

Tetapi saya tetap mengingat suasana duka saat itu. Saya semakin yakin bahwa orang baik kalau pergi dengan cepat selalu meninggalkan kesedihan tertentu. Kesedihan itu lama baru lenyap dalam pikiran dan perasaan manusiawi.

Saya mengingat perkataan Paulo Coelho, bunyinya:

“Mereka yang telah mengenal kesedihan lebih peka daripada mereka yang tak pernah merasakannya”

Benar sekali perkataan Coelho. Sahabatku itu sudah merasakannya maka sangat peka ketika mendengar berita duka dari siapa saja. Mungkin saya juga menunggu giliran bahwa pada suatu saat akan merasakan yang dia rasakan saat ini.

Pengalaman selalu menjadi guru yang baik. Hanya Tuhan yang dapat menghapus air mata kesedihan yang membasahi pipi orang percaya. Semangat selalu sahabat dan saudara yang merasakan kesedihan saat ini. Tuhan tidak meninggalkanmu.

PJSDB

Leave a Reply

Leave a Reply