Food For Thought: Komitmen

Komitmen Pribadi itu penting!

Kita sering mengungkapkan kata komitmen. Komitmen berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu. Jadi kalau saya mengaku sudah mengikat perjanjian atau kontrak tertentu dengan pribadi atau organisasi tertentu maka saya harus berusaha untuk tetap komitmen pada kontrak yang ada. Kalau saya terikat pada sumpah, janji setia tertentu maka saya harus setia sampai tuntas. Misalnya, seorang pribadi yang menghadap permasalahan dalam hidup perkwainannya: sulit untuk mengakui kesalahan pribadi, sulit untuk meminta maaf setelah marah, sulit untuk meminta tolong kepada pasangannya tentu merasakan sebuah kesulitan yang luar biasa terutama dalam berelasi satu sama lain.

Seorang imam, biarawan dan biarawati memiliki janji imamat dan nasihat-nasihat Injil sebagai komitmen pribadinya di hadapan Tuhan dan sesama. Ia harus menghayati janji imamatnya sampai tuntas. Ia harus belajar terus menerus, bagaimana menjadi seorang pribadi yang taat, miskin dan murni. Ia menjadi pribadi yang taat karena ia berani hidup sebagai orang yang murni dan miskin. Ia menjadi pribadi yang miskin karena ia taat dan murni. Ia menjadi pribadi yang murni sebab ia taat dan miskin. Semua nasihat injil ini memiliki daya transformatif yang luar biasa. Untuk mewujudkan semuanya ini butuh komitmen pribadi, diperkuat dan diperbaharui setiap hari.

Komitmen pribadi itu penting dan harus. Hidup berkeluarga akan berlangsung sampai tuntas kalau pasangan suami dan istri memiliki komitmen pribadi untuk setia dalam untung dan malang, di waktu sehat dan sakit. Komitmen pribadi itu bagai cincin yang tidak berujung dan pangkal. Kesetiaan, kasih dan pengampunan sampai tuntas. Komitmen pribadi bagi seorang imam, biarawan dan biarawati adalah setia melakukan tugas sekecil apa pun di dalam komunitasnya dengan cinta kasih yang besar. Suatu komitmen pribadi yang mendorongnya untuk membawa semua kepada Tuhan Yesus Kristus. Ini butuh keseriusan semua kaum berjubah.

Saya teringat pada Nathaniel Branden. Dia adalah seorang psikolog berkebangsaan Kanada. Ia pernah berkata: “Bagaimana kita dapat menjaga api batin kita hidup? Dua hal, minimal, diperlukan: pertama, kemampuan untuk menghargai secara positif dalam hidup kita. Kedua, komitmen untuk bertindak. Setiap hari, penting untuk bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini: “Apa yang baik dalam hidup saya?” Dan “Apa yang perlu dilakukan?”

Hal-hal yang diungkapkan di sini memang sederhana namun memiliki nilai edukasi yang tinggi, terutama bagaimana tetap berkomitmen pada profesi dan panggilan kita masing-masing. Apakah kita memiliki komitmen untuk saling menghormati satu sama lain? Apakah kita memiliki komitmen untuk berani meminta maaf, meminta tolong dan berterima kasih? Apakah saya dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik di dalam hidup saya? Semua ini masuk dalam komitmen pribadi kita masing-masing.

Saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip perkataan seorang penulis Amerika bernama Charles Swindoll: “Tidak ada rumah tangga yang tanpa konflik sama sekali. Bahkan meskipun kau memiliki komitmen terhadap pasanganmu, akan masih ada saat-saat ketika di antara kalian ada ketegangan, air mata, pertengkaran, ketidakcocokan, dan ketidaksabaran. Komitmen tidak menghapuskan kodrat manusiawi kita. Itu kabar buruk, tetapi realistik.”

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply