Homili Hari Minggu Biasa ke-XXVIII/C – 2019

Hari Minggu Biasa XXVIII/C
Raj. 5:14-17
Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4
2Tim. 2:8-13
Luk. 17:11-19

Bersyukur kepada Tuhan sang Penyembuh

Saya tetap mengenang pengalaman penyembuhan seorang kerabat yang jatuh sakit dan sempat dirawat di ICU sebuah Rumah Sakit terkenal. Dokter yang melayaninya kelihatan tidak sanggup lagi merawat kerabat ini sehingga ia berpesan kepadanya pada suatu saat: “Bu, silakan berdoalah kepada Tuhanmu supaya dapat menyembuhkan penyakitmu ini”. Kerabat ini hanya mengangguk sebentar dengan lemah, sambil berdoa dalam hatinya: satu kali Bapa Kami, tiga kali Salam Maria dan satu kali Kemuliaan. Selanjutnya dia menutup matanya dan tidur pulas. Setelah satu jam, ia kembali membuka matanya dan kesadarannya berangsur-angsur mulai pulih. Pada hari berikutnya dokter yang merawatnya merasa kaget sebab tidak ada lagi tanda-tanda penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Ia dinyatakan sembuh total dan dapat meninggalkan Rumah Sakit. Dokter yang sama hanya berpesan: “Teruslah berdoa dan bersyukur kepada Tuhamu”. Pengalaman nyata ini selalu dikenang oleh kerabat ini sebagai ‘Mukjizat itu nyata’.

Tuhan menyapa kita pada hari Minggu Biasa ke-XXVIII/C ini sebagai sosok yang datang untuk menyembuhkan sakit penyakit kita. Memori kita tertuju kepada Tuhan Yesus dikenal sebagai sosok yang berkeliling dan berbuat baik. Salah satu perbuatan baik yang dilakukan Tuhan Yesus di depan umum adalah menyembuhkan sakit dan penyakit manusia. Tuhan Allah sendiri sudah menubuatkannya melalui nabi Yesaya, yang kembali dikutip Penginjil Matius berikut ini: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” (Mat 8:17). Yesus hadir untuk menunjukkan wajah Allah yang berbelas kasih kepada manusia. Manusia menderita dan sengsara di hadirat Tuhan yang Mahabaik. Dalam suasana seperti ini, Tuhan akan tetap menunjukkan kuat dan kuasa-Nya untuk menyembuhkan segala penyakit dan kelemahan. Tuhan selalu berinisiatif untuk menyembuhkan dan manusia mendekatkan diri kepada-Nya untuk disembuhkan.

Dalam bacaan pertama kita mendengar kisah Naaman. Nama Naaman (נַעֲמָן – Na’aman, artinya “menyenangkan, sedap”). Beliau adalah nama seorang panglima tertinggi yg sangat berhasil di bawah Ben-Hadad, raja Damsyik dan musuh besar orang Israel (1 Raja-raja 20). Ia mengalami kelainan pada kulitnya yakni penyakit kusta. Tentu saja seorang yang memiliki kelainan pada kulit entah itu borok atau luka hingga kusta dianggap sebagai korang otor atau najis. Ini adalah kutukan akibat dosa dari orang tersebut. Namun Naaman berani dan bertahan dalam keadaannya seperti itu. Berdasarkan ucapan gadis belia Israel yang ditawan dan menjadi pelayan di rumah raja maka raja menyuruh Naaman untuk pergi ke Samaria, mencari penyembuhan kepada nabi Elisa bin Safat. Nabi Elisa lalu menyuruhnya masuk dan membenamkan dirinya di dalam sungai Yordan sebanyak tujuh kali. Tuhan menyembuhkannya saat itu juga.

Naaman sadar diri bahwa ia mengalami kesembuhan total. Ia kembali kepada Elisa untuk bersyukur dengan berkata: “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini”. Nabi Elisa menolak pemberiaan Naaman. Naaman sendiri berjanji untuk setia kepada Tuhan Allah Israel yang sudah menyembuhkannya. Naaman itu orang asing, bukan orang Israel tetapi ia percaya kepada Tuhan yang berkarya dalam diri nabi Elisa. Saya teringat kembali pada dokter yang bukan beragama Katolik yang meminta kerabat saya untuk berdoa memohon kesembuhan dari Tuhan yang diimaninya. Tuhan Allah benar-benar menyembuhkan semua orang. Inilah sebuah kehebatan Allah yang benar yang kita sembah dan muliakan hingga saat ini.

Pengalaman Naaman sebagai orang asing yang mengalami kesembuhan diulangi lagi dalam dunia Perjanjian Baru. Penginjil Lukas melaporkan bahwa Tuhan Yesus sedang dalam perjalanan lanjutan ke Yerusalem dari Galilea dengan melewati beberapa perkampungan orang-orang Samaria. Pada waktu itu Yesus menjumpai sepuluh orang yang mengidap kusta. Orang-orang kusta pada zaman Yesus diasingkan, berpakaian compang-camping, rambut yang tidak terurus dan harus berteriak sebagai orang kusta ketika melwati jalan raya. Mengapa? Sebab mereka kotor dan najis. Mereka tidak boleh bergabung dengan orang lain untuk berdoa di dalam rumah ibadat.

