Homili Tuhan Yesus Raja Semesta Alam- C – 2019

HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM
2Sam. 5:1-3
Mzm. 122:1-2,4-5
Kol. 1:12-20
Luk. 23:35-43

Kristus Mendamaikan Semesta Alam

Kita memasuki Pekan terakhir dalam tahun liturgi Gereja dengan merayakan Hari Minggu Biasa ke-XXXIV dan kita merayakannya sebagai Hari Raya Tuhan Yesus Kristus sebagai Raja Semesta alam. Yesus Kristus adalah Raja semesta alam sebab Dialah Putera Tunggal Allah Bapa, Pencipta langit dan bumi. Dialah yang membebaskan umat manusia melalui paskah-Nya yaitu sengsara, wafat dan bangkit dengan Mulia. Dia adalah raja yang senantiasa berbeda dengan raja duniawi sebab Ia rela menderita untuk mendamaikan manusia dengan Allah Bapa sendiri. Raja Sejati adalah Dia yang rela berkorban untuk menjaga, melindungi dan menyelamatkan milik kepunyaannya.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari ini mengajak kita untuk memandang Yesus sebagai raja Semesta alam. Dari bacaan pertama kita diarahkan untuk memandang Daud bapa leluhur Yesus yang pernah menjadi raja Israel. Dikisahkan bahwa orang-orang Israel datang menemui Daud di Hebron untuk meminangnya menjadi raja mereka. Inilah ungkapan kepercayaan kaum Israel kepada Daud: “Ketahuilah, kami ini darah dagingmu. Telah lama, ketika Saul memerintah atas kami, engkaulah yang memimpin segala gerakan orang Israel. Dan Tuhan telah berfirman kepadamu: Engkaulah yang harus menggembalakan umat-Ku Israel, dan engkaulah yang menjadi raja atas Israel.” (2Sam 5:1-2). Daud adalah raja yang mempersatukan bangsa Israel karena kuasa Yahwe. Sebagai seorang raja, ia tidak semata-mata mengandalkan kekuasaannya tetapi menjadikan dirinya sebagai gembala dan raja bagi umat Israel. Atas kepercayaan ini maka para tua-tua Israel datang menemuinya dan mereka mengadakan sebuah perjanjian bersama di hadirat Tuhan. Para tua-tua ini mengurapi Daud sebagai raja atas Israel.

Hal yang menarik perhatian kita adalah kesiapsediaan Daud untuk diurapi menjadi raja Israel. Ini adalah kehendak Tuhan bukan kehendaknya sendiri. Sebab itu ia belajar untuk rela berkorban bagi bangsa Israel. Daud menjadi raja karena Tuhan menghendaki dan bangsa Israel menerimanya. Mereka menganggap dirinya sebagai darah daging Daud sendiri. Dia layak menjadi raja dan gembala. Seorang raja yang tidak hanya kuat karena kuasanya tetapi karena kegembalaannya. Ia selalu hadir bersama masyarakat dan memperjuangkan kesejahteraan mereka di hadirat Tuhan. Daud menjadi bapa leluhur Yesus Kristus Raja semesta alam. Dia selalu disapa ‘Anak Daud’. Penginjil Lukas menulis Magnificat yang diucapkan Bunda Maria ketika ia berkata: “Dia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan memberi-Nya takhta Daud, nenek moyang-Nya.” (Luk 1:32).

Santu Paulus dalam bacaan kedua menekankan bahwa Tuhan Yesus adalah sumber keselamatan bagi umat manusia. Sebab itu Paulus mengajak jemaat di Kolose untuk mengucapkan rasa syukur dengan sukacita kepada Allah Bapa. Allah Bapa sendiri menjadikan manusia layak mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ini adalah rencana ilahi Tuhan bagi setiap pribadi supaya layak di hadirat Tuhan. Allah sendiri yang memiliki rencana untuk melepaskan kita dari kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya Yesus Kristus. Hanya berada di dalam Yesus kita mengalami pengampunan dosa dan keselamatan abadi. Penghuni Kerajaan Terang adalah mereka yang bertobat dan mengalami penebusan berlimpah.
Mengapa Yesus melakukan semuanya ini? Sebab Tuhan Yesus sendiri adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan. Paus Fransiskus mengatakan bahwa Yesus menunjukkan wajah kerahiman Allah yang tidak kelihatan. Dia adalah yang sulung dan bahwa hanya di dalam Dia segala sesuatu diciptakan. Segala sesuatu yang diciptakan baik yang di surga maupun di bumi, yang kelihatan dan tidak kelihatan dan juga segala kuasa diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Yesus Kristus yang satu dan sama adalah Raja sebab Dia juga menjadi kepala Tubuh yakni jemaat. Paulus juga menyoroti Yesus sebagai Raja dalam kerajaan terang dalam konteks Paskah-Nya. Bagi Paulus, Yesus adalah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, dan bahwa Dialah satu-satunya damai kita. Paulus dengan tegas mengatakan: “Oleh Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.” (Kol 1:20). Di sini kita mengertai Bahwa Yesus adalah damai kita.

Apa kekhasan Yesus sebagai Raja semesta alam?

Mungkin banyak di antara kita hanya membayangkan Yesus sebagai Raja sesuai kriteria dan kategori manusiawi kita. Mungkin ada yang berpikir bahwa Yesus seorang raja yang memiliki kuasa duniawi dan menyenangi hal-hal duniawi pula. Ternyata pikiran semacam itu tidaklah benar. Dia adalah Raja Sejati, yang mendamaikan kita dengan Bapa dalam paskah-Nya. Yesus adalah Raja yang lahir dalam suasana penuh kesederhanaan di Bethlehem. Seorang Raja yang dilahirkan di dalam kandang dan bersahabat dengan ternak. Para raja dari Timur datang untuk menyembah Raja dari segala raja dalam kesederhanaan Bethlehem.

Peristiwa Bethlehem memiliki hubungannya dengann peristiwa Golgota. Dia adalah Raja yang menderita, wafat dan bangkit dengan mulia. Bagaimana Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Raja dari segala raja? Ia memiliki takhta yaitu salib yang terbuat dari kayu yang kasar. Ia memiliki mahkota sebagai Raja yang benar yaitu mahkota duri. Mahkotanya ini menusuk, melukai kepala-Nya sampai berdarah-darah. Ia sebagai Raja yang wafat tidak berbusana di atas kayu salib. Betapa hinanya sang Raja kita padahal Dialah yang sulung di antara kita. Dialah Raja kita karena segala sesuatu diciptakan oleh dan untuk Dia.

Tuhan Yesus adalah Raja yang tidak hanya mengalami kekerasan fisik tetapi juga kekerasan verbal. Para pemimpin menyakiti-Nya dengan kata-kata: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” (Luk 23:35). Para prajurit melakukan kekerasan verbal berupa olokan-olokan ini: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” (Luk 23:37) bahkan ada tulisan di atas kepala-Nya: “Inilah Raja orang Yahudi” (Luk 23:38). Seorang penjahat juga ikut mengolok sang Raja kita: “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!” (Luk 23:39). Kekerasan-kekerasan fisik dan verbal diarahkan kepada-Nya. Namun Dia tetaplah Raja yang menerima segala sesuatu.

Apa yang harus kita lakukan di hadapan sang Raja semesta alam? Kita perlu sadar diri dan bertobat. Seorang penjahat sekalipun bertobat di hadirat Tuhan Yesus sehingga surga menjadi miliknya juga. Kita berdoa kepada Tuhan Yesus: “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk 23:42). Dia akan menjawab kita sebagai Raja penuh kasih: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Luk 23:43). Luar biasa Raja kita yang penuh dengan kerahiman. Dialah yang mendamaikan kita dengan Bapa di surga. Terima kasih Raja Damai, Yesus Kristus Raja semesta alam.

PJ-SDB

Leave a Reply

Leave a Reply