Orang-orang kusta yang berjumlah sepuluh orang ini memang beda. Mereka tidak takut dengan Yesus. Mereka percaya bahwa Yesus pasti akan melakukan yang terbaik bagi mereka.Sebab itu mereka tidak malu untuk meminta kepada Yesus: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Yesus tidak takut dengan orang-orang kusta seperti kebanyakan orang saat itu. Ia bahkan memandang mereka dan meminta mereka untuk memperlihatkan diri mereka kepada imam-imam. Kita perlu mengerti di sini bahwa kalau mereka yang kusta ini tidak memperlihatkan dirinya kepada para imam maka mereka tetap terasing, tidak akan bergabung dalam rumah ibadah karena masih dianggap najis. Kalau mereka menunjukkan dirinya berarti mereka sudah sembuh total. Mungkin saja merekan akan bersyukur kemudian, yakni setelah menunjukkan diri kepada para imam.

Dikisahkan bahwa dalam perjalanan mereka menunju ke rumah para imam, mereka sadar bahwa tubuh mereka sudah sembuh dari kusta. Sembilan orang kusta berkebangsaan Yahudi melanjutkan perjalanan mereka untuk menunjukkan dirinya kepada imam sesuai perintah Yesus, hanya satu orang Samaria yang kembali untuk bersyukur di hadapan Yesus, lalu menuju kepada para imam untuk menunjukkan dirinya bahwa ia sudah sembuh total. Orang kusta yang bersyukur ini berasal dari Samaria, mirip Naaman dari Siria. Orang asing lebih sadar diri untuk bersyukur kepada Tuhan dari pada orang Israel sendiri. Ini adalah penyakit menular hingga saat ini sehingga kita sebagai orang katolik selalu lupa bersyukur dibandingkan dengan orang bukan katolik. Miris!

Tuhan yang kita imani memang luar biasa. Ia menyembuhkan semua orang tanpa melihat dari mana orang itu berasal. Naaman dan orang Samaria dianggap orang asing tetapi Tuhan tetap menyembuhkan mereka juga. St. Paulus dalam bacaan kedua mengatakan bahwa Tuhan benar-benar menyelamatkan setiap orang. Ini adalah sukacita Injil yang harus kita wartakan ke seluruh dunia. Orang yang merasa disapa oleh Injil akan ikut merasakan pengurbanan Kristus dan bertumbuh dalam imannya. Warta terpenting dari Paulus adalah Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Maka ikut serta mewartakan Paskah Kristus sebagai sebuah kenangan adalah tugas perutusan kita.

Apa yang Tuhan hendak katakan kepada kita pada hari Minggu ini?

Pertama, Hanya Tuhan Allah saja yang menyembuhkan kita. Kalau kita mengalami sakit penyakit maka kita harus datang kepada Tuhan bukan kepada dukun atau jimat yang menjadi bagian dari ‘kepercayaan yang sia-sia’. Naaman sembuh karena ia datang kepada Tuhan melalui petunjukn Elisa. Kesepuluh orang kusta percaya bahwa Yesus akan menyembuhkan mereka maka mereka berani, tidak malu datang kepada Yesus. Mereka memohon kesembuhan dan Tuhan Yesus menyembuhkan mereka. Kalau kita benar-benar percaya kepada Yesus maka kita datang kepada-Nya untuk disembuhkan dan tugas kita selanjutnya adalah mewartakan penyembuhan dan keselamatan-Nya ini kepada sesama.

Kedua, Selalu bersyukur. Banyak kali kita lupa bersyukur kepada Tuhan dan sesama. Semuanya taken for granted! Semua serba gratis dari Tuhan sehingga orang lupa bersyukur. Ketika kita berani mengatakan ‘terima kasih’ kita hendak mengatakan bahwa kita mengiman Allah yang adalah kasih, kita menerima kasih dan memberi kasih kepada sesama. Mengapa kita masih kesulitan untuk bersyukur kepada orang-orang yang dekat dengan kita? Orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kita, kita masih bersyukur tetapi di rumah sendiri sangat sulit untuk bersyukur dan memberi apresiasi. Ini adalah salah satu titik kelemahan kita. Pikiran kita adalah serba gratis atau itu memang tugasnya maka tak perlu berterima kasih. Betapa lemahnya kita di hadapan Tuhan dan sesama.

Ketiga, Jangan berhenti berbuat baik. Tuhan mengajar kita untuk selalu berbuat baik kepada semua orang. Elisa sang abdi Allah tidak takut berhadapan dengan Naaman. Yesus tidak takut berhadapan dengan sepuluh orang kusta. Perbuatan baik adalah sebuah tanda keselamatan yang nyata dari Tuhan dalam diri manusia yang melakukan perbuatan baik itu. Maka setiap profesi adalah salah satu cara untuk berbuat baik. Perbuatan baik juga merupakan bagian dalam mewartakan Injil sebagai khabar sukacita. kita mewartakan Injil dengan perbuatan baik bukan hanya dengan kata-kata saja.

Ini adalah ketiga hal yang indah dari Sabda Tuhan untuk kita hayati sepanjang Minggu ini. Jangan lelah untuk datang kepada Tuhan supaya disembuhkan. Jangan takut untuk berbuat baik karena dengan berbuat baik kita turut berandil dalam mewartakan Injil. Bersyukurlah kepada Tuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan kita.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